Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Ada Apa?



Sudah hampir dua pekan berlalu, semenjak Danill pamit kembali ke Negaranya untuk mengurus beberapa kepentingan perusahaannya.


Tak seperti biasanya, ia pergi meninggalkan dirinya dan Ivana dalam tenggang waktu selama itu.


Biasanya tak lebih dari lima hari sudah pasti pria itu telah kembali dari Negara asalnya dan segera mengajak mereka untuk berlibur entah kemana sebagai pengganti waktu yang sempat ia gunakan untuk bepergian seorang diri ---- meski, itu untuk urusan bisnis sekalipun.


Memegang ponselnya erat-erat.


Ini sudah kesekian kalinya ia mencoba untuk menghubungi Danill. Akan tetapi masih tak ada jawaban. Entah pria itu yang belum bangun atau memang ponselnya mati ---- ia tak tahu.


Menangis tersedu-sedu, Ivana terus saja rewel sejak tadi malam.


Entah apa yang membuat gadis mungil itu sedikit susah untuk diatasi, padahal suhu tubuhnya pun terbilang normal. Tidak demam dan juga tidak ada pemeriksaan apapun yang menandakan bahwa gadis itu tengah sakit.


"Sayang, Ivana mau Daddy, ya?" tanya Hanum seraya menimang gadis mungil itu. Akan tetapi, tak ada reaksi apapun yang ia dapati selain hanya tangis serta suara terbata Ivana yang memanggil-manggil Danill dengan kepayahan.


"Daddy, masih sibuk, sayang. Nanti ya,nanti Daddy pulang. Kita main lagi, Daddy gendong Ivana lagi. Ya, " jelasnya dengan gusar.


Terus menangis hingga gadis mungil itupun terlelap karena lelah. Hanum masih dengan sabar menggendong Ivana, meski bahunya sudah terasa kebas dan pegal.


Sesekali ia kembali menghubungi Danill, tapi masih saja tak ada siapapun yang menjawab panggilannya.


...----------------...


Berdecih lagi dan lagi, seraya mondar-mandir tak tentu arah Hanum masih berusaha untuk menghubungi Danill yang entah sedang melakukan apa di sana.


Sedangkan di sini ia kepayahan dengan Ivana yang terus saja merengek memanggil nama Danill dengan suara yang mulai serak.


Terus merengek seharian, sesekali tenang namun kemudian mulai lagi dengan hal serupa.


Hari ini Ivana benar-benar menguji kesabarannya sebagai seorang ibu serta membuat Haum pusing harus berbuat apa.


Sekali lagi, seraya berkacak pinggang ia kembali menghubungi Danill. Berharap ada yang menjawab panggilannya entah siapapun itu nanti ---- ia tak peduli.


Mendial berkali-kali, dan masih saja tak tersambung. Ia melemparkan ponselnya dengan kesal ke sembarang arah. "Sialan!"


Menekur seorang diri, seraya bersenandung lirih di samping box bayi Ivana. Hanum masih menunggui putrinya dengan sabar.


Suhu tubuh gadis mungil itu tiba-tiba saja naik dan membuat ia bertambah pusing lagi.


Demi apapun, Hanum benar-benar kecewa terhadap Danill. Seharian tak memberi kabar apapun dan dua pekan tak kunjung pulang, membuat ia bertanya-tanya gerangan apa yang dilakukan oleh pria itu di sana.


Padahal pria itu sudah berjanji akan segera kembali sebelum pesta perayaan ulang tahun Ivana yang ke dua di gelar.


Sedangkan lusa itu adalah hari H-nya.


"Ayolah, ini sudah kesekian kalinya aku menghubungi mu. Angkatlah!" gerutunya lirih.


Padahal ia sangat ingin memberitahu pada pria itu akan keadaan Ivana saat ini, putri kesayangannya yang selalu ia tanyakan di setiap jamnya.


Berdering lagi, kali ini Danill lah yang menghubungi Hanum.


Sontak saja ia segera menjawabnya, dan mengalihkannya pada panggilan video.


Terlihat lelah, dengan rambut yang acak-acakan serta kemejanya yang lusuh. Danill memaksakan senyumnya, "maaf ya, ponselku seharian ini mati," ujarnya yang hanya mendapat tatapan acuh dari Hanum.


Jelas bila wanita pujaannya itu masih kesal pada dirinya.


"Apakah putri kecilku sudah tidur?" tanyanya dengan sedikit menggoda. Berharap ada senyum tipis yang tertoreh di bibir wanita itu ---- seperti biasanya.


Menghela napas lelah, ia mencoba menekan emosinya hingga sampai pada titik dasar.


Tak ingin ribut perihal masalah komunikasi sesaat, akhirnya ia menjelaskan keadaan Ivana yang seharian rewel karena rindu pada Danill ---- Daddy-nya.


"Bukankah kau sudah berjanji akan segera pulang? Ini sudah dua pekan, mau sampai kapan kau akan menetap di sana dan membiarkan putrimu terus merengek memanggilmu, ha?" tanyanya dengan nada kecewa.


Sedangkan di sana Danill hanya mampu menundukkan kepala, pria itu tak berani untuk menatap mata Hanum meski hanya melalui ponsel yang menjadi penghubung diantara keduanya.


"Sesibuk apapun dirimu, bukankah Ivana adalah prioritas utama dalam hidupmu? Bukankah itu yang selalu kau katakan padaku semenjak Gadis mungil itu lahir? Lantas kenapa, sekarang setelah anak itu menjadikanmu sebagai sandaran, sebagai seorang yang selalu menghadirkan tawa dalam hidupnya, kau perlahan menjaga jarak mu dengannya? Apakah ia masih Ivana, darah daging mu yang selalu kau jadikan prioritas?


Ku rasa tidak lagi."


Menitikkan air matanya, Hanum pun menyudahi panggilan itu. Tak kuasa lagi bila harus berlama-lama menatap bola mata biru yang sedari tadi memancarkan kebimbangan. Entah kenapa ada sesak yang tiba-tiba menyentak relung dadanya, terhadir dan menimbulkan rancu yang meracuni pikirannya dengan segala prasangka.


"Segeralah kembali, karena masih ada kami di sini yang selalu merindu akan hadirmu."