
Nyalang. Hanum tak lagi bisa berkata apapun.
Hatinya terasa sakit ketika mendengar ada suara wanita lain yang malah mengangkat ponsel milik Danill.
"Maafkan aku, tapi sepertinya Danill akan menginap di rumah ku malam ini. Dia sedikit __ kelelahan."
Suara wanita itu terus saja terngiang di telinganya. Entah kenapa ia merasa marah dan tak terima ketika tahu bahwa Danill malah bermalam di tempat wanita lain dan meninggalkan ia sendirian di rumah bersama dengan Ivana. Kenapa?
...----------------...
Duduk diam di depan cermin rias, wajah cantiknya terlihat masam tanpa gurat senyum yang terpatri di bibirnya. Matanya sayu dan juga terlihat lelah.
Semalaman ia terjaga, menekuri ponsel yang tergeletak di atas meja, menunggu barangkali Danill akan menghubunginya lagi dan memberikan sebuah penjelasan kepadanya.
Namun sayang, harapnya itu tak terjadi, bahkan hingga matahari sudah meninggi seperti saat ini saja pria itu juga belum kembali.
"Kau terlihat menyedihkan!" ucapnya seraya menunjuk pantulan dirinya sendiri di cermin.
Sudut bibirnya terangkat, ia tersenyum. Senyum yang mengandung banyak luka dan juga kepedihan.
Entah kenapa sejak dulu ia selalu saja berkaitan dengan pria-pria yang memiliki banyak wanita, para pria yang tak pernah memiliki rasa puas dengan satu wanita, dan menjadikan wanita lain sebagai pengganti ketika suatu hubungan yang terjalin resmi itu mulai goyah oleh suatu masalah. Kenapa, kenapa harus dia yang selalu menjadi korbannya?
Menepiskan semua hal yang membuat hatinya terus bergolak dengan amarah, ia menggelengkan kepalanya seraya menggumamkan kata motivasi yang sama untuk beberapa kali. Berusaha menenangkan dirinya sendiri sembari menunggu hingga nanti Danill kembali. Ia butuh penjelasan dan bukannya sebuah prasangka tak pasti yang membuat dirinya terus meradang seperti saat ini.
...----------------...
Bergeming dalam kesunyian malam. Hanum terduduk sendiri di balkon kamarnya seraya
menyesap segelas wine yang mengalirkan sensasi hangat di tenggorokannya.
Segelas wine yang ia tenggak berulang kali dengan harapan segala sesak yang dipendamnya akan segera lenyap seiring kesadarannya yang perlahan mulai memudar.
Tiga hari sudah berlalu dan pria Rusia itu belum juga pulang atau bahkan dia sudah lupa jalan pulang dan melupakan keberadaannya di sini.
Cih!
Hanum mengurut pelipisnya yang terasa berdenyut. Kepalanya terasa berat dan hatinya masih terasa sakit. Bahkan lebih sakit dari sebelumnya.
Dan ia tak menyangka bahwa hilangnya kelembutan dan kesetiaan yang dimiliki oleh pria itu akan membuat hatinya sehancur ini __ seperti dulu ketika Reynand juga menorehkan luka yang sama di hatinya.
Terhuyung-huyung ia melangkah gontai menuju tempat tidurnya. Sesekali jemarinya meraba-raba benda apapun yang dapat ia raih, benda yang dapat menopang tubuhnya tetap berdiri dan tak membuatnya terjerembab ke lantai.
"Seperti inikah yang kau lakukan ketika aku tidak berada di rumah?" suara berat itu sayup-sayup terdengar oleh telinga Hanum.
Hanum hanya menjawab dengan gumaman yang diiringi dengan tawa.
Sedangkan matanya tak lagi bisa melihat siapa gerangan yang sedang memarahinya __ karena sejujurnya ia tak peduli.
...----------------...
Sepercik air yang terciprat di wajahnya membuat kesadaran Hanum seketika kembali. Kepalanya terasa sakit dan emosinya langsung meninggi ketika mendapati Danill yang menatapnya dengan tatapan acuh tanpa rasa bersalah.
"Tidak kah kau ingin menjelaskan sesuatu?" Hanum beranjak dari tempat tidurnya, langkahnya kasar menghindari Danill yang kian membuatnya muak.
Pria itu bergeming, namun ekspresi wajahnya berbicara lain. Rahangnya mengeras sedang jemarinya mengepal, "beginikah kegiatan mu setiap hari di rumah? Apa kau selalu saja mabuk-mabukan, apa seperti ini contoh ibu yang baik untuk Ivana? Apakah seperti ini?!" Danill menyentak tangan Hanum, hingga membuat wanita itu berbalik menghadap dirinya. Nampak kilatan matanya yang tak lagi bisa menyembunyikan segala amarah yang kian membuncah.
Memejamkan matanya sesaat, Hanum mengembuskan napasnya kasar sebelum nantinya ia akan meluapkan segala sesuatu yang ia pendam beberapa hari ini terhadap pria itu. Ia lelah, lelah dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan kedustaan dan juga cinta palsu.
"Cih! Jangan berbicara seolah-olah kau adalah contoh ayah yang baik sedangkan aku adalah sosok ibu yang buruk untuk putriku, Danill. Camkan itu!
Kemana saja kau, ketika Ivana sakit? Kemana saja kau yang bahkan lebih sering pergi keluar rumah tanpa meninggalkan kabar untuk kami? Siapa yang seringkali mengacuhkan anaknya, yang lebih senang berkeliaran di luar rumah dan melupakan tanggung jawabnya? Siapa?!" Hanum menunjuk wajah Danill dengan wajah merah padam. Napasnya memburu sedang netranya memanas. Ia menangis.
"A-aku sibuk. Banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan di ...."
"Sibuk? Ck, ck, ck.
Sibuk bermain dengan perempuan lain, sibuk menginap di rumah wanita itu dan membiarkan anakmu terus saja meraung memanggil namamu? Pikirkan segala cacat yang kau lakukan, sebelum kau menghardik ku dengan tuduhan sialan mu itu!"
Hanum menghempaskan cekalan tangan Danill dari lengannya.
Ia keluar dari ruangan itu dan segera membanting pintu dengan kasar.