Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Pinta yang tak bisa ku tunaikan.



..."Jika aku diijinkan untuk meminta sesuatu....


...Maka aku akan meminta satu hal padamu....


...Mungkin ini akan terdengar tak masuk akal, tetapi ... aku harap kau tak akan keberatan untuk mengabulkannya....


...Demi diriku, yang suatu saat pasti pergi dari sisimu."...


...----------------...


Terkesan sedang bercanda dengan realita yang ada. Memekik dalam bisu lalu kemudian tersenyum tanpa beban. Terkadang ia juga mengemis dalam doa, meratap pilu agar pria yang dicintainya itu tetap tenang berada di sampingnya dan enggan untuk pergi meninggalkannya.


Lakon drama yang ia jalani seolah tak lagi memberatkan hatinya.


Sosoknya yang terlihat kuat, murah senyum dan juga ekspresi yang menggambarkan kebahagiaan itu seolah terlukis nyata dalam dirinya. Tanpa tahu ada banyak luka tak kasat mata yang telah menghujam dalam dadanya, menggores pedih yang tak bisa ia curahkan pada siapapun di luaran sana.


Masih di ruangan serba putih, dengan bau desinfektan yang menyengat indra penciuman.


Hanum terduduk di tepi ranjang pesakitan seraya menggenggam jemari Danill dengan erat.


Pria itu kembali terbaring di sana seraya memejamkan mata dan mengerutkan keningnya.


Ekspresi penuh kesakitan itu tergambar jelas di wajah Danill, sedangkan Hanum hanya bisa terdiam seraya memaksakan senyuman.


Sebenarnya ini sudah kesekian kali terjadi, dan Hanum sudah sangat terbiasa dengan kondisi seperti saat ini.


Namun entah kenapa detik yang berlalu hari ini terasa begitu memilukan dan berjalan lambat.


Dia yang biasanya paling tegar, kini malah bergetar dihantui oleh kecemasan.


Merintih, suara itu terus bergema dalam telinganya. Memekik dalam lirih yang tersirat pada ekspresi wajah yang tak lagi bisa untuk ditutupi lagi.


Hanum menggenggam jemari Danill dengan lebih erat lagi.


Tangan pria itu terasa dingin dan juga basah oleh keringat. Berikut dengan bibirnya yang pucat serta wajah yang pasi.


"Semangat Daddy!" bisiknya di telinga pria itu.


Ia berusaha semaksimal mungkin untuk tidak meneteskan air matanya.


Meski jelas tergambar melalui suaranya yang bergetar, saat ini ia juga sedang berupaya untuk kuat ketika dihadapkan dengan derita yang sedang dialami oleh pria terkasihnya.


Hari ini semua yang terjadi berlaku tak seperti biasanya.


Dadanya yang terus saja berdebar, berikut dengan kelopak matanya yang serasa memanas. Keadaan itu kian menimbulkan berbagai prasangka yang menggiringnya pada suatu hal buruk. Seperti kejadian yang tak ingin ia alami.


Setitik air mata lolos dari pelupuk matanya, lalu jatuh tepat di pipi pria yang kini tengah memejamkan mata.


Hanum menutup bibirnya rapat-rapat, tak mau jika sampai isaknya itu terdengar oleh Danill.


Pria itu baru saja berisitirahat, wajahnya yang damai membuat ia tak tega jika sampai membuat pria itu kembali terjaga hanya karena sengguknya saja.


"Kau, menangis lagi, hm?" Danill yang baru saja terjaga itu lekas membelai wajah Hanum. Ia mengusap kelopak mata sembab itu dengan penuh kasih.


"Ku mohon, jangan lagi. Jangan seperti ini, karena tangismu membuatku kian tak berdaya.


Kemarilah! Aku akan memelukmu," ucapnya seraya menegakkan punggung.


Hanum terdiam untuk sejenak, meresapi setiap tutur kata yang tiba-tiba terdengar merdu mengalun di telinganya.


Ia merebahkan kepalanya di sana, tepat di paha Danill dan membiarkan pria itu mengusap surainya dengan mesra.


Hingga beberapa saat berlalu mereka masih bergeming dan menikmati keheningan itu tanpa suara. Hanya denting jam yang terdengar menggema dan suara detak jantung yang sama-sama berpacu tak menentu.


"Apa kau masih mengingatnya, mengenai permintaan yang sempat ku ucapkan tempo lalu?" tanyanya dengan nada lembut.


Hanum terdiam, lebih tepatnya ia tak mau untuk menjawabnya. Tak mau untuk membahas persoalan yang malah membuatnya kian histeris dan berakhir dengan tumpahnya keluh kesah yang tak berarti.


"Aku memintamu untuk tetap tegar berdiri di sampingku, tanpa tetes air mata yang nantinya malah menjadi beban bagiku tatkala hendak melepasmu. Aku mencintaimu, tapi aku juga tak ingin jika keadaanku yang seperti ini hanya membuatmu kian hancur secara perlahan-lahan. Aku mohon, untuk kali ini saja. Jangan menangisi orang seperti diriku."


Hanum memejamkan matanya sejenak, menata hati yang kembali tercabik oleh permohonan sialan yang terlontar dari bibir pria itu.


Ia tidak mau jika harus menutupinya lagi, sudah tiba saatnya untuk menyudahi segala sesuatu yang memang sedari awal tak mampu untuk ia lakukan. Ia menyerah!


"Berhenti meminta suatu hal yang sudah pasti tak bisa untuk ku lakukan, Danill!


Apa kau pikir semudah itu untuk mengendalikan emosi yang bahkan aku sendiri saja tak mau untuk mengalaminya? Apa kau pikir aku juga ingin bertindak semenyedihkan ini di depanmu? Tidak!


Karena aku juga ingin menjadi sosok wanita yang kuat di hadapanmu. Aku ingin terlihat tegar meski harus melihat keadaanmu yang seperti ini.


Apa kau tahu, dan apa kau memahami mengenai seberapa sulitnya aku bertahan dengan kesedihan ini? Dengan ketakutan yang setiap harinya silih berganti memenuhi pikiranku dengan bayang kematianmu?


Sungguh aku tidak berharap agar kau memahaminya, tapi aku meminta agar kau berhenti melarangku menangisi suatu hal yang berharga dalam hidupku.


Kau! Satu alasan kenapa setiap hari aku menangis, bahkan aku selalu meminta pada Tuhan agar Dia menukar derita kita.


Biar aku saja yang menderita, biar aku yang terkapar di sini, merintih menahan sakit asal bukan kau. Bukan dirimu seseorang yang berarti dalam hidupku.


Ku mohon, jangan lagi membuatku menahannya. Karena yang seperti ini malah membuatku kian menderita."