
Entah apa yang terjadi kala itu hingga Reynand sampai terbesit pikiran untuk menikahi Dewi.
Ia terus menjerumuskan diri dalam kesibukannya hingga akhirnya ia pun ambruk tanpa daya karena terlalu lelah dalam bekerja.
Bahkan ia sampai harus dirawat di rumah sakit hingga beberapa hari akibat terlalu memforsir diri dalam bekerja. Adapun kala itu hanya Dewi lah yang menemani dan mengurusnya segalanya selama ia ada dirumah sakit.
Hari sudah mulai gelap, dan Dewipun juga sudah teramat lelah. Seraya merebahkan kepalanya disisi ranjang istirahat Reynand, Dewi diam-diam mengamati wajah pasi majikannya itu dengan senyum ironi.
Paras pria itu masih berseri tampan, hanya saja kali ini ia benar-benar lelah di bawah kendali obat. Entah kapan pria itu akan tersadar, terhitung sudah beberapa jam berlalu sejak dokter memberikan suntikan obat padanya. Mungkin ia akan segera tersadar, atau masih lama lagi akan terpejam.
"Mas, tidakkah kau berkenan sejenak saja mengalihkan rasamu padaku? " Dewi bertanya dalam pilu. Hanya ia seorang diri saja yang berbicara, tanpa sahut dari seorang pria yang ada di hadapannya. "Tidak bisakah jika seorang Dewi menjadi pengganti Hanum, walau hanya untuk beberapa saat saja? Meski aku tak akan pernah memiliki sepenuh hatimu, meski nantinya aku juga tak akan mengecap setitik rasamu, itupun tak apa," ujarnya sebelum kemudian ia memejamkan matanya.
Dalam keheningan itu sebenarnya Reynand telah terjaga, dan ia mendengar semua pernyataan yang diutarakan oleh Dewi. Entah kenapa wanita itu begitu menginginkan dirinya, sedangkan di sini ia malah merasa kasihan terhadap wanita itu.
Diantara bimbang dan juga dilema, ia sendiri pun bingung harus mengambil langkah apa.
Jika ia memutuskan untuk mengalihkan hatinya pada Dewi, apakah nantinya ia yakin akan menyakiti hati wanita itu lebih dalam lagi? Entahlah.
Waktu telah berselang lama, terhitung semenjak Hanum memilih untuk meninggalkan ia dalam kubang kelukaan.
Ya, bahkan wanita pujaannya itu tak mau mendengar dan mengerti maksud dan tujuannya.
Jika memang dari awal tujuannya ialah untuk menjadikan Dewi bagian dari kehidupannya, lantas kenapa tak sedari dulu saja ia melakukannya? Kenapa ia harus repot-repot membawa Dewi pulang dan mengacuhkan wanita itu hingga beberapa kali tatkala dengan terang-terangan Dewi menyatakan perasaannya itu kepadanya?
Mendengus lirih Reynand pun kembali memejamkan matanya dan berharap damai tanpa dihantui oleh gundah gulana yang menjerat pikirannya.
Baru saja ia masuk ke alam mimpinya,
sosok Hanum yang pertama kali tertangkap oleh kedua matanya.
Wanita itu berdiam diri seraya duduk di ayunan besi yang berada di bawah pepohonan rindang. Gaunnya berwarna merah, dengan rambut panjangnya yang terurai serta bagian tepinya yang dijepit rapi.
Ia terlihat cantik, selalu cantik dimata Reynand.
Perlahan menghampirinya, lalu kemudian memeluk tubuhnya mesra dengan kecup kasih di puncak kepala, "aku merindukanmu, Sayang." Seraya mengecup lagi puncak kepala wanita pujaannya itu.
Tersenyum cantik, kemudian Hanum mendongakkan kepalanya.
Ditatapnya manik mata indah dari seorang pria yang ada di hadapannya itu.
"Aku juga rindu," ujarnya seraya membelai lembut pipi Reynand. Bahkan senyar sentuhan dari jemari Hanum itu serasa nyata tersampaikan pada dunia nyatanya.
Sangat lembut dan juga halus.
Mendekapnya penuh cinta, Reynand menumpahkan segala kerinduannya itu pada sosok imaji yang terhadir dalam mimpinya.
Menggandeng tangan wanita itu dan mengajaknya bercengkerama sepanjang waktu tanpa terselip rasa bosan di dalamnya.
"Tidakkah kau ingin kembali, Sayang? Bukankah ini sudah terlalu lama bagimu menghukum diriku?" Reynand bertanya dengan gusar. Binar matanya yang semula jernih kini mulai terlihat berkaca-kaca. Ada sendu yang teramat dalam tertahan dalam bulir bening yang akhirnya terjatuh juga di pipinya.
