Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Pedih.



Tirai-tirai masih tertutup rapat, seolah tiada celah untuk secercah cahaya mentari menelusup dalam ruangan itu.


Ruang kamar yang gelap nan sunyi dipenuhi dengan bau nikotin yang menguar pekat.


Ada beberapa botol wine yang berserakan di atas lantai, puntung-puntung rokok dan segala sesuatu yang tak tersusun rapi seperti biasanya.


Menekan handle pintu dengan perlahan, Dewi seketika menutup hidungnya rapat dengan menggunakan kerah bajunya.


Aroma nikotin serta minuman keras yang bercampur kuat itu membuat ia berusaha setengah mati untuk menahan batuk yang sudah sampai di ujung kerongkongan.


Sedih, dadanya terasa sesak ketika ia mendapati pemandangan yang ada di hadapannya.


Ruangan yang biasanya bersih, tertata rapi, dan juga wangi itu kini berubah menjadi kacau balau seperti tak pernah dibersihkan.


Barang-barang pecah, botol minuman yang berserak di mana-mana, serta keadaan suaminya yang terlihat begitu menyedihkan.


Pria itu terkulai lemas di atas sofa, wajahnya teramat kuyu dan raganya seolah tak lagi bernyawa.


Dewi hanya bisa menatap nyalang ketika mendapati seseorang yang amat ia sayangi itu kini berakhir dengan amat menyedihkan. Memberanikan dirinya, perlahan ia menjamahkan jemarinya untuk membelai lembut surai kecoklatan milik suaminya itu.


Sudah sejak lama ia ingin sekali membelai atau bahkan mengirup wangi aroma dari rambut Reynand, akan tetapi ia terlampau takut untuk melakukannya. Atau mungkin ia yang tak sanggup ketika nantinya Reynand akan menolaknya dengan keras atau bahkan menyuruhnya untuk pergi menjauh dari hadapannya.


Rambut yang biasanya selalu tersisir rapi itu kini terlihat sangat berantakan. Aromanya pun tak menguarkan wangi menenangkan seperti sebelumnya.


Dewi sedikit kecewa dengan hal itu.


Seolah pria itu bukan lagi seperti Reynand yang dulu.


Sosok laki-laki yang selama ini selalu menjaga penampilan di hadapannya, seorang yang penuh kharisma dan juga wibawa itu kini tumbang tak berdaya seperti itu saja di hadapannya.


Tercengang lagi, bola matanya serasa memanas ketika ia memerhatikan sesuatu yang ada dalam genggaman tangan Reynand. Jemari pria itu terasa basah oleh sisa aliran darah, sedang dalam genggamannya terdapat foto seorang wanita yang tak lagi tersampul dengan bingkai.


Wajahnya tak lagi terlihat, warnanya kabur tertimpa oleh noda merah. Namun Dewi tahu, tidak ada wanita yang mampu membuat suaminya sampai segila itu, kecuali Hanum.


Bersimpuh di lantai, Dewi memukul-mukul dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.


Kenapa suaminya begitu gila dengan seorang wanita yang bahkan sudah terbilang cukup lama meninggalkannya? Kenapa pria itu sampai hilang kontrol seperti ini? Padahal tahun-tahun sebelumnya pun Reynand tak pernah melampiaskan emosinya sampai segila itu. Atau mungkin sebenarnya Dewi lah yang tak tahu apapun mengenai keadaan suaminya?


Berderai air mata Dewi sesenggukan di samping suaminya. Jemarinya meremas pelan tangan Reynand.


Di usapkannya tangan pria itu ke pipinya, seolah Reynand sedang menghapus air matanya yang menganak sungai.


"Jangan nangis, Wi. Karena ini nggak akan mengurangi apapun! Jangan cengeng, kamu harus kuat," ucapnya lirih, menyemangati diri sendiri.


Dikecupnya lembut punggung tangan Reynand, Dewi masih menggenggam jemari itu dengan erat. Seolah ia tak mau jika momen itu segera berakhir.


