Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Tak Sengaja Bertemu.



Hari ini, tepat tanggal sepuluh Mei pesta perayaan ulang tahun Ivana digelar.


Harusnya pesta itu berjalan meriah diwarnai dengan aneka warna balon serta pemotongan kue dan juga ragam hadiah.


Akan tetapi tak semeriah yang ada dalam segala rencananya.


Menetap di Rumah Sakit, membuat Hanum membatalkan seluruh pemasangan dekorasi yang telah dipersiapkannya untuk perayaan ulang tahun putrinya itu.


Hanya sebuah kue ulang tahun sederhana buatan tangannya sendiri yang ia hadiahkan untuk putri kecilnya.


"Cobalah, sayang," ucapnya seraya menyuapkan secuil kue dengan rasa strawberry itu ke mulut Ivana.


Gadis kecil itu tertawa senang, senyuman di wajah manis itu membuat hatinya berdenyut nyeri.


Kenapa di saat bahagia seperti ini kau malah jatuh sakit, Sayang?


Mengecup lembut kening Ivana, seraya menyelipkan jari telunjuknya pada genggaman Ivana. Hanum yang berusaha menyembunyikan kesedihannya itu menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk putrinya. Tentu saja hanya ia seorang diri di sana, tanpa ada Danill yang berada di sisinya yang menemani putrinya.


Bahkan kabar Ivana yang dirawat di rumah sakit pun tak membuat pria itu tergerak untuk segera kembali.


Bukankah, kau berjanji akan pulang?


...----------------...


Sementara itu, di sisi lain.


Sudah dua bulan berlalu, semenjak Reynand memperistri dirinya.


Dan selama itu pula syarat yang dulunya diajukan oleh pria itu padanya masih saja berlaku.


Reynand sama sekali tak menyentuhnya, bahkan tidurpun tak pernah di atas ranjang yang sama.


Tak ubahnya peranan dirinya yang lama, ia masih sama seperti para asisten rumah tangga lainnya.


Hanya saja saat ini ia memiliki status berbeda, yakni sebagai istri Reynand ___ meski hanya di atas kertas saja.


Menggebrak meja dengan kasar, Dewi menatap kesal pada banyaknya potret suaminya dengan Hanum yang masih tertata rapi di sebagian ruangan milik Reynand.


Wajah yang berseri, senyum yang merekah, serta tatapan penuh cinta dari mata suaminya itu membakar hatinya.


Kenapa kamu nggak bisa kayak gitu sama aku, mas? Kenapa?


Dewi menghempaskan seluruh potret romantis itu dengan membabi buta.


Ia marah, kecewa terhadap Reynand yang bahkan tak pernah mengusap lembut puncak kepalanya layaknya pasangan lainya.


Tak pernah tersenyum selembut itu padanya, dan tak pernah berinisiatif untuk menjangkaunya untuk lebih merapat pada segi yang lain.


Apa kurangnya aku, Mas? Apa?


Semuanya berhamburan, ada banyak serpihan kaca yang berserakan dimana.


Ruangan indah itu kini telah hancur, berikut dengan lembaran foto berharga milik Reynand yang juga ikut terkoyak.


Meraung dalam kesunyian, Dewi benar-benar telah jatuh dalam pilihan yang salah.


Ia berharap dengan berjalannya waktu maka Reynand akan melembutkan hatinya dan perlahan bisa mencintainya ___ layaknya cinta Reynand pada Hanum.


"Kamu brengsek, Mas!" Dewi menjerit menumpahkan makiannya dalam tangis kepiluan.


Ia telah terjerembab dalam kubang pengharapan.


Sedangkan yang ia harapkan selalu berada pada garis yang lurus, dan tak pernah sekalipun berpikir untuk mengalihkan tatanan hatinya yang telah terpaut untuk sang istri pertama.


Nyaris gila, Dewi yang teramat cinta dengan suaminya itu merasa gagal tatkala Reynand tak bergeming dengan segala sesuatu yang ia pakai untuk menggoda pria itu untuk naik ke sisi ranjang yang sama.


Terisak lirih, ia berusaha meraih ponsel yang ada dalam saku celananya.


Mencari kontak Reynand untuk segera ia hubungi, dan berharap semoga pria itu lekas kembali.


"Mas, kamu pulang sekarang, atau istrimu ini akan jadi mayat di sini!"


Serunya dengan lemah tatklata panggilan itu baru saja terhubung dengan Reynand. Ia sempat terkekeh sebelum kemudian kesadarannya benar-benar lenyap dari dirinya.


...----------------...


Terdiam di tepian ranjang pasien.


Reynand menopang kan dagunya, seraya memerhatikan Dewi yang belum juga tersadar.


Wanita itu menyayat pergelangan tangannya sendiri di berbagai sisi. Untunglah urat nadinya tak benar-benar putus atau jika tidak mungkin saja kini wanita itu hanya tinggal sebuah nama yang tertulis di atas nisan saja.


...----------------...


Mencari angin segar di luar Rumah Sakit guna menghibur Ivana yang terus saja murung sejak tadi.


Hanum ditemani dengan baby sitter Ivana membawa gadis mungil itu berjalan-jalan di sekeliling taman.


Melihat bunga-bunga indah untuk menghilangkan kejenuhan yang dirasa oleh gadis mungil itu.


Berceloteh riang, Ivana berhasil melegakan hati Hanum. Setidaknya putrinya itu tak lagi menangis dan terus saja rewel karena rasa sakit yang dideritanya.


Mau bagaimanapun tidak ada seorang ibu di dunia ini yang merasa bahagia jika melihat buah hatinya sedang sakit atau dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.


Seperti saat ini.


Meski wanita itu teramat lelah, meski ia kurang tidur sekalipun, Ivana tetap menjadi pokok utama dalam segala aspeknya ___ hanya Ivana.


...----------------...


Berada di tempat yang sama, tapi sama-sama tak mengetahui satu sama lainnya.


Reynand menekuri pekerjaannya dalam ketenangan.


Nuansa asri taman Rumah Sakit itu mampu membuatnya berpikir jernih dan tak lagi menyita kesadarannya untuk terus terfokus pada Dewi saja.


Ada banyak pekerjaannya yang tertunda hari ini akibat ulah Dewi. Belum lagi perjumpaannya dengan beberapa klien yang juga ikut batal karena upaya bunuh diri yang di lakukan oleh wanita itu.


Mengupayakan fokus pada banyaknya pekerjaan, tapi sepertinya tak kan bisa berhasil.


Sedari tadi suara tangisan anak kecil yang ada di belakangnya itu teramat menyiksa telinganya.


Oh, ayolah! Aku hanya ingin tenang.


Beranjak dari duduknya, Reynand menolehkan kepalanya ke belakang. Melihat siapa gerangan yang membiarkan seorang anak kecil terus saja menangis.


"Tidak kah kau membutuhkan permen?" ucapnya Seraya menepuk bahu seseorang yang ada di hadapannya.


Seraya memberikan sebuah lollipop berbentuk hati yang segera di ambil oleh sebuah tangan mungil. Dan seketika itu pula tangisnya ikut mereda.


Menolehkan kepalanya ke belakang, Hanum yang hendak mengucapkan terima kasih itu tiba-tiba membeku.


Manik mata mereka saling bersitatap.


Dua insan yang sama-sama memiliki rasa itu kini telah bertemu.


"Hanum!"


"Rey!" Panggil mereka nyaris bersamaan.