
Semilir angin sore mengembuskan hawa sejuk, sedang dedaunan kering berterbangan tertiup angin.
Langit senja memancarkan cahaya kemerahan yang indah, dan akan lebih indah lagi jika seandainya orang yang ia cintai berada di sisinya saat ini.
Masih terduduk sendiri di halaman belakang rumahnya. Di atas ayunan kayu ditemani oleh cahaya lampu taman yang baru saja menyala terang.
Berbalut gaun santai warna hijau tosca, dengan kancing di bagian depan disertai dengan motif renda warna putih.
Dewi terlihat menawan tatkala menggunakan model gaun berpotongan di bawah lutut kala itu. Sedang rambutnya ia biarkan tergerai begitu saja, tanpa adanya penutup kepala yang biasa ia kenakan.
..."Bukankah katamu aku harus menjadi seperti 'Dia', agar kau bisa bahagia, Rey? Jika memang hanya itu satu-satunya cara, maka biarkanlah aku mencoba untuk terakhir kalinya!"...
Terhitung sudah tiga hari berselang semenjak perbincangannya dengan Reynand yang menguras air mata kemarin lusa.
Saat ini Dewi memilih untuk lebih banyak diam, tak lagi sibuk menanyakan kabar ataupun keberadaan Reynand yang tak kunjung juga pulang.
Kesendirian yang seperti ini seolah sudah mendarah daging dalam dirinya.
Tidak sekarang, tidak pula dulu, ia masih menikmati kesendiriannya itu tanpa keluh.
Percuma saja jika ia mengeluh, toh pada dasarnya tak akan ada yang berubah dalam kehidupannya jika ia hanya bisa menghela napas lelah tanpa melakukan sesuatu yang dapat merubah jalan hidupnya.
..."Aku yang memujamu sampai seperti ini, dan selalu menangisi perasaanku sendiri. Apakah kelak masih bisa bahagia jika aku berhasil melepaskan diri dari ikatan terkutuk ini? Pergi darimu dan menjauh sebisaku?"...
Dewi menitikkan air matanya, seraya meresapi setiap inci rasa yang perlahan mulai terpatahkan.
Ia cinta, tapi ia juga menyadari bahwa apa yang ia pertahankan selama ini tidaklah berbuah apapun selain rasa sakit hati yang kian mendorongnya pada kehancuran mentalnya sendiri.
"Aku lelah, Rey! Sungguh, bisakah jika sehari saja kita lalui hubungan ini dengan baik-baik saja, tanpa adanya amarah yang terpercik di antara kita!"
...----------------...
Hari kian gelap, hawa dingin berembus menusuk kulit, sedangkan awan hitam sudah berjajar rapi di atas sana bersiap menumpahkan air untuk menyirami bumi.
Reynand baru saja tiba di rumahnya.
Berbalut pakaian rapi yang menguarkan aroma wangi, pria itu melenggang tenang memasuki hunian yang tiga hari ini sempat ia lupakan.
Ia memilih pergi karena ia tak ingin terus-menerus menyakiti wanita itu dengan kata-kata pedas yang selalu keluar dari mulutnya. Padahal tak sedikitpun terlintas dalam benaknya bahwa semuanya akan menjadi serumit ini.
Mengendarkan pandangan ke sana ke mari, mencari sosok Dewi yang belum ia lihat sejak ia tiba di rumah ini. "Kemana dia pergi?" batinnya seraya mengayunkan langkahnya lagi.
Ia terpaku di tepian jendela sembari memandangi seorang wanita yang sedang termenung di bawah rintik gerimis hujan.
Entah kenapa meski tubuhnya sudah kuyup wanita itu tetap bergeming akan hujan yang berjatuhan.
"Apa yang kau lakukan di sini, ha?" tanyanya cemas.
Tangannya terulur seraya menggenggam sebuah payung yang memayungi mereka berdua dari guyuran hujan.
"Kau, sudah pulang?" tanya Dewi lirih, tanpa mendongakkan kepala.
Ekspresinya datar, sedang matanya terlihat sembab bekas tangisan.
"Masuklah! Kita bicara di dalam," ujarnya seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Terdiam. Dewi masih bergeming di atas ayunan kayu itu. Netranya mengendar, melihat curah hujan yang turun berjatuhan.
"Apa kau suka dengan penampilan ku yang seperti ini, Rey?" tanyanya lirih.
