Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Last episode. I Miss you, Mommy.



Menyenderkan kepalanya di tepian jendela, sesekali netranya memejam lalu kemudian terbuka lagi. Beberapa kali ia juga terdengar menghela napas. Napas yang teramat berat, seperti menyiratkan kehampaan di dalamnya.


Ivana, gadis itu memandangi suasana yang ada di lingkungan luar perumahan di mana ia tinggal.


Reynand, papanya memutuskan untuk mengajaknya pindah ke tempat itu agar supaya ia tak melulu kesepian, seperti saat ia berada di kediaman lama yang dulunya mereka tempati.


Tempat ia tinggal bersama dengan sang mama dulu.


Suasananya asri, terkadang riuh dan mendadak juga sepi. Sama seperti suasana hatinya yang seringkali berubah-ubah tatkala mengingat sesuatu yang berpendar dalam memori.


Ia menyukai keramaian, tapi tidak dengan nuansa hangat yang terjalin di antara mereka.


Ia meringis, bahkan sesekali ia menahan diri agar tak berdecak kesal ketika ia dihadapkan dengan banyaknya momen hangat yang terjadi di sekitarnya.


Ada banyak anak-anak seusianya yang berlarian kesana kemari. Tawa mereka pecah tatkala di belakangnya ada seorang ayah dan ibu yang berpura-pura mengejar mereka.


Seketika ia mengalihkan pandangannya, melihat keharmonisan seperti itu membuat hatinya dihinggapi rasa dengki.


Ia tidak menyukainya, tawa anak-anak itu mengusik telinganya dan membuat netranya terasa panas.


Memilih untuk lekas beranjak, ia tak tahan lagi jika harus menekuri rasa bahagia yang dimiliki oleh orang lain. Seolah mereka nyata sedang memamerkan sesuatu yang tak dimiliki olehnya.


Menyusuri jalan sepi, ditemani oleh awan mendung yang membingkai angkasa.


Gadis kecil itu menghentikan laju kakinya di sebuah taman bermain.


Lalu kemudian terduduk di salah satu ayunan kayu, seraya memeluk sebuah album photo dalam dekapannya.


Jemarinya yang mungil bergerak pelan hendak membuka sampul album berwarna merah.


Itu adalah hadiah terindah dari sang mama yang sampai saat ini selalu ia bawa kemana saja.


Lebih tepatnya, album itu berisi beberapa kenangan yang di bagian akhirnya ia tambahkan sendiri sesuai kemauannya.


Gemetar untuk sesaat, ia menghentikan lagi jemarinya yang baru saja menyibak satu halaman depan album tersebut.


Belum terlihat apapun di sana, hanya sampul depan yang terlihat kusut dan terdapat bekas air mata yang sudah mengering di atasnya.


Bekas air matanya yang sering kali terjatuh tatkala ia tak kuasa lagi untuk menyembunyikan segala macam perasaan yang terus merongrong dirinya agar tetap tegar.


Menghela napasnya lagi. Ivana mengalihkan pandangannya ke segala arah.


Tidak ada siapapun di sana. Karena sepertinya sebentar lagi akan turun hujan dan sudah menjadi hal wajar jika taman bermain yang biasanya ramai pun menjadi sesepi itu.


Hanya ada ia seorang diri, dan entah kenapa keadaan yang seperti itu mendadak membuat netranya menjadi berkaca-kaca.


Air matanya menggenang di pelupuk mata, pandangannya kabur terhalang oleh bulir air mata yang perlahan mulai berjatuhan.


Ia terisak, sembari memegangi dadanya yang berdenyut nyeri. Rasanya sakit. Sangat sakit sampai-sampai ia lelah menutupi segala sesak yang selama ini ia tahan.


"Kenapa? Kenapa semuanya ninggalin aku? Kenapa?!" teriaknya di tengah rintik hujan yang mengguyur bumi.


Lunglai langkah kakinya berjalan, ia meneduh di sebuah gazebo taman. Tubuhnya yang mungil itu menggigil kedinginan.


Ia terdiam, namun tidak dengan air matanya yang sedari tadi terus berjatuhan.


ia tidak sedang baik-baik saja.


Hatinya hancur, jiwanya dipenuhi oleh kerinduan. Ia tidak suka, ia membenci keadaan yang berlaku seperti itu.


Ia membenci semua senyuman orang lain yang tengah bahagia dengan keluarga mereka. Karena ia tak bisa seleluasa mereka, tak bisa sebahagia mereka.


Gadis itu kini seorang diri. Dulunya ia sempat bersyukur karena Tuhan mulai menata kembali keadaan yang semula tak baik-baik saja.


Namun ternyata, rasa bahagia yang belum lama ini kecap itu ternyata harus sirna, terampas secara tiba-tiba tatkala Tuhan memutuskan untuk memanggil mamanya berpulang lebih dulu kepangkuan-Nya.


Ia seperti dipermainkan, akalnya yang masih belum dewasa itu terasa sulit ketika dipaksa harus menerima segalanya.


Jangankan menerima, untuk sekedar mengerti saja rasanya ia tak mampu.


Ia kepayahan, payah menahan rindu dan memaksakan dirinya untuk selalu tersenyum dan berkata, "aku baik-baik saja, aku tidak apa-apa."


Padahal dari dalam lubuk hatinya ia sedang menjerit. Ia meronta dan memekik memanggil mommy dan Daddynya yang sudah tiada.


Kenapa takdir sekejam ini pada seorang gadis kecil? Bukankah Tuhan menyayangi semua umat-Nya? Lantas kenapa diusianya yang terbilang masih belia, ia harus menjadi seorang anak yang terampas kebahagiaannya?


Kenapa harus ia, dan bukannya mereka?


