Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Seperti Maumu.



Mencoba bangkit dari keterpurukan. Menata hati yang sempat hancur oleh sebuah keputusan. Perpisahan kala itu membuat Reynand yang sudah mentas dari dunia lamanya itu kembali tenggelam dalam gemerlapnya dunia kelam.


Mereguk nikmatnya gairah dalam tangisan tersembunyi.


Ia mengalihkan semua sesal dan sakit hatinya pada mereka-mereka yang dirasanya pantas untuk dijadikan sebagai pelampiasan laranya.


Kegilaan itu terulang lagi sampai pada minggu-minggu berikutnya. Berangkat pagi, pulang pagi, bahkan pernah sampai dua hari pria itu tak menapakkan kakinya di rumah. Begitu seterusnya.


Kenyang dengan nikmat sementara, didera hangover parah setelah tersadar dari alam bawah sadarnya.


Ia tak menginginkannya, tapi hanya itu cara yang ia miliki untuk melupakan semua hal yang sudah berlaku dalam alur hidupnya.


Meski nyatanya ia tahu semua itu tak menghasilkan apapun kecuali sesal yang kian meradang.


Hatinya terasa mati, tak lagi peduli pada siapapun. Terlebih lagi dengan istrinya, Dewi.


Wanita itu sudah terlalu lelah untuk beradu argumen dengan sosok Reynand.


Hati dan harga dirinya seolah sirna jika ia dihadapkan dengan pria itu. Ibarat seorang pengemis yang meminta sedikit belas kasih dari suaminya sendiri, namun ia seolah tak pantas untuk mendapatkan itu. Meskipun sebenarnya ia sangat berharap adanya secercah kasih dari Reynand yang nantinya akan tercurah padanya.


Semuanya sia-sia.


Tiada kasih, kelembutan, cinta, tutur sapa apalagi sesuatu yang sering disebut dengan kata "mesra".


Itu semua hanyalah sebuah imajinasi yang berpendar dalam kepalanya sendiri.


Meski ia sudah mengabdikan seluruh hidupnya, memasrahkan jiwa dan raganya sekalipun pria itu tetap bergeming.


Dingin, ketus, bahkan sikap pria itu dirasa lebih parah lagi dari hari-hari sebelumnya. Tepatnya sebelum Hanum memutuskan secara sepihak hubungan mereka, dan pada akhirnya ia lah yang menerima ganjaran dari semua kejadian itu.


Seolah ia lah yang menjadi penyebab hancurnya cinta mereka.


Padahal saat ini ia juga sedang tidak baik-baik saja. Hatinya sakit, perasaannya hancur, mentalnya tertekan, dan harga dirinya yang sudah tak lagi ia miliki.


Namun begitu ia tetap bertahan.


Mengacuhkan hardikan, dan juga kemauan Reynand yang menuntut sebuah perpisahan daripadanya.


Ia tak mau, selamanya ia tak ingin berpisah dari pria yang ia cintai itu.


Meskipun nantinya ia juga tak akan mendapatkan cinta dari Reynand sekalipun atau hanya mendapatkan sakit hati seperti saat ini.


Ia tak mengapa, ia rela asalkan selamanya ada Reynand yang selalu mendampinginya.


Menjadi suaminya meski nyatanya tak pernah sekalipun mereka melakukan sesuatu yang lumrahnya dilakukan oleh pasangan suami istri pada umumnya.


Sibuk di pagi hari lalu kemudian terjaga lagi sampai pagi berikutnya demi menunggu kedatangan suaminya kembali. Namun yang ditunggu seolah tak peduli.


Hari-hari yang seperti itu terus terulang lagi dan lagi sampai batas sabarnya tak lagi bisa untuk ditolerir lagi.


Marah, sesak, sedih dan hancur, semua rasa itu rancu dalam hatinya.


Ia tak lagi bisa mengendalikan laju emosi yang dirasa sudah sampai pada batas akhir kemampuannya.


