Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Kecemburuan.



Bunyi suara sendok yang beradu dengan piring terdengar nyaring di telinga.


Hanum belum menyelesaikan sarapan paginya dan ia memilih pergi dari meja makan. Ia merasa muak dengan suasana yang ada di sekitarnya, terlebih lagi dengan hadirnya wanita asing yang juga ikut bergabung dengan mereka.


Memang wanita asing itu tidak berada dekat dengan dirinya maupun dekat dengan suaminya.


Namun ia merasa tidak nyaman bahkan amat terganggu dengan keadaan seperti itu.


Keadaan dimana ia harus berbagi ruang dengan orang lain, dan ia sangat tidak menyukai hal itu.


Sempat terbelenggu dalam kecamuk rindu yang menggetarkan jiwa dan kemudian ia seperti di hempaskan secara paksa dari rengkuh asmara yang baru saja berhasil di dapatnya. Ia terseok berupaya meneguhkan hati dan juga kesabarannya, lantas beginikah ujung kisah asmaranya?


Apakah harus ada orang lain lagi yang menjadi aral melintang dalam rumah tangga mereka?


Setelah ia berupa untuk menyisihkan keberadaan danill dari kehidupan rumah tangganya, dan kini muncul lagi satu wanita yang entah dari mana asalnya membuat semuanya kacau.


Ia tersisih, dan lebih parahnya lagi suaminya tak peduli akan hal itu.


Ia telah berusaha tegar menerima segala takdir yang kini seolah sedang menghukum dirinya, namun haruskah ia juga menderita karena menahan lara? siksanya hati ketika kecemburuan dan keegoisan seolah meleburkan semua rasa yang ada dalam hatinya.


Lantas apakah ia harus berdiam diri memendam segalanya dalam keheningan? lantas sampai kapan hal seperti ini akan selamanya ia pendam?


Sampai kapan ia mampu menanggung semua beban psikisnya seorang diri?


Ia hanyalah seorang wanita biasa, ia punya harga diri dan juga rasa ingin di hargai, di sayangi dan juga di mengerti.


Ia wanita normal, dan tidak mungkin ia tidak akan marah jika keberadaannya saja seolah tergeser secara perlahan oleh hadirnya wanita asing di dalam istana mereka.


Hening untuk waktu yang cukup lama.


Hanum hanya bisa terdiam di hadapan cermin kaca.


Di tatapnya pantulan bayang dirinya sendiri, wajah itu terlihat muram, bahkan lebih cenderung pada mimik menyedihkan antara marah dan juga menahan kepiluan.


Berdiam diri dengan kegundahan hati, tiba-tiba saja dalam benaknya itu terlintas oleh rupa wanita asing tadi. Membuat ia segera menggelengkan kepala menghilangkan segala angan dan juga pikiran buruk yang mulai menghantuinya.


Ia mulai berpikir berlebihan, paras wanita itu membuat ia terus membanding-bandingkan antara dirinya sendiri dengan sosok wanita itu.


Jelas mereka berdua adalah orang yang berbeda, baik dari gaya busana, cara bicara, dan juga banyak hal lain yang mungkin memunculkan lebih banyak perbedaan lagi di antara keduanya.


Hanum hanya bisa berdecih, kesal dengan sikap reynand yang masih keras kepala dan tak berupaya untuk membujuknya.


Bukan sesuatu yang berlebihan, dan tak perlu mengeluarkan materi juga di dalamnya.


Namun sepertinya harapnya terlampau tinggi, mana mungkin jika seorang pria yang sudah memiliki orang lain di sisinya akan merendahkan martabatnya hanya untuk meminta maaf kepadanya? siapa ia?


Bukankah ia hanya seorang istri yang telah di lupakan, atau malah hanya seorang istri yang terbuang karena sebuah kesalahpahaman?


Rumit dan juga tragis. Kisah hidupnya serasa terus berayun dan mulai berputar cepat tak dapat lagi untuk ia kendalikan. Haruskah ia yang harus memulai lagi? Akan tetapi hatinya sudah terlanjur mati ketika mendapati tiada satupun hasil dari segala upayanya untuk melembutkan hati suaminya itu.


Hanya keacuhan, ketidak pedulian dan juga hal-hal lain yang membuatnya kian terpuruk dalam kiat permohonan yang tak berujung dalam jurang kelam.


Begitu menyakitkan, seolah jiwa raganya terus tercabik tatkala reynand terus berupaya menjauh darinya lagi,dan lagi.


Pria itu terlalu kukuh dalam pendirian, seolah ia hanya ingin mengenyahkan dirinya dari hubungan itu tanpa harus mengucap satu kata yang berarti membawa mereka kepada gerbang awal perpisahan.


"Sampai kapan rey, sampai kapan kau akan menyiksa ku dengan semua drama konyol ini?!" teriaknya seraya menghamburkan segala benda-benda yang ada di hadapannya.


Ia meluapkan segalanya, melampiaskan seluruh emosi yang membebani hatinya hingga perlahan amarahnya mereda.


Pelukan hangat serta usapan lembut di pergelangan tangannya seketika membuat ia mematung dalam keheningan.


Menghilangkan segala amarah yang sempat menyelimuti dirinya dan menggantikannya dengan debaran rasa yang tak dapat di artikan olehnya.


Ia ingin marah, namun ia juga ingin bermanja.


Mengadu dan juga bergelayut mesra seperti sebelumnya.


Tetapi mengingat lagi akan keangkuhan sikap suaminya membuat ia mengurungkan segala inginnya untuk bermanja-manja itu sirna seketika.


Hanya helaan napas berat, seolah lelah dan segera ingin menuntaskan segalanya hingga usai.


Hanum menepis jemari itu dari pergelangan tangannya, wajahnya berpaling dan kemudian bertatap muka dengan sosok yang tak lain adalah suaminya itu.


Netranya mendongak, menatap lekat pada bola mata tegas suaminya.


Bibirnya menyunggingkan senyuman penuh ironi, dan ia pun mulai mengucapkan kata-katanya, "usaikan segera jika memang itu yang kau inginkan. Jangan siksa aku dengan segala sikapmu dan jangan pula terus hadirkan harap dalam rasaku.


Kau dengan segala perilaku mu itu membuat ku terus terpuruk dalam rasa bersalah.


Akhiri saja semuanya, kurasa kehadiranku memang tidaklah berharga dalam kehidupan mu."