Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Syarat, lagi.



Bersua dengan dirimu melalui masa yang tak pernah terduga.


Kau dan segala apa yang ada dalam dirimu, bagai candu yang tak bisa ku sirnakan begitu saja.


Aku tau ini adalah sebuah dosa, dan aku memahami bahwasanya aku telah tenggelam di dalamnya. Ini hanya karenamu, hanya tentangmu.


Seseorang yang seringkali ku harapkan, akan tetapi mustahil untuk ku dapatkan.


*******


Suara celoteh lucu itu terdengar menggema di pagi hari.


Ivana terlihat riang berada dalam gendongan Danill, seraya asik menikmati sepotong biskuit yang ada dalam genggamannya.


Hari ini keluarga kecil tanpa ikatan pasti itu hendak pergi berlibur.


Melepaskan penat seraya membawa ivana kecil pergi ke pantai untuk menikmati debur ombak kecil yang menerjang jemari kaki.


Bak pasangan orangtua pada umumnya, Daniil dan Hanum menjalankan peranan mereka dengan sangat sempurna.


Meski nyatanya mereka tak pernah bersatu di atas ranjang yang sama, tanpa ikatan yang sempurna dan kejelasan dalam rumah tangga, hal itu tak mempengaruhi mereka untuk mencurahkan segenap kasihnya pada putri semata wayangnya.


"Come on honey, we go to the beach," ujar Danill seraya mencubit pelan pipi ivana.


Gadis mungil itu tertawa-tawa, seraya menggerak-gerakkan tangannya. Semakin membuat gemas siapa yang memandangnya.


"Sayang," panggil Hanum kepada putrinya.


Wanita itu meraih ivana dari gendongan Danill dan menimangnya dengan sayang.


"Biarkan Daddy menyetir ya sayang, tidurlah dan mommy akan membangunkan mu ketika kita sudah tiba di pantai nanti," ujarnya seraya mendudukkan putrinya pada baby car seat.


Ivana kecil terdiam, bola matanya berair dan bibirnya mengerucut. Ada air mata yang menggenang dalam kelopak matanya. Ia hendak merengek tatkala mommy-nya itu menjauhkan ia dari sosok danill. Namun tak lama kemudian senyumnya kembali tertoreh tatkala danill yang penuh pengertian itu kembali turun dari balik kemudinya untuk mengecup kening sang putri lalu membisikkan sesuatu ke telinganya.


Seketika senyum ceria kembali mengembang di bibir gadis mungil itu. Ia terlihat senang selama menempuh perjalan, hingga pada akhirnya rasa kantuk menenggelamkannya dalam buai indah alam mimpi dan membuatnya lelap sampai pada tempat tujuan.


*********


Sepoi angin laut yang berembus lirih, serta cuaca yang tak terlampau terik itu membuat Hanum kian tak sabar untuk segera menapakkan kakinya di pinggiran pantai.


Senyumnya mengembang sempurna, sedang netranya hanya terfokuskan pada ombak kecil yang menerjang daratan. Airnya menyapu pinggiran pantai lalu kembali lagi ke tengah lautan.


Pemandangan itu membuat ia kembali terseret dalam memori lampaunya.


Menyelami masa lalu tatkala dirinya


dimabuk asmara dengan suaminya.


Bayangan dimana dirinya dan Reynand


"Aku mencintaimu," suara berat itu membuat ia tersentak, seolah ia ditarik paksa untuk kembali pada dunia realita.


"Eh," ucapnya kaget seraya memalingkan wajahnya menghadap danill. Ia terkejut bukan karena kata-kata yang terlontar dari bibir pria itu, melainkan karena ia belum usai bermanja dengan ilusi kelam yang bermain dalam ingatannya.


"Bisakah jika saat ini kita melangkah ke jenjang yang lebih serius?" tanya pria itu seraya melingkarkan lengannya, memeluk Hanum dengan rengkuhan lembut.


Pria itu begitu kukuh, tak pernah lelah untuk membujuknya mengarungi bahtera rumah tangga.