Derai air mata yang menganak sungai, mata sembab dan penampilannya yang berantakan. Dewi terpuruk dalam kepedihan dan lupa pada bahagianya sendiri.


Ia terlalu fokus pada obsesinya sendiri, cinta yang terlalu mendarah daging dan takut kehilangan seorang sandaran membuat ia berkahir seperti sekarang ini.


...----------------...


Meringkuk di atas karpet yang berada di ruang tengah, tubuh ringkih berbalut kain syar'i itu tergeletak di sana tanpa daya seraya memeluk lututnya sendiri tanpa adanya selimut yang membungkus tubuhnya.


Matanya terpejam karena lelah dengan tangis yang tak kunjung terhenti.


Tirai-tirai dalam hunian itupun masih tertutup rapat, menghalangi sinar matahari yang sudah menyingsing tinggi di luar sana.


Suara langkah kaki mengayun perlahan, suaranya samar bahkan nyaris tak terdengar.


Matanya yang merah, rambut acak-acakan, kemeja lusuh dan bau alkohol yang menyengat, semua melekat pada pria itu.


Reynand, pria itu baru saja pulang.


Terhitung sudah tiga hari ia pergi, tanpa kabar maupun sebuah pesan.


Ia rerlampau asik dengan dunianya sendiri dan lupa pada tanggung jawab yang seharusnya ia emban semenjak ia menjadi seorang suami.


Atau mungkin sebenarnya ia memang tak pernah peduli dengan tanggung jawab yang berkaitan dengan perempuan bernama, Dewi.


Acuh! Begitulah kiranya sikap Reynand ketika mendapati istrinya sedang terbaring di atas alas yang tipis. Ia hanya melihatnya sekilas tanpa inisiatif untuk membangunkan atau bahkan sekedar mengambilkan selimut untuk membungkus tubuh ringkih itu.


Ia tak mau, karena ia tak seperhatian itu pada seseorang yang kini sering disebutnya sebagai seorang benalu.


Setitik air mata pun lolos dari persembunyiannya. Dewi merintih tanpa suara ketika melihat betapa angkuhnya Reynand terhadap dirinya.


Bangkit perlahan-lahan, dengan setengah terhuyung ia menyusuri undakan tangga dan mulai mengikuti kemana arah suaminya itu pergi.


Pintu ruangan paling ujung yang berada di lantai atas, Dewi termenung di sana untuk beberapa saat.


Mengatur deru napasnya dan mempersiapkan bait kalimat yang akan ia utarakan pada suaminya itu.


Ia tahu mungkin ini tak akan berjalan mulus seperti sebelumnya, pasti ia lagi yang akan tersudut seperti hari-hari lalu, kalah dalam argumentasi dan berkahir dengan telak yang menghujam dalam hati.


Dewi mengembuskan napasnya pelan, memantapkan hati untuk masuk ke dalam sana tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Padahal ia tak pernah melakukan hal bodoh seperti itu sebelumnya, namun hari ini ia bukan lagi wanita yang ingin terus diinjak harga dirinya.


Ia ingin diakui, dimengerti, dan setidaknya dipahami. Hanya itu saja, apakah terlalu sulit?


Percuma saja jika ia dilimpahi dengan segudang materi, rumah tinggal yang mewah, bisa belanja apapun yang ia mau dengan uang yang diberikan oleh Reynand padanya. Namun hati dan perasaannya terus menerus dihancurkan hingga lebur tanpa sisa.


Sudah terlalu cukup baginya untuk bersabar dan menerima perlakuan suaminya itu dengan hati yang lapang. Semakin ia merendah semakin keras pula hantaman luka yang ia terima. Tak terhitung lagi seberapa sering ia menitikkan air mata, mendulang tangis dalam harap semu yang kian menyiksa.


Ia cinta namun juga tersiksa.


Memutar handle pintu dengan perlahan, ia menapakkan kakinya menyusuri ubin ruangan tersebut.


