Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Rindu.



"Mas, kamu kenapa sih nggak bisa meluangkan waktu sejenak aja buat aku? Aku juga pengen mas, ngabisin waktu berdua sama kamu, jalan-jalan, makan di luar. Nggak kayak gini!"


Seraya membanting tubuhnya ke sofa, Dewi dengan wajah kesal dan juga nada bicara yang bersungut-sungut itu terdengar mengeluh pada laki-laki yang ada dihadapannya itu.


Pria itu baru saja pulang dari tempat usahanya, wajahnya lesu dan fisiknya terlihat lelah.


"Ambilin aku minum dong, aku haus," pinta pria itu yang baru saja mendudukan diri di samping Dewi.


Seraya mendengus kesal, Dewipun akhirnya beranjak dari tempatnya. Kakinya menghentak keras sedang bibirnya tak berhenti meracau --- ia kesal.


"Nih," ucapnya seraya mengangsurkan segelas air putih berisi dua keping es batu di dalamnya.


"Kamu masak apa hari ini? Aku laper, mau makan."


Mendengar itu Dewi mendengus lagi, "aku hari ini nggak masak mas. Lagian ribet, kan cuma kita berdua ini. Laper ya tinggal beli di luar!" tukasnya dengan sengit.


Pria itu hanya bergeming. Setelah usai meneguk segelas air putih tadi, ia pun beranjak dari sana.


Seraya menggulung lengan kemejanya hingga kesiku, pria itu menoleh kearah Dewi. Memperhatikan gerik wanita itu yang tak lagi sama seperti dulu.


Wanita itu telah berubah drastis, bukan hanya tampilan bagian luarnya saja tapi seluruh perangainyapun juga ikut berubah.


"Kita dinner yuk, mas," rayunya manja seraya menempel pada lengan pria itu.


"Kamu lihat nggak kalau aku lagi capek? Aku baru pulang kerja, laper butuh makan! Kenapa kamu nggak masak sih?!" sarkas pria itu seraya melangkah pergi ke area dapur.


Ia hanya menemukan satu bungkus mie instan yang tersisa dalam laci dapur. Sebutir telur dalam kulkas dan juga sedikit sayuran yang tak lagi segar.


Dengan setengah hati ia pun memasak sendiri mie tersebut. Wajahnya tertekuk, ia kesal.


Alih-alih dilayani selepas pulang kerja, ia malah harus repot membuat makanannya sendiri, dan terlebih lagi itu hanyalah sebungkus mie instan yang apabila ia makanpun pastinya tak dapat menuntaskan rasa laparnya.


...----------------...


"Kamu ngapain sih, ngajakin aku kesini?" gerutu pria itu yang baru saja memasuki area perbelanjaan.


Hari ini Dewi sengaja memaksa pria itu untuk mengosongkan jadwal kerjanya demi untuk menemaninya pergi ke salah satu pusat perbelanjaan dimana ia sempat bertemu dengan Hanum kemarin lusa.


"Aku pengen makan di sini mas, kapan lagi kita bisa dinner kayak gini kan? Tau sendiri kamu sibuk, nggak ada waktu buat aku," ujarnya seraya mengeratkan rengkuhan lengannya.


Berdecih kesal, pria itu mau tak mau tetap membawa langkahnya mengikuti Dewi.


Dan tibalah mereka disalah satu restoran yang lumayan sepi oleh kehadiran pengunjung kala itu.


"Kamu mau pesen apa, mas?" seraya membuka lembaran buku menu, Dewi menawari suaminya yang masih berwajah muram itu.


"Apa aja, terserah! Toh kamu yang mau makan di sini kan!" jawabnya seraya mengalihkan fokusnya pada benda pipih yang ada ditangannya.


Hening hingga beberapa waktu.


Saling diam tanpa suara dan juga enggan untuk saling menatap satu sama lainnya.


Terfokus pada sajian hidangan, menikmatinya dengan tenang tanpa adanya satu ucap yang terlontar dari bibirnya.


...----------------...


"Konten, konten, konten terus! Sekali-kali kek kamu ngurusin aku, ngurusin rumah, masak.


Nggak cuma konten, belanja, ini itu, ngurusin hal nggak jelas lainnya.


Jadi perempuan yang berbakti sedikit bisa nggak sih?!" Gertaknya dengan tegas.


Lalu kemudian meninggalkan wanita itu di sana seorang diri.


Melangkah pergi tanpa menolehkan Kembali pada Dewi.


Pria itu merasa tak dihargai sebagai seorang suami. Hatinya serasa hancur tatkala segala pengorbanannya hanya berbuah ke sia-siaan.


Sudah susah payah ia bekerja, berangkat pagi pulang malam hanya demi memenuhi kebutuhan wanita itu.


Tapi apa balasan yang ia dapatkan?


Pagi hari sebelum ia berangkat kerja terkadang yang ia temui hanya semangkuk mie instan dan segelas teh hangat.


Pulang kerjapun terkadang ia tak menjumpai adanya hidangan rumahan.


Sekotak Pizza terkadang juga junk food yang telah dingin dan tak membangkitkan selera makanya.


Itupun harus ia sendiri yang memanaskannya di microwave.


Dewi terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, hingga ia lupa tanggung jawabnya sebagai seorang istri.


Hal itulah yang membuat pria itu merasa jengah dengan segala hal yang serasa kian membebani hidupnya.


Alih-alih bahagia, tapi malah nestapa yang kian merajalela.


...----------------...


Duduk diam di tengah keramaian.


Serasa memejamkan mata dan menghilangkan rasa kesalnya.


Pria itu termenung sejenak, lalu kemudian merogoh ponsel yang ada dalam saku celananya.


Ditatapnya gambar seorang wanita yang memakai gaun putih dengan renda-renda di dadanya.


Teramat cantik dengan senyum tipis yang tertoreh di bibirnya.


"Aku rindu, Num," ucapnya lirih seraya mengusap layar ponselnya.


Netranya nampak berbinar, menahan rindu yang tak bisa ia sampaikan pada sang pemilik rasa. Entah kapan tiba masanya ia bisa kembali berjumpa dengan wanita pujaannya itu.


Waktu telah lama berselang, dan ia malah terjebak dengan wanita lain yang merongrongnya dalam kenestapaan.