"Aku ti ...."
"Aku tahu! Maka dari itu kau memintaku untuk menjadi seperti Mbak Hanum, bukan?"
Hening untuk beberapa saat, Reynand masih mematung di sisi Dewi, sesekali ia mendengar wanita itu menghela napas lelah. Rambutnya yang tergerai, bajunya yang berbeda, membuat hatinya berdenyut nyeri.
"Bukan seperti ini yang aku inginkan, Wi!" ujarnya seraya menghela napas berat.
"Aku tidak ingin kau berpenampilan seperti ini, dan aku tahu betul kau pasti tidak nyaman dengan sesuatu yang tidak pernah kau kenakan, bukan? Baju itu, rambutmu, jujur aku lebih suka jika kau menutupinya seperti kemarin."
"T-tapi ... bukan kah kau lebih suka yang seperti ini? Seperti mbak Hanum, katamu?" tanyanya yang seketika mengalihkan pandangan ke arah Reynand.
Pria itu menggeleng pelan, lalu senyumnya terukir tipis.
Entah kenapa ada kesedihan mendalam yang terpancar dari binar matanya itu, dan Dewi menyadarinya.
Binar mata yang biasanya memperlihatkan sorot mata yang tegas, kini menampilkan bias kesedihan, kehilangan, dan juga kerinduan.
"Maaf, karena aku ... kalian jadi berpisah!
Maaf, karena aku terlalu serakah untuk memiliki mu, Mas. Jika seandainya saja waktu itu aku sedikit menahan diri, mungkin kalian masih bersama hingga sekarang," sesalnya sembari menundukkan pandangan.
Menghela napas panjang, Reynand mengalihkan pandangannya ke awang-awang. Di langit sana entah kenapa bayangan wanita itu terlintas dalam kepalanya. Mengingatkan lagi pada ingatan masa lalunya yang sempat tersimpan rapat-rapat.
Gadis cantik itu, masa lalunya, dan kesakitan yang tak pernah bisa ia lupakan hingga saat ini.
Hingga akhirnya berujung pada sebuah pernikahan yang menyakitkan seperti ini.
"Setidaknya kau masih mampu bertahan, bukan? Setidaknya kau masih mau bertahan di sisiku meski dengan kesakitan yang kau rasakan selama ini. Ini bukan salahmu, Wi. Tapi salahku! Jika seandainya aku tidak serakah dengan masa lalu dan tergiur dengan kisah lama, mungkin kau tak akan semenderita ini.
Mungkin kau bisa bahagia dengan orang yang lebih baik dari pada aku, dan kau tidak perlu terluka, seperti ini," ujarnya seraya menggenggam tangan Dewi.
Diusapnya lembut pergelangan wanita itu, di sana terdapat luka yang sebagian besar diakibatkan karena perlakuannya.
Jika bukan karena dia yang terlalu menekan perasaan wanita itu, mungkin Dewi tak akan pernah senekat itu untuk memutus urat nadinya sendiri.
"Maaf, karena aku, kau menjalani kehidupan seperti ini. Seharusnya kau tak perlu susah payah melukai dirimu hanya demi pria seperti ku," ucapnya sendu.
Dewi termenung diam, bibirnya keluh tak sanggup berkata-kata.
Hanya air matanya saja yang terus berjatuhan, meresapi sesak yang menjalar dalam hatinya.
Kedua makhluk Tuhan berlainan jenis itu sedang tidak baik-baik saja. Air mata mereka tertumpah begitu saja tanpa ada lagi sesuatu yang dapat mereka sembunyikan lagi.
Malam itu, di bawah rintik hujan untuk pertama kalinya mereka berbicara tanpa emosi yang tersirat di dalamnya.
Bercerita panjang lebar mengenai kisah tersembunyi mereka, dimana ada sembilu terdalam yang pada akhirnya membuat Reynand menjatuhkan pilihannya pada Dewi.
Bukan karena ia cinta, tapi karena kisah di balik semuanya.
Dewi mengingatkannya pada masa lalunya.
Seorang gadis muda ceria, yang dulunya pernah ia janjikan dengan sebuah pernikahan.
Asmaranya yang terjalin dengan kesungguh kala itu pada akhirnya terputus begitu saja tanpa persetujuannya.
"Gadis itu bernama Yena. Dia meninggal ketika pertunangan kami sudah berada di depan mata."