Niatnya yang teramat tulus, serta pengorbanan yang dilakukan olehnya membuat Hanum tak kuasa lagi untuk berkata tidak.


Meski ia sadar betul bahwa segenap cinta dan kasihnya tak mungkin tercurah pada pria lain selain suaminya, Reynand.


"Apakah kau bersedia menerima, jika kenyataannya aku tidak akan pernah bisa mencintaimu layaknya cinta istri pada suaminya?


Dan apakah kau sanggup mengarungi rumah tangga dengan ku, seorang wanita yang tak mungkin bisa menyerahkan jiwa ragaku seutuhnya padamu? Layaknya seorang istri yang menjalankan kewajibannya pada suaminya?"


Tutur kata itu terucap dengan gamblang, tanpa ragu dan jeda dalam setiap intonasi nadanya. Seolah telah ia siapkan sejak lama jikalau pria itu memberikan pilihan yang sulit kepadanya, seperti saat ini.


Danill terhenyak, berusaha mencerna maksut dari perkataan yang baru saja dituturkan oleh wanita pujaannya itu.


Jika ia bisa bersatu dalam ikatan pernikahan yang sah dimata negara dan agama, tapi dengan beberapa syarat yang dibeberkan seperti tadi, lantas apa bedanya situasi saat ini dengan situasi nanti tatkala mereka sudah sah di mata semua orang?


Lantas apa yang akan ia dapatkan nanti, dan apa bedanya dengan kondisi saat ini?


Danill berpikir keras, mencoba memahami apa yang sebenarnya ada dalam benak wanita di hadapannya itu.


Mencoba menerka-nerka tentang apa yang masih tak ia mengerti disini.


Sebagai seorang pria dewasa yang normal, dimana ia memiliki kasih, sayang, dan juga nafsu yang selama ini coba ia pendam dalam-dalam. Ia ingin segalanya berlaku tanpa paksaan serta dilandasi oleh perasaan yang sama-sama menginginkan.


Tapi lagi dan lagi ia disudutkan dalam situasi yang tak menguntungkan.


Segala sesuatunya seolah tak bisa berjalan sesuai dengan harapannya.


Ia terus saja dibenturkan dengan sosok Reynand, yang jelas-jelas sudah hilang dalam kamus kehidupan wanita itu semenjak satu tahun terakhir.


"Bagian mana dari diriku, yang tak bisa mengunggulinya, Num?" tanya danill dengan nada serak yang mendominasi setiap tutur katanya.


Ada kekecewaan yang terlihat nyata dimimik wajah pria itu.


"Bukankah dia tidak pernah ada disisimu?


bukankah ia juga yang menyakitimu hingga jadi seperti ini, bukankah ia pula yang membuang mu demi wanita lain yang kini mungkin sudah menjadi istri dari suami mu itu?!" tanpa basa-basi pria itu mengeluarkan segala sesak yang sejak lama menghimpit relung dadanya.


Namun kemudian kecamuk sesal datang menyapa, ia tertegun tatkala melihat wajah wanita pujaannya yang semula ceria itu berubah merah dengan air mata yang telah tertumpah deras di pipinya.


Tubuhnya gemetar, sedang isaknya tak lagi bisa disamarkan.


Wanita itu pergi, menjauh dari danill yang masih sibuk meneriakkan namanya seraya menggaungkan kata maaf.


Akan tetapi ia tak lagi peduli, telinganya mendadak tuli dan menolak segala tutur kata yang terlontar dari mulut pria itu.


Namun kemudian langkahnya terhenti, ia berpaling menatap nanar pada danill yang berdiri agak jauh dari dirinya.


"Tidak akan ada siapapun yang bisa menggantikan posisinya dari hati ku. baik itu kau ataupun pria lain.


Baik itu untuk saat ini ataupun nanti, Reynand tetaplah menjadi suami serta cinta dalam hidupku," tuturnya sendu, lalu kemudian ia berpaling lagi meninggalkan danill yang masih mematung di tempatnya.