Sesekali ia mengedarkan pandangan ke kiri dan kanan, mengamati keberadaan Reynand yang belum ia lihat batang hidungnya.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


Suara berat itu membuat Dewi terjingkat dan sontak memundurkan tubuhnya.


Dengan terbata-bata ia kembali menyusun rangkaian kalimat yang tadinya hendak ia utarakan. Namun sayang hanya dengan melihat sorot mata dari pria itu saja membuat nyali dan semua kata yang sudah berada di ujung lidahnya tadi hilang entah kemana.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Pria itu mengulang lagi pertanyaan yang sama.


Ekspresinya dingin tanpa sedikitpun senyum yang tertoreh di bibirnya.


Menundukkan kepalanya tiba-tiba, entah kenapa pria itu memancarkan aura yang membuat dirinya merasa takut.


"A-aku ... eh, tidak! Maksudnya kita, bisakah jika kita bicara sebentar?" tanyanya dengan suara bergetar.


Membuka tirai kamarnya dengan perlahan, lalu kemudian ia membentangkan jendela-jendela yang tadinya masih tertutup rapat.


Reynand berdiri di sana, netranya memandang langit dan senyuman terukir tipis.


Ia terlihat menawan namun tidak dengan kesinisan yang jelas terlihat di matanya.


"Mau ngomong apa lagi sih, kamu? Jujur ya, aku capek! Pulang-pulang bukanya tenang malah ada aja yang dibikin masalah!"


Tertunduk. Dewi menelan begitu saja kata-kata yang baru saja dilontarkan oleh suaminya itu kepadanya. Jemarinya mengepal, melampiaskan sesak yang kian meremas relung dadanya. Sedang bola matanya sudah memanas merasakan sakit tak kasat mata yang lagi-lagi menggores hatinya.


Hening beberapa saat, lalu kemudian ia mengembuskan napasnya perlahan.


"Bukan cuma kamu yang capek di sini, Mas! Aku juga capek! Aku di sini selalu nungguin kamu pulang, dari pagi sampe pagi besoknya lagi.


Aku masakin kamu, berharap kalau kamu pulang ada makanan di meja makan.


Tapi apa? Kamu sama sekali nggak peduli kan?


Sebenarnya mau kamu itu apa sih, Mas?


Serius, aku capek kalau kamu begini terus!"


Mencibir dengan tawa lirih, Reynand yang harusnya bersimpati itu malah tertawa terbahak-bahak ketika melihat Dewi bersimpuh di hadapannya


"Yang nyuruh kamu nungguin aku itu siapa, ha?!


Aku nggak pernah nyuruh kamu untuk nunggu, dan kamu tahu betul aku nggak pernah ngomong begitu sama kamu, kan?


Kalau kamu tanya soal mau, Aku.


Bisa nggak sih misalkan kamu jadi perempuan yang nurut sama suami? Yang kalau aku ngomong kamu bakal denger?"


Mendongakkan kepalanya, Dewi menatap nanar mata tajam itu dengan derai air mata, "kapan aku nggak nurut sama kamu, Mas? Aku selalu nurut, tapi aku selalu salah di mata kamu. Kamu maunya aku gimana sih, Mas?" tanyanya dengan sesenggukan.


Mengikis jarak di antara keduanya, Reynand mendekatkan diri ke sisi Dewi.


Wanita itu masih sesenggukan seraya menundukkan kepalanya.


Di usapnya perlahan puncak kepala wanita itu, lalu ia berbisik lirih, "jika saja kau bisa menjadi seperti Hanum, maka aku berjanji akan memperlakukan mu selayaknya seorang istri.


Belajarlah menjadi seperti dia, yang bisa membuat ku sampai tergila-gila, yang bisa membuat ku luluh ketika aku sedang marah hanya dengan rayuan kecil, seperti Dia.


Belajarlah, Wi. Jika kau bisa melakukannya, mungkin hati ku yang sekeras batu ini akan melunak padamu suatu saat nanti."