
..."Jika hari kemarin sempat terbubuh duka di dalam dada....
...Maka harapku untuk hari esok hanyalah ingin bisa merengkuh hari, di mana di dalamnya hanya ada tawa dan canda mu saja yang tersirat di setiap saat."...
...----------------...
Memeluk boneka teddy bear berukuran orang dewasa, Ivana terduduk sendiri di tepi jendela kamarnya.
Gadis kecil itu menempelkan keningnya rapat dengan kaca, membiarkan suhu dingin yang tertempel di sana menyatu dengan keningnya yang bersuhu sebaliknya.
Ia menatap kosong pada pemandangan luar rumahnya, tidak ada apapun yang terlihat spesial di matanya. Hanya ada hamparan salju putih yang menumpuk di halaman, tanpa ada lagi jejak kaki kecil dan jejak kaki orang dewasa yang tertapak di sana. Bahkan rasanya pemandangan itu kian suram saja tanpa kehadiran boneka salju dengan hidung wortel yang sering kali ia buat di tahun sebelumnya.
Gadis itu menghela napas panjang, sesekali ia juga mengantuk-antuk kan kepalanya lirih pada jendela kaca yang tak berdosa.
"Kamu kenapa, Sayang?" Kehadiran Reynand yang tiba-tiba membuat Ivana terjingkat, lalu kemudian ia segera menolehkan kepalanya pada arah sumber suara.
Gadis itu menggeleng, seraya tersenyum ia berujar kalau ia tidak apa-apa.
Reynand mengulas senyum tipis, dari kata tidak apa-apa yang terucap dari bibir gadis itu ia dapat menangkap gambaran keadaan yang lebih nyata melalui wajah mungil dengan sembab di area matanya.
Mengusap pipi gadis itu dengan lembut, ia menekuk lututnya agar bisa sejajar dengan tinggi tubuh gadis itu.
Reynand menatap manik indah yang kini sedang terpaku memandanginya.
Gadis itu masih terlalu dini untuk merasakan getirnya kehidupan, dan kehadirannya di sana sebagai satu-satunya orang dewasa yang masih memiliki kewarasan seutuhnya, membuat ia mau tak mau harus mengambil keputusan mengenai perkembangan mental anak tersebut kedepannya.
"Uncle tau, Ivana pasti lagi kangen sama Daddy, ya?" tanyanya dengan nada lembut, tanpa maksud menyakiti perasaan gadis itu.
Ivana sempat termenung, lalu dengan mata yang berkaca-kaca ia menganggukkan kepala.
Nadanya terdengar gusar, dan dengan terbata ia juga mengatakan kalau sebenarnya ia juga sangat merindukan mommy-nya.
Reynand mengusap kepala gadis mungil itu dengan sayang, sorot matanya yang teduh membuat hati gadis mungil itu sedikit menghangat karenanya.
"Hmm ... kalau ivana mau, Uncle nggak keberatan kok jadi daddy kedua buat Ivana.
Ya ... meskipun Uncle tahu, sayangnya Ivana buat daddy nggak bisa terbagi-bagi, Uncle nggak bakal kecewa kok. Karena dari dulu Uncle tuh pengen banget punya princess cantik kayak Ivana. Ivana mau ya, jadi princess-nya Uncle?"
Gadis itu termangu, menatap Reynand dengan ekspresi penuh tanya.
Mungkin ada beberapa kata yang belum ia mengerti, tapi ada sebagiannya lagi yang mampu ia pahami. Ia tersenyum, lalu memeluk Reynand dengan kedua tangannya.
"Ivana mau, mau kok, Uncle," ucapnya riang gembira.
Reynand terkesiap, lalu kemudian ia menangkupkan kedua tangan di pipi gadis kecil itu, "bukan uncle, tapi papa. Panggil papa," ujarnya setengah berharap.
Gadis itu sempat terhenyak, tapi tak berselang lama ia mengucapkan kata-kata yang dipinta oleh Reynand.
"Papa, papa Rey."
Ia menganggukkan kepala, "iya, benar begitu. Anak pintar."
Reynand tersenyum, binar matanya berkaca-kaca ketika mendengar panggilan itu tercetus dengan gamblang dari bibir gadis mungil itu.
Tidak ada keraguan yang terselip di setiap nada pelafalannya, hanya keyakinan dan secercah harap akan kebahagiaan yang tersirat dari paras gadis yang kini tak lagi menampakkan ekspresi ibanya.
Sekarang Reynand bisa sedikit menarik napas lega, setidaknya hadirnya di tempat itu masih ada gunanya. Satu masalah mengenai mental dan perkembangan Ivana sudah bisa untuk ia kendalikan, dan kini tinggal persoalan lain yang konteksnya lebih berat lagi.
Hanum, persolan wanita itu rasanya tak akan pernah tuntas jika ia hanya menggunakan metode seperti sebelumnya.
Bujuk rayu dan sedikit bumbu kebohongan pun tak lagi mempan terhadap wanita yang kini tak pernah beranjak dari dalam kamarnya.
Lingkup ruang yang sempit, dan tiadanya komunikasi yang terjalin di antara keduanya semakin membuat ia dan Hanum terpaut jarak yang kian membentang.
Sudah dua minggu berselang, tapi wanita itu masih saja enggan untuk bersosialisasi dengan orang lain.
Jangankan untuk bersosialisasi, bertatap muka dengan ia dan anaknya pun, rasanya Hanum tak sudi.
Entah kemana perginya pribadi wanita yang dulunya pernah ia sanjung tinggi, memang ia masih sama cantiknya seperti dulu, tapi ekspresi wajahnya yang mati serta cekungan di bawah matanya yang menghitam, menghadirkan sedikit hawa menakutkan jika sampai dilihat oleh anak-anak lain seusia Ivana.
Berdiri di ambang pintu tempat di mana Hanum mengurung dirinya, ia mengatur napasnya dengan tenang dan menanamkan sugesti dalam kepalanya agar nantinya ia tak terpancing emosi ketika dihadapkan dengan wanita itu.
Mungkin jika tempo hari lalu kehadirannya di dalam sana hanya di sambut dengan lemparan benda-benda seperti gelas ataupun bingkai kaca, mungkin kali ini ceritanya bisa sedikit berbeda.
Karena kali ini ia tidak sedang bercanda ataupun mengusulkan sesuatu tanpa rencana.
Ada sesuatu yang harus dibicarakan, menyangkut perkembangan Ivana, dan juga kesembuhan dari diri Hanum sendiri.
Tapi jika tidak bisa dibicarakan dengan baik-baik, maka tidak ada lagi toleransi yang akan Reynand berikan terhadap wanita itu.
Entah nantinya ia akan berteriak, meraung, atau bahkan jika ia memukuli Reynand pun, pria itu tetap akan bergeming dan melakukan rencana sesuai dengan keinginannya.
"Demi Ivana dan juga pemulihanmu, ku harap kau tidak banyak membangkang terhadap satu inginku."