"Jangan menangis," ucap Hanum seraya menyeka air mata pria itu. "Aku pasti akan kembali, kembali bersamamu dan menjadi bagian dari hidup mu. Tapi entah kapan akan tiba masanya, aku pun tak tahu."
Mendengus lagi dan lagi, Reynand hanya bisa tersenyum ironi.
Bahkan di dalam mimpinya saja wanita itu tak sudi untuk menyambut lagi kehadirannya.
...----------------...
Terjaga dari kehaluan yang sesaat mempertemukan dirinya dengan wanita pujaannya.
"Sialan!" umpatnya seraya mematikan alarm ponsel itu dengan kasar lalu kemudian melemparkannya begitu saja disisi nakas yang tak jauh dari tempatnya terbaring kini.
Masih terbelenggu dalam reguk kasih tak sampai yang menyapanya semalam, Reynand berusaha mengembalikan kesadarannya.
Itu hanya mimpi, mimpi yang entah kapan akan menjelma menjadi nyata.
"Mas, kamu sudah bangun?" Suara Dewi yang mengalun manja itu, mengagetkannya.
"Iya, baru aja, Wi," jawabnya tenang.
"Sarapan dulu, Mas," ucapnya seraya menyiapkan seporsi bubur dengan irisan telur rebus serta ayam suir di atasnya.
Reynand mengangguk lagi, dan mulai menyantap bubur itu dengan perlahan.
Fokus pada makanan yang ada di hadapannya, hingga ia pun enggan menggubris Dewi yang sedari tadi masih mengunci pandangan terhadap dirinya.
"Mas, sudah satu tahun berselang semenjak Mbak Hanum pergi. Tidakkah Mas berkeinginan untuk membuka hati lagi?" Dewi bertanya dengan nada getar. Ada ketakutan yang terselip dalam nada bicaranya.
Soal ini lagi! batin Reynand dalam hati.
Memejamkan matanya rapat-rapat, Dewi takut jika pria di hadapannya itu akan memukulnya.
"Membuka hati pada siapa,hm?" tanya Reynand seraya mengusap lembut puncak kepala Dewi. "Apakah itu menjurus kepadamu?" tanyanya lagi.
Mengangguk malu, Dewi mengiyakannya sebagai jawaban.
Menghela napas sejenak, Reynand pun menuturkan penjelasan pada wanita di hadapannya itu.
"Dengar, Wi. Jika seandainya saja aku menikahi mu, tanpa ada rasa suka yang tersemat untukmu, apakah kau akan bahagia?
Kau tahu betul, bahwasanya aku tidaklah mencintaimu dan mencintai siapapun wanita di luaran sana kecuali hanya Hanum.
Hanya Hanum saja yang masih menjadi satu-satunya wanita yang berada di sini," ujarnya seraya menyentuh dadanya.
Dewi tercekat, ia hanya mampu membisu seraya menahan sisa harapnya yang perlahan mulai sirna dan perlahan hancur.
"Jika kau sanggup dan yakin akan bahagia dengan diriku yang seperti itu,maka aku akan mempertimbangkan mu untuk menjadi istriku.
Istri sementara sampai Hanum kembali lagi dalam kehidupan ku."
Secercah harap kembali terlihat, bibir Dewi menyunggingkan senyuman manisnya.
"Masih ada beberapa syarat lainnya yang akan aku jelaskan di sini, dan ku harap nantinya kau akan mempertimbangkannya betul-betul, bahkan menolaknya jika perlu.
Syarat yang pertama, bilamana kau menjadi istri ku. Aku tidak menjalani satu peranan wajibku atas dirimu. Yakni dalam urusan hubungan suami istri sebagai mana mestinya. Aku tidak akan bisa melakukannya, dan aku harap kau tidak keberatan dengan hal ini.
Syarat yang kedua. Bilamana nantinya Hanum kembali, maka aku harap kau dapat menjadikan segalanya mudah untuk perpisahan kita. Gimana, Wi?"
Ragam syarat itu membuat Dewi terhenyak.
Dari segala poin di atas, ia menarik kesimpulan yang berati ia hanya akan menyandang status sebagai istri dari Reynand dalam ranah publik saja.
Sedangkan dalam kenyataannya yang sesungguhnya ia tak sedikitpun mendapatkan secercah kasih dari pria idamannya itu.
"Wi, kamu nggak usah khawatir. Kamu bisa menolaknya jika memang tidak setuju dengan poin-poin yang Saya sebutkan tadi. Dan akan sangat berterima kasih jika kamu bersedia menolak dan tidak mendambakan akan diri Saya lagi dalam kehidupan kamu."