Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Part Ivana sudah hadir, Guys




BISA DIBACA GRATIS. HADIR DI F I Z Z O. MASIH ON GOING.


Blurb:


Gimana sih rasanya jatuh cinta dengan seseorang yang usianya terpaut cukup jauh di atas kita?


Kisah ini dialami oleh seorang gadis bernama Ivana Lee. Gadis berdarah campuran Rusia-Indonesia itu sudah menjadi yatim piatu sejak usia dini. Kehilangan sosok ayah dalam hidupnya mungkin menjadi satu alasan kenapa dirinya selalu saja jatuh cinta dengan seorang pria yang jauh lebih dewasa di atasnya.


Akan tetapi sayang, cinta pertama yang selama ini sudah ia bayangkan keindahan romansanya itu harus kandas dengan cara menyakitkan. Ia ditolak mentah-mentah dan dikhianati dengan cara yang kejam. Sampai suatu waktu ketika ia sudah jenuh dengan euforia yang tak bisa mengentaskannya dari keputusasaan, keputusannya untuk mengakhiri hidup menjadi satu titik terang yang mengubah jalan hidupnya. Ia dipertemukan dengan seorang pria bernama Dhika Irfandi. Seorang duda anak dua dengan paras memesona. Akankah kelak Ivana bisa meluluhkan hati pria itu? Atau mungkinkah nantinya pesona Ivana mampu membuat Dhika jatuh cinta padanya? Nantikan kisahnya dan simak perjalanan cinta mereka.


...----------------...


Eps. 1


Sepucuk surat lama


"Untuk Ivana, putri paling cantik yang mama sayangi. Jika kau membaca surat ini, itu tandanya mama sudah tak lagi ada di sampingmu. Berapa usiamu sekarang? Apakah kau baik-baik saja? Dan apakah kau merindukan mama di sana?"


Ivana menghela napas panjang, dadanya terasa sesak seperti ditindih oleh banyak bebatuan. Ia menengadah menatap langit-langit, menghalau laju air mata yang sudah berada di ujung kelopak mata. Sekali lagi ia kembali gagal menjadi sosok gadis yang tegar. Ia yang biasanya terlihat ceria dan murah senyum mendadak bermuram durja setiap kali membaca sepenggal isi surat lama yang ia temukan di laci kamar milik mendiang mamanya.


"Biar mama tebak! Pasti saat ini putri mama sudah tumbuh dewasa. Punya rambut yang panjang, dan juga mata yang berbinar indah seperti milik mendiang papamu. Jika seandainya mama ada di sampingmu, mungkin saat ini mama akan menghujani wajahmu dengan banyak kecupan, agar kerinduan yang membelenggu hati mama ini lekas sirna dengan segera."


Berhenti sejenak, Ivana merasakan ada satu jeda yang cukup lama dari sepenggal surat yang ditulis oleh mamanya. Seolah wanita itu sedang menghela napas panjang seraya menghapus titik air matanya yang terus berderai. Jemarinya mengusap pelan permukaan kertas yang ada dalam genggamannya, mendapati adanya bekas air mata yang sudah mengering dengan noda berwarna kekuningan. Ia mendesis lirih, lalu kemudian melanjutkan membacanya lagi.


"Maafkan mama, Sayang. Kau tahu bahwa mama selalu mencintaimu. Mama menyayangimu lebih dari siapapun di dunia ini."


"Maafkan mama. Tapi, jika seandainya mama diberikan kesempatan lagi untuk mengulang hidup, mungkin mama juga akan tetap melakukan hal yang sama. Mama memang mencintaimu, tapi mama tidak akan bisa jika harus hidup tanpa papamu, Sayang. Mungkin ini terdengar konyol, bagaimana bisa seorang ibu memutuskan untuk pergi dari dunia dan meninggalkan anaknya yang masih balita hanya karena ditinggal mati oleh suaminya? Pasti selama ini kau terus-menerus memikirkan hal itu dalam kepalamu, bukan?"


Ivana tercekat, mamanya seolah tahu tentang apa yang ada di dalam pikirannya. Ia terdiam, lalu mengangguk kecil.


"Mama sudah menduganya. Tapi mama harap, kau tak membenci mama terlalu dalam, Sayang. Mama tahu keputusan yang mama ambil pasti benar-benar membuatmu terpuruk, hancur, dan kehilangan harapan untuk sebuah keluarga, bukan? Mama tahu itu. Tapi ... jika seandainya waktu itu mama memilih untuk bertahan pun, mama tak yakin bisa mengasuhmu dengan baik. Mama takut nantinya mama akan menyakitimu lebih dalam lagi. Bukankah sampai saat ini kau masih mengingatnya? Betapa bencinya mama saat melihatmu muncul tiba-tiba di ambang pintu kala itu?"