Benar ini memang bukanlah suatu momen membahagiakan bagi dirinya. Ia juga ikut trenyuh ketika mendapati dengan kedua matanya sendiri bagaimana keadaan suaminya yang hancur seperti saat ini, ia tidak rela jika Reynand hanya terus saja bertahan dalam bayang ilusi masa lalu dan berpusat di dalamnya.


Satu tahun bukanlah waktu yang sebentar baginya, terlebih lagi hatinya yang seolah terus saja tergerus oleh kepiluan. Semuanya tak sesuai dengan ekspektasi awal, mimpi-mimpi indahnya berubah menjadi buruk berikut dengan alur kehidupan yang ia lalui.


Tidak ada cinta, puja, tawa dan kehangatan.


Hanya air mata, kebisuan, dan hubungan yang tak bisa lagi untuk di jabarkan.


Semua hancur, bukan menjadi khayal seperti yang ia mau tetapi malah berbalik menjadi derita yang tak ingin ia sudahi.


"Mas," bisiknya lirih. Dewi merapatkan wajahnya dekat dengan wajah Reynand. Embusan napas pria itu terirup cepat memenuhi indra penciumannya.


"Aku tahu, kamu pasti capek! Kamu bertahan dengan sesuatu yang nggak kamu inginkan. Aku tahu itu. Mungkin iya, aku tidak memanglah sebanding dengan, Mbak Hanum. Dia wanita yang cantik, seorang ibu yang penyayang, dan juga wanita yang membuatmu terkurung dalam imajinasimu sendiri sampai saat ini.


Aku tahu, ini tak akan mudah. Baik untukmu ataupun untukku. Kau teramat mencintainya, begitupun denganku yang juga sangat mencintaimu.


Tapi bedanya, aku tetap bertahan di sini denganmu, Mas. Sedangkan kau, ditinggalkan begitu saja oleh, Mbak Hanum." Dewi tertawa lirih, namun air matanya masih saja mengalir tak kunjung henti. Bibirnya melengkung ke bawah, terlihat bahwa ia juga sedang menguatkan diri.


"Jika seandainya saja, sedikit saja kau berkenan untuk membuka hatimu untukku, Mas. Mungkin ... kejadiannya tak perlu sampai sesuram ini. Kau bisa saja mencoba bahagia dengan hubungan yang kita jalin, memiliki seorang bayi yang lucu, dan hidup berbahagia seperti dia, mantan istrimu.


Tapi, kau terlalu sibuk dengan masa laluku yang sudah menjauh pergi. Kau hanya larut di dalamnya dan mengacuhkan aku.


Hah ...!


Ini terlalu kejam buatku, Mas. Aku hanya ingin kau berbagi cinta dan kasihmu untukku. Sedikit saja, hanya sedikit! Apakah itu terlalu sulit bagimu?"


Dewi membungkam mulutnya rapat-rapat.


Isak tangisnya tak lagi dapat ia tahan lagi.


Semua ini adalah salahnya sendiri, andai saja ia tak terlampau serakah dan meminta lebih, mungkin saat ini ia masih bisa melihat suaminya itu tersenyum dengan bahagia dan bertutur kata lembut padanya. Meski bahagia itu berati tak bersama dengan dirinya. Andai, hanya andai.


Sekarang semuanya sudah terlanjur terjadi.


Cinta tak dapat ia miliki, kasih pun tak dapat ia bagi. Terlambat untuk mengembalikannya pada titik awal, karena Hanum pun sudah bahagia bersama pasangan barunya.


Sedangkan ia? Ia hanya merana, tinggal di atap yang sama namun tak bisa berbicara layaknya pasangan lainnya.


Ia tersiksa, derai air matanya tak terhitung lagi sudah berapa kali tertumpah.


Ia hanya menyiksa dirinya sendiri, perlahan namun pasti, mengharap adanya pelangi yang muncul setelah badai menerjang.


Namun ia tak mengetahui, bahwa badai itu belum tentu akan segera berakhir. Masih ada banyak liku yang mungkin kedepannya akan menggerus hatinya lebih kuat lagi.


Menghancurkan keegosian diri dan menumbangkan segala khayal semu yang selalu membayangi.