
Hening membentang sepanjang jalan menuju kediaman hanum.
Wanita itu memalingkan wajahnya menghadap kearah jendela, menghindari tatap muka dengan danill yang masih memfokuskan kemudinya pada area jalanan.
Mereka saling diam setelah pagi tadi sempat beradu argumen yang malah berujung pada meluapnya emosi hanum dan membuat wanita itu histeris.
Emosinya sempat membuncah mengeluarkan segala gundah yang selama ini di pendamnya dalam-dalam.
Ia marah pada dirinya sendiri, kecerobohannya yang tak bisa mengatur laju emosinya malah membuat semuanya kian runyam.
Terlebih lagi saat ini danill sudah mengetahui mengenai kehamilannya, dan pria itu bersikukuh mengklaim bahwa anak yang ada di dalam rahimnya adalah benih cinta dari pria itu.
*******
Isak tangis perlahan menjadi raungan kepedihan, sering perdebatan yang kian memanjang dan memaksanya untuk berucap kata jujur yang malah menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
Ia hanya bisa bersimpuh seraya tertunduk dalam buai kalut. Menyesali pengucapannya yang malah memantik hasrat danill yang kian membumbung tinggi untuk memilikinya.
Ia hanya diam, mendengar segala penuturan dari pria yang seolah terus meyakinkannya bahwa semuanya memang sudah di haruskan terjadi.
"Jika sudah begini, lantas kenapa kau tak melepaskan suami konyol mu itu dan beralih kepadaku, ha? tidak kau sadari bahwa sesungguhnya Tuhan memang menciptakan mu untuk bersanding dengan ku? kau dan aku di takdir kan untuk bersama, terlebih lagi saat ini kau juga sedang mengandung anakku. Sadar! buka matamu dan lihatlah keberadaan ku. Aku disini," ujar danill seraya mencengkeram erat lengan hanum. Memaksa wanita itu untuk mendongak dan menatap ke dalam matanya. Ada kesungguhan yang tergambar jelas dari bola mata biru yang dimiliki pria itu.
Namun hatinya serasa kukuh, terkunci dengan rantai tak kasat mata yang seolah membuat ia tetap teguh berdiri dalam keadaannya saat ini.
Hatinya telah di miliki, dan tak mungkin baginya untuk membagi sebuah rasa yang bahkan terasa tak mampu meyakinkan nalurinya sendiri. Mana mungkin bisa ia menghianati suaminya yang telah bersikap tuli dan buta terhadap segala keburukannya, menerima segala kekurangannya dan tetap memandangnya tinggi seolah hanya tinggal ia seorang lah satu-satunya wanita yang tersisa di atas muka bumi.
Lantas mana mungkin ia mampu untuk berpaling walaupun seandainya hatinya ingin?
Danill hanya mampu membisu, tertegun dengan segala kata yang di rasanya begitu tajam menyayat rongga dadanya.
Tubuhnya gemetar menahan golak amarah, ketidak terimaannya mengenai darah dagingnya sendiri yang bahkan tak di inginkan oleh ibu kandungnya, membuat nalurinya sebagai seorang pria yang telah menanamkan benihnya pada rahim wanita itu menjadi murka.
"Apa kau bermaksud untuk melenyapkannya? apa kau sudah gila, ha?!" danill meninggikan suaranya, membentak hanum dengan nada kemarahannya yang sudah membuncah.
Namun alih-alih nyalinya menjadi ciut, hanum malah seolah kian tertantang untuk beradu argumen panjang dengan pria Rusia di hadapannya itu. Semuanya sudah hancur, lantas apa lagi yang mampu di tutup-tutupi.
"Apa kau tuli, ha? aku tak pernah berpikir untuk mempertahankannya!" ulangnya dengan suara yang lebih lantang.
"Aku memang pernah mencoba untuk menggugurkan anak sialan ini. Lalu, apa kau pikir aku sebagai seorang wanita bersuami ini rela mengandung benih dari pria asing seperti mu, ha? jangan pernah mimpi terlalu tinggi Danill.
Kalaupun seandainya anak ini lahir dengan selamat pun, jangan harap akan ada secuil kasih sayangku yang akan tercurah padanya."
Danill hanya bisa menepi, perlahan melepaskan cengkeramannya dan menjaga jarak dari wanita di hadapannya itu. Situasi yang kian memanas membuat ia perlahan kembali menurunkan egonya dan memendam sejenak amarahnya dalam kebisuan.
Ia khawatir kemarahannya malah akan membangkitkan kebencian hanum terhadap janin yang ada dalam kandungannya, dan ia tak mau jika sampai wanita itu kembali berbuat nekat yang malah berujung pada penyesalan di suatu hari nanti.
"Tidakkah kau terlalu berlebihan? aku sudah pernah menawarkan diriku, bahkan berulang kali untuk sebuah tanggung jawab mengenai insiden kala itu. Tapi apa jawabanmu, kau terus saja mengacuhkan ku bahkan kau selalu memandang rendah niat tulus ku. Serendah itukah aku di matamu? tidakkah kau berpikir bahwa aku ini juga seorang pria yang memiliki naluri untuk mempertahankan harga diri?" danill menggelengkan kepalanya, seolah jengah dengan segala hal yang dirasanya sia-sia.
"Bersiaplah, aku akan mengantarmu pulang ke tempat suamimu," ujarnya seraya berlalu pergi, meninggalkan hanum yang masih memandanginya dengan penuh ironi.
"Kenapa tidak kau akhiri saja hidupku ini, dan kau bisa dengan leluasa memiliki darah dagingmu sendiri tanpa kehadiranku yang menjadi beban bagimu."