Ivana memalingkan wajahnya, menatap badan pintu warna putih lalu mematri tatapnya di sana. Ada seorang anak kecil yang berjalan lirih, ia berhenti di depan pintu seraya menatap kosong pada area ranjang yang ada di depan matanya. Ivana mengalihkan atensinya sejenak, berpaling ke arah ranjang dan mendapati sosok mamanya yang sedang terduduk di sana. Ia meringis, lalu lekas memundurkan langkah hingga kakinya sampai pada batas dinding. Netranya teralih lagi, menatap si gadis kecil yang kini sudah berkaca-kaca. "Ma," ucap gadis itu dengan suara bergetar. Tapi, mamanya sama sekali tak berbicara. Wanita itu hanya sekedar berpaling, mematri tatapnya pada Ivana untuk beberapa lama sebelum histeris kembali datang menyambutnya.


Ivana menutup mulutnya rapat-rapat, air matanya kembali membanjir saat melihat ilusi mamanya yang berteriak histeris memintanya untuk enyah saja dari hadapannya. Sedangkan gadis kecil itu masih tetap berdiri tegak di tempat semula. Ivana kecil, bayang-bayang masa lalunya yang terlihat menyedihkan. Gadis kecil itu tertunduk, menekuk lututnya seraya menyembunyikan kepalanya di atas tumpuan seraya mendengarkan racauan sang mama yang terdengar memilukan.


Memukul dadanya beberapa kali, Ivana menggelengkan kepala tak ingin melihat lagi kejadian masa silam yang timbul dalam kepalanya. Ia tak sanggup. Hatinya seperti tercabik lagi oleh kenangan lalu yang sudah sangat lama tak pernah lagi terlintas dalam ingatannya. Tapi sekarang, karena surat itu, dia jadi ingat semuanya. Ia ingat betapa menderitanya dirinya dan juga mamanya dulu. Mereka sama-sama tersiksa oleh keadaan, dan Ivana baru menyadari hal itu sekarang. "Dasar bocah bodoh!" ia bergumam lirih, lalu melanjutkan membaca paragraf terakhir dalam surat tersebut.


"Mama menyesal karena telah melimpahkan sebagian rasa sakit yang mama derita kepadamu. Membuat duniamu perlahan makin hancur karena perlakuan mama. Maaf atas segala perlakuan buruk mama terhadapmu, maaf atas pengasuhan mama yang tak terlalu baik, dan maaf atas keegoisan yang mama lakukan. Apapun itu, mama tetap menyayangimu. Doa mama, semoga kelak kau tidak memiliki kesempatan untuk mengecap rasa yang sama seperti yang mama alami dulu. Berbahagialah, dah jadilah perempuan paling tangguh yang tetap ceria. Salam rindu dari orang tua paling gagal. Kami mencintaimu."


Ivana memejamkan matanya sejenak, melepaskan derai terakhir dari kelopak matanya sebelum ia menarik napas dalam-dalam. Melenyapkan segala sesuatu yang selama ini menjadi beban dalam hatinya.


"Sudah berlalu lima belas tahun sejak mama memilih untuk pergi dan menyusul Daddy ke alam surga. Meninggalkanku dan terbebas dari kesakitan pilu yang terus mendera. Seperti permintaan mama, dari dulu aku memang tak pernah bisa membenci mama terlalu dalam. Terlebih saat mengingat lagi derita yang mama alami waktu itu. Sekarang aku baru mengerti bahwa kehilangan cinta dapat membuat orang menjadi gila. Seperti mama yang nyaris gila gara-gara kepergian daddy. Dan seperti mama yang memberanikan diri untuk mengakhiri hidup demi bisa berjumpa lagi dengan cinta sejati mama. Aku baru memahami deritanya, ma!" Ivana berucap sendu. Ia seolah sedang mencurahkan keresahan hatinya pada sang mama. Di dalam ruang kosong itu, ia membayangkan wanita yang telah melahirkannya itu hadir di sana dan sedang mengusap puncak kepalanya. Menguatkannya dengan senyuman tulus dan juga tatapan teduh.


Ia tersenyum, jemarinya mengusap pelan menelusuri tumpukan bantal yang dulunya pernah digunakan oleh mendiang sang mama sebelum wanita itu meregang nyawa. Warnanya masih sama, begitupun dengan aromanya yang sedikit terhalang oleh debu.


"Aku pulang, Ma. Aku kembali. Dan satu hal yang harus mama ketahui, aku juga menyayangi mama. Aku merindukan kalian," ucapnya seraya meletakkan kembali surat yang sebelumnya sempat ia baca itu ke dalam laci. Menaruhnya bersama dengan tumpukan album yang tempo hari sempat ia lihat juga isinya. Ia membawa langkahnya keluar, menutup badan pintu ruangan tersebut dan tak berniat memasukinya lagi. Terlalu larut dalam kenangan lama hanya membuat hatinya kian pilu. Dan hal itulah yang saat ini sedang ia hindari. Saat ini ia hanya menginginkan ketengan, lepas dari segala belenggu yang membuatnya merasa tercekik sampai untuk bernapas pun rasanya ia amat kepayahan.


Di sini, dalam ruang lingkup baru bersamaan dengan sirnanya kedukaan masa silam. Ivana yang terpuruk hatinya berniat kembali menata diri. Memulai hidup baru dengan nuasna yang baru, tanpa kehadiran orang-orang yang dahulu pernah merengkuhnya dengan segenap cinta lalu dengan mudahnya mendorongnya menjauh menggunakan penghianatan.