
..."Mengenangmu, menjadi satu pilihan terakhir yang terpaksa harusku ambil....
...Akan tetapi, mencintaimu adalah satu kemauan dari sekian banyak pilihan yang pernah tersedia dalam hidupku."...
...Hanum Salsabiela....
...----------------...
Mengenakan gaun tidur berwarna hijau tosca, dengan sweater rajut berukuran besar yang mengalung di lehernya.
Sesekali ia mengirup sisa aroma yang masih tertinggal pada pakaian terakhir yang pernah dikenakan oleh Danill. Wangi aroma khas yang mampu menenangkan gejolak hatinya yang terkadang bergolak tak menentu.
Ia meratap, menangis dan terkadang mengigau dalam tidurnya. Tidur yang tak pernah nyenyak tanpa sweater rajut milik Danill yang akhir-akhir ini sering ia gunakan untuk menutup mata dan mengantarkannya dalam alam mimpi yang berselimut dengan kegundahan.
Tak semudah yang diharapkan oleh orang-orang di sekitarnya. Kepergian Danill yang tanpa permisi dan meninggalkan Hanum tanpa persiapan matang membuat ia tak siap melalui segala hal yang akan terjadi di masa depan.
Tanpa pria itu, dan kini ia hidup dalam dunianya sendiri yang telah berubah menjadi abu-abu.
Tak ada siapapun yang dapat menjangkaunya. Hanya ia sendiri, dengan kesunyian dan bayang semu tentang sebatas rindu.
Menapaki undakan anak tangga, ia melangkah perlahan di tengah gelapnya malam. Ditemani sunyi dan juga denting jam yang terdengar nyaring berdenting di telinganya. Sesekali ia berhenti seraya mengusap pelan pergelangan tangannya sendiri, kulitnya terasa dingin, sama dinginnya seperti musim yang kini sedang ia lalui seorang diri.
Menghela napas panjang, ia memejamkan matanya sejenak sembari menikmati halusinasi yang berpendar lagi dalam kepalanya.
Di sana, ada wajah yang sangat ia rindukan.
Dalam imajinasi, pria itu menjelma dengan senyuman indah yang tertoreh di bibirnya.
Di sana, hanya dalam seberkas khayalan semu yang ia yakini sebagai sebuah kenyataan, ia dapat bertemu dengan seorang pria yang saat ini sangat ingin ia rengkuh dan rasanya tak ingin lagi untuk ia lepaskan.
"Ini beneran kamu kan, Sayang?" Hanum tersenyum lebar, sedang air matanya mengucur dengan derasnya. Ada banyak kata yang ingin ia ucapkan, dan masih ada banyak sekali rindu yang ingin ia sampaikan. Ia ingin merengkuh, memeluk, dan menciumnya. Menciumnya sampai pria itu memaksanya untuk berhenti.
Hanum masih mematung di tepi anak tangga, wajahnya mendongak seolah benar ia sedang berbicara dengan pria pujaan hatinya itu.
"Kamu kemana aja? Aku kangen," rengeknya manja seraya membelai wajah pria itu yang terasa lebih dingin dari biasanya.
Di matanya, ia melihat Danill sedang tersenyum lembut seperti biasanya.
Wajahnya yang damai dan binar matanya yang sedikit redup itu membuat ia kian tak tahan untuk menahan laju air matanya.
"Jangan menangis, ku mohon!"
"Aku janji tidak akan menangis lagi, asalkan kau selalu ada di sini. Bersamaku, ya! Ya?!" ujarnya dengan penuh harap.
Namun Danill hanya tersenyum, ia mengusap lembut pipi Hanum yang terlihat lebih tirus daripada biasanya.
"Aku selalu ada di sini, di sekitarmu, dan di dalam hatimu, selamanya. Tapi ku mohon, jangan seperti ini, ya!" ucap pria itu dengan nada parau.
Netranya berkaca-kaca, dan pada detik berikutnya air matanya pun ikut tertumpah juga.
Pria itu merengkuh Hanum dan membawanya dalam dekap dadanya, jemarinya terulur membelai surai wanita itu dengan sentuhan ringan dan lembut.
Ia menghadirkan kecupan lembut di kening wanita itu, syarat akan rindu yang tak lagi pantas untuk ia gaungkan dengan nada lantang.
Pria itu terdiam untuk sejenak, bibirnya sempat tersenyum getir sebelum akhirnya ia mengucapkan kata tak bermakna yang terkesan mendorong wanita itu agar sadar akan kenyataan yang ada di depan mata.
"Percayalah, kau bisa melalui ini semua meski tanpa diriku. Percayalah, keadaan ini akan segera berlalu, rindu perlahan akan memudar dan hadirku pada akhirnya akan terhapus oleh masa yang akan datang. Untuk saat ini, hanya sementara. Bertahanlah dengan duka, menangislah sampai engkau merasa lelah. Tapi setelah itu, ku mohon, jangan ada lagi air mata, jangan ada lagi kecewa dan kedukaan yang tersirat lagi dalam hati. Cukup untuk saat ini, dan kemudian kau bisa melupakannya.
Aku tak mengapa jika hanya hidup dalam bingkai masa lalumu. Karena bagiku, bahagiamu saat ini lebih penting daripada bahagiamu denganku di masa lalu.
Sadarlah, Num! Aku sudah tiada, ragaku pun tak lagi bisa untuk kau dekap lagi. Lantas apa gunanya jika kau terus menyiksa diri dengan cara seperti ini? Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri, dan mereka yang sedari awal sudah ada di sisimu untuk merangkul dan menguatkanmu. Jangan bersikap seperti ini, sungguh!" Bisiknya terdengar lirih, nadanya terkadang bergetar namun terkadang juga terdengar parau.
Hanum terdiam, bibirnya keluh dan hatinya seolah terkoyak oleh benda tajam tak kasat mata. Ia mendengarnya, dan kalimat itu membuat telinganya terasa sakit. Bukan hanya telinga, tapi hati dan juga kepalanya juga merasakan hal yang serupa.
Ia tertunduk, bibirnya tersenyum getir menanggapi kalimat bodoh yang baru saja ia dengar.
"Ini cuma mimpi kan? Kamu nggak mungkin serius ngomong gini sama aku, kan?!" Hanum berteriak histeris. Ia menutup telinganya rapat-rapat, derainya kembali tertumpah tatkala melihat sosok yang sempat berpendar dalam kepalanya tadi kini telah menghilang.
"Bohong! Kamu bohong, kan!"
Wanita itu terus meracau, air matanya membanjir dan emosinya kembali tak stabil.
"Aku nggak mau begini, aku nggak mau, Nill," rengeknya dengan iba.
Ia seolah memohon, namun kenyataan yang jelas terpampang di depan mata membuat ia terhempas lagi dalam kubang lara yang kian mencekam.
Hanum masih terisak, ia bukan lagi seorang Hanum dengan ciri khas senyuman lebar, bukan lagi seorang wanita yang cantik dan kharismatik.
Hanya ada luka, rindu dan juga sesak. Yang bila mana jika semua rasa yang saat ini ia miliki ia torehkan di atas kertas, maka kertas itu hanya akan berwujud coretan tinta hitam yang tak bisa terbaca ataupun dimengerti oleh insan manusia lainnya.
Kecuali mereka yang mengalami hal serupa seperti dirinya. Ditinggal pergi oleh seseorang yang teramat berharga, dan seseorang yang terampas dunianya dan tak lagi tahu kemana lagi ia harus berpijak.