Ia menggigit bibirnya dengan kuat, rasa muak dan letih seperti yang ia alami saat ini sampai kapan kiranya akan berakhir?


Ia lelah meracau seorang diri, bersandar pada khayalan semu yang terang-terangan menghempaskan dirinya pada realita yang kian menyakitkan.


Ia tertunduk, bibirnya pucat berwarna kebiruan.


Ia masih bertahan di sana, menepi sejenak dari derasnya air hujan meski dalam keadaan kuyup dan gigil yang membuat bulu kuduknya meremang.


"Ma, Ivana kangen," ucapnya seraya membelai potret wajah wanita yang sedang tersenyum ceria menghadap kamera. Sedang dalam dekapannya ada seorang bayi kecil berusia tujuh bulan sedang menggenggam sebuah mainan. Bayi kecil yang cantik dan menggemaskan, begitu kata mama.


Selalu seperti ini, ia yang tak kuasa menahan tangisnya setiap kali jemarinya membuka halaman demi halaman potret kenangan peninggalan sang mama.


Hanya benda itu yang dirasanya berharga.


Karena sekarang, ia hanya bisa melihat rupa orang yang dicintainya, ia tak lagi bisa meraba, berbicara, atau bahkan mengecup pipi wanita itu meski dalam tidurnya.


"Kenapa rasanya sesakit ini, Tuhan?" tanyanya pada langit yang masih diselimuti awan hitam.


Mungkin ini alasannya, kenapa dulu sang mama begitu kesulitan untuk mengendalikan amarahnya tatkala pria yang sering dipanggilnya Daddy itu meninggal dunia.


Ternyata rasanya semenyakitkan ini.


Menyibak lagi halaman demi halaman selanjutnya.


Di sana, ia jumpai lagi potret wajah yang sama. Sebuah photo yang sampai saat ini sering kali membuat air matanya tumpah tanpa terkendali.


Di sana, ia dapati potret sang mama yang tengah terbaring tanpa daya di atas ranjang pesakitan. Wanita itu sedang menjalani perawatan demi dapat menunjang kehidupannya yang kata dokter tak ada kemungkinan besar baginya untuk terselamatkan.


Overdosis melantonin.


Dokter menjelaskan tentang kondisi yang saat ini sedang dialami oleh, Hanum.


Wanita itu mengalami overdosis melantonin dengan gejala yang berat.


Dan hal itu diperparah dengan penanganan yang sangat terlambat, lebih tepatnya tak ada siapapun yang tahu mengenai kapan pastinya kali terakhir wanita itu mengkonsumsi obat tidur sebelum akhirnya gejala tersebut timbul


"Ma," gadis kecil itu memanggilnya dengan nada iba. Suaranya terdengar serak dan sumbang.


Wanita itu nampak memaksakan senyumnya meski dengan kernyit yang kentara di bagian keningnya, ia tetap berusaha untuk terlihat baik-baik saja.


"Mama nggak apa-apa kok, Sayang," ucapnya terdengar lemah. Mungkin waktu itu ia sedang menahan rasa sakit, atau mungkin ia sedang bersusah payah menenangkan hati putrinya yang tengah mengkhawatirkan keadaannya di penghujung napasnya sendiri.


Ivana, gadis kecil itu hanya mengangguk. Ia tak pernah sekalipun beranjak dari sisi sang mama.


Ia selalu berdiam diri di sana, terdiam sembari mengamati setiap detik yang berlalu dengan banyaknya untaian doa yang ia panjatkan.


Berharap sang mama bisa kembali tersenyum dengan gurat yang berbeda.


Senyum ceria tanpa rasa sakit yang tercermin di wajahnya.


Benar, harapannya memang terjadi.


Mamanya tak lagi meringis menahan lara.


Senyumnya merekah, seolah segala macam pedih telah sirna dari kehidupannya.


Hanya ada bahagia, wajah yang berseri tanpa ada cela di balik parasnya.


Ia tertunduk, dalam bisu ia berjuang keras menguatkan hatinya tatkala genggaman jemari lentik itu tak lagi kuat mencengkram tangannya.


Ivana mendengus, sedang hatinya berkecamuk dengan segala rasa yang terasa sulit untuk ia lepaskan.


Tak ada air mata, tak ada sendu yang dapat ia perlihatkan.


Hanya ada ketidak percayaan yang tercermin dari wajahnya yang lugu.


"Aku harap ini hanya sekedar mimpi. Aku harap mama tak benar-benar pergi meninggalkanku sendirian."


Gadis itu meracau, seraya menatap nanar mimik wajah Reynand yang lebih dulu menumpahkan air matanya.


Pria itu meremas pelan bahu putrinya, menuturkan bait kalimat dengan nada terbata-bata.


"Ini cuma mimpi kan, pa?" Gadis itu bertanya dengan segala sisa keyakinan yang tersemat dalam kepalanya.


Walau sesungguhnya ia tahu, bahwa mamanya benar-benar sudah tiada.


Wanita itu telah pergi meninggalkannya.


Reynand menggeleng, "papa juga berharap semoga semua ini hanya mimpi, Sayang," ujarnya seraya memeluk tubuh Ivana.


Mereka berdua larut dalam kepedihan, menangisi sosok wanita yang memiliki arti penting dalam kehidupannya.


Saling bergetar dan merintih, mereka sama-sama berusaha untuk saling menguatkan.


Meski dengan rintih pedih dan derai air mata.


Semuanya telah berakhir, takdir telah memisahkan mereka.


Kisah asmara yang tak pernah usai, kini benar-benar berakhir tatkala wanita yang selama ini mengisi ruang hatinya itu telah berpulang pada pangkuan sang Maha Kuasa.


Meniggalkan mereka tanpa ada sedikit pun sesal yang terpatri pada mimik wajah yang kini telah berjumpa dengan damai.


The End.