Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Jangan menangis.



..."Biarkan waktu berlalu, jarak membentang, dan rindu kian menggebu. Aku masih di sini, meski tak lagi bisa terlihat oleh kedua matamu."...


...----------------...


"Mungkin, saat kau melihat rekaman ini, aku sudah tiada lagi di sisimu dan melepaskan genggaman erat jemari kita. Aku tahu, apa yang ku lakukan saat ini tidak mengurangi apapun beban yang ada dalam hatimu, tapi ... aku berharap setidaknya kau bisa menghapus sedikit saja rasa sedih yang kau rasa karena akhirnya kita bisa bertemu lagi meski hanya secara virtual seperti saat ini."


Di sana, Danill terlihat begitu tenang dan juga tegar tatkala menyampaikan bait-bait kalimat penuh kerinduan yang terasa memilukan.


Pria itu sudah tahu bahwa tiada lagi waktu yang tersisa bagi dirinya, dan ia menyiapkan suatu hal yang dapat menjadi kenangan tersendiri bagi wanita yang amat dicintainya.


"Hanum, Sayangku. Terima kasih karena kau sudah berkenan hadir dalam kehidupanku yang singkat ini. Aku bahagia, terlebih lagi ketika Tuhan mempertemukan kita dalam ketidak sengajaan. Semua tentang mu, tentang kita, canda, tawa, amarah, dan juga tangismu. Ah ... bila mengingatnya lagi, entah kenapa membuatku semakin tak rela jika harus pergi jauh untuk waktu yang sangat lama.


Saat ini, aku tahu hatimu pasti sedang bergolak tak menentu, kau marah dan juga tak menerima takdir yang berlaku. Mungkin.


Sayang ... sungguh, jika aku bisa, aku ingin sekali duduk di sampingmu dan menghapus air matamu yang kini berderai.


Kalau boleh jujur, aku tidak suka ketika melihatmu menangis. Kau terlihat jelek ketika air matamu terjatuh, dan matamu yang sembab setelahnya, membuat hatiku terasa sakit."


Pria itu termenung sejenak, ia mengusap tepian matanya yang terasa memanas. Lalu kemudian ia tersenyum lagi.


"Kenapa kau selalu tersenyum seperti itu, ha?!" Hanum bertanya dengan nada marah, ia menundukkan wajahnya, meresapi pilu yang kian kuat merengkuhnya


"Aku tahu, ini sulit bagimu. Dan jujur aku juga tidak ingin berpisah dengan cara seperti ini. Lebih tepatnya aku tidak ingin jauh darimu, selamanya.


Aku kira semua prasangkaku selamanya akan bertahan seperti itu, khawatir dan rasa takut yang ku rasakan, ku pikir takkan bisa hilang. Tapi ternyata segala perasaan itu perlahan lenyap dari benakku, karena akhirnya aku sadar, bahwa Hanumku, kekasihku merupakan sosok wanita yang kuat dan juga tegar. Aku yakin Sayangku ini pasti bisa melalui ini semua."


Hanum terdiam, bibirnya terlalu kelu untuk mengucap kalimat bantahan. Akan tetapi hatinya terlalu berisik meneriakkan banyak sanggahan.


"Aku nggak sekuat itu, Nill. Aku nggak kuat ...." batinnya seraya memukul relung dadanya.


"Sayang ...." Pria itu memanggilnya lagi. Suaranya berat, namun wajahnya tetap berseri disertai dengan binar matanya yang terlihat bergetar dan juga jejak bening yang menggenang di dalamnya.


Hanum hanya membisu, membiarkan isaknya menggema dalam ruang kamar tak bercahaya.


"Aku, rindu!" ujarnya pilu, yang seketika membuat Hanum tertunduk lagi. Ia menumpahkan lagi segenap duka yang sepekan terakhir ini terasa mengekangnya dengan jerat yang kian mengikat.


"Aku juga! Aku juga rindu, Sayang!" ucapnya parau. "Tolong, kembalilah! Kembali setidaknya sebentar saja dalam mimpiku."


"Num, walau apapun yang terjadi, aku harap kau selalu bahagia. Jangan hilangkan senyuman menawan yang selalu disukai oleh orang-orang. Jangan juga terlalu terpuruk dalam keadaan, tidak akan ada yang berubah jika kau mengurung diri dalam kesendirian seperti saat ini," ucap pria itu seolah ia sudah tahu bahwa wanita yang ia cintai itu pasti sedang melakukannya.


"Hiduplah seperti sedia kala dan kembali menjadi dirimu sendiri. Wanita yang bebas, berani, dan juga memesona.


Aku ingin melihat kau menjadi sosokmu yang dulu. Dulu sekali, sebelum kau dan aku menjadi kita. Aku ... mencintaimu, ketahuilah rasa itu akan tetap bertahan selamanya."


Selesai, rekaman video itu telah usai. Tiada lagi senyuman, dan juga kalimat penuh kerinduan yang terucap lagi.


Hanum memejamkan matanya rapat-rapat, meresapi desir pilu yang menghujam perih dalam hatinya.


Kini tinggallah ia seorang diri, dan wanita itu tak menyukai keadaan yang ada.


Di sini, dalam ruangan yang dulunya sering mereka jadikan sebagai tempat untuk duduk berdua, bercerita, dan bercinta. Dulu, dalam ruangan itu, di setiap sudutnya pernah menjadi saksi akan kebersamaan yang terjalin di antara keduanya. Nuansa yang ceria, suara tawa dan juga canda yang dulu pernah ia rasakan itu kini seolah kembali berisik terdengar di telinganya.


Membuat ia terkesiap seraya menutup rapat kedua telinganya rapat-rapat.


Seolah menjadi tuli untuk saat ini bukanlah satu pilihan buruk bagi dirinya.


Namun kini keadaannya telah berubah, berikut dengan suasana hati yang remuk redam dalam kubang kelukaan.


Hanum masih asik dalam dunianya sendiri, ia lebih senang menghabiskan waktu seorang diri dalam kegelapan. Kamar yang selalu terkunci dan tirai-titai yang tertutup tanpa cahaya, membuat ia kian tenggelam dalam ambang khayalan.


Kematian Danill seperti bom waktu yang sudah menghancurkan dunianya.


Pria itu seperti sumber cahaya yang membagi setitik sinar dalam kehidupannya.


Dan ketika pria itu pergi, maka sinarnya ikut raib seperti lilin yang padam tertiup embusan angin.


Seolah semua cahaya yang ada dalam kehidupannya lenyap, ikut terbawa bersama sang cahaya yang telah lebih dulu melepaskan pelukannya.


Hanum hanya bisa meringkuk dalam bekap nestapa. Tangisnya lirih, timbul tenggelam dalam palung khayalan penuh dengan kasih semu.


Tiada lagi harap baginya untuk bertahan, bahkan jika ia diberikan satu kesempatan untuk meminta, maka harapnya pun tetap sama.


"Tolong, ambil saja nyawaku sekarang juga. Dan segera sandingkan aku bersamanya dalam indahnya nirwana."