Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Menyerahlah, Rey!



Masih betah berlama-lama tinggal di Rusia.


Ivana, gadis kecil itu seolah tak mau untuk diajak pulang ke tanah kelahirannya lagi.


Asik bermain dengan salju dan kian akrab dengan wanita bernama Dayana, gadis mungil itu seperti menemukan tempat dan teman bermain baru yang ia sukai selain Mommy dan Daddynya.


Terhitung sudah satu Minggu berselang semenjak ia tiba di negara itu, selama itu pula gadis mungilnya selalu tertawa ceria meski ia hanya duduk diam di dalam rumah, atau sekedar bermain di halaman depan. Tawa bahagia yang terdengar melegakan itu membuat Hanum dan Danill memutuskan untuk mengundur lagi jadwal kepulangan mereka hingga waktu yang tak dapat ditentukan.


Namun begitu, beberapa urusan masih bisa diselesaikan melalui jalur jejaring sosial.


Seperti kasus perceraian yang sedang diprosesnya saat ini.


Danill memang hendak mendaftarkan berkas perkara antara Hanum dan Reynand ke pengadilan agama setempat untuk diproses lebih lanjut mengenai keputusan akhir dari hubungan keduanya. Namun sebelum hal itu terjadi, ia harus luruskan semuanya dan memastikan bahwa mantan suami dari wanita pujaannya itu benar-benar mundur dan menerima kekalahannya itu dengan lapang dada.


Ia akan memastikan bahwasanya nanti ketika ia menikahi Hanum tak akan ada aral melintang apapun yang menghambat perjalanan cintanya, terutama dari masa lalunya.


...----------------...


Segelas susu hangat ia letakkan di atas meja nakas, langkahnya berayun pelan tak ingin membangunkan sosok pria yang sedang lelap dalam istirahatnya.


Tubuhnya ringkih dengan kantung mata yang terlihat menghitam akibat kelelahan.


Akhir-akhir ini pola tidurnya pun mulai tak beraturan.


Seperti saat ini, pria itu terlihat sangat tenang, bahkan ia seperti tak merasa kedinginan meski tertidur tanpa mengenakan satu selimut pun yang membalut tubuhnya. Kepalanya tertelungkup, tergeletak begitu saja tanpa alas yang menjadi tumpuan tidurnya.


Hanum hanya bisa menipiskan bibirnya, menahan sesak yang entah kenapa datang secara tiba-tiba.


Ia belum terbiasa melihat pria kesayangannya yang biasanya terlihat sehat sempurna itu kini nampak kuyu tanpa semangat.


Hatinya risau, namun setiap kali ia bertanya pria itu selalu saja berkata bahwa ia sedang baik-baik saja.


Apakah memang benar seperti itu, atau mungkin sebenarnya Danill sedang menyembunyikan sesuatu darinya?


...----------------...


Mengenakan piyama tidur berlengan panjang, Hanum duduk tenang di depan meja rias. Matanya terpejam menikmati hembusan angin hangat yang menerpa kepalanya.


Danill, pria itu terlihat tenang berdiri mematung di belakang Hanum seraya mengeringkan rambut wanita itu menggunakan hair dryer.


Senyumannya sumringah, sedang wajahnya terlihat sangat bersemangat.


Sesekali ia juga mengusap lembut puncak kepala kekasihnya dan mengecupnya dengan sayang.


"Tahukah kau, bahwa saat ini aku sedang sangat-sangat mencintaimu, Sayang?"


Hanum mendongakkan kepalanya, lalu kemudian ia tersenyum.


Ditatapnya pria pemilik netra biru itu dengan ekspresi teduh, "aku tau, karena setiap hari kau selalu mengatakan hal yang sama padaku.


Kau mencintaiku, dan aku juga sangat mencintaimu, Danill.


Bukankah saat ini kita berdua sudah sama-sama melengkapi dan sedang berproses menuju bahtera bahagia seperti yang selama ini kita damba-dambakan?" Hanum mengatakannya dengan mata yang berbinar, jemarinya terulur membelai lembut wajah pria pujaannya itu.


"Jadi, aku mohon, jangan buat aku kecewa kedepannya. Tidak dengan alasan apapun. Janji?" tanyanya seraya mengacungkan jari kelingkingnya.


Sejenak terdiam, pria itu menautkan jari kelingkingnya juga, "iya, aku janji," ucapnya dengan senyuman yang terurai lebar, namun begitu Danill malah terlihat menggemaskan.


"Ehm, apakah kau tau tentang sesuatu, Danill?" tanya Hanum sembari menahan rona merah di pipinya.


Pria itu menggeleng, namun bibirnya berkedut juga ketika melihat wanita kesayangannya itu kini tengah tersipu malu memandangi dirinya.


"Ehm, tetaplah tersenyum seperti itu.


Senyuman menggemaskan yang membuat ku tak ingin berhenti untuk melihatnya. Kamu sangat tampan, dan juga ... menggemaskan," ucapnya sembari menangkupkan kedua tangannya di wajah. Ia merasa dirinya sangat konyol sekarang.


...----------------...


Mengetuk-ngetukkan jemarinya dengan bimbang, sedang dalam hatinya berteriak menegaskan bahwa ia belum siap, ini belum waktunya.


"Tenanglah! Ini bukan kali pertamanya bagi kita, bukan?" Danill meremas lembut pundak Hanum, meyakinkan wanita itu untuk percaya padanya.


Menganggukkan kepalanya, seolah ia sudah yakin. Namun hatinya masih diisi dengan segudang kebimbangan.


"Jangan takut, karena aku ada di sini bersamamu. Kita akan memulainya bersama dan semuanya akan segera selesai.


Bukankah begitu, Sayang?" Danill menangkupi wajah wanita pujaannya, ia tersenyum tipis lalu kemudian mengecup bibir Hanum dengan lembut.


"Yakinlah, ini akan segera berakhir."


Hanum menghela napas berat, nampak senyumnya perlahan mulai terurai, "aku percaya dengan semua yang kau lakukan, Danill. Termasuk dengan yang satu ini," ucapnya yakin.


Berbekal selimut tebal serta segelas minuman hangat, Hanum duduk bersila di atas sofa ruang tengah seraya menenangkan perasaannya yang teramat rancu.


Ia juga sedang menunggu Danill yang entah sedang membuat makanan apa di meja pantry sana.


Mengembuskan napas panjang berkali-kali, namun hatinya yang risau tak kunjung juga tenang.


Sesekali ia juga berdiri, mondar mandir tak jelas seraya menggumamkan sesuatu.


"Kalau kamu nggak siap, biar aku aja nanti yang ngomong. Kamu diam aja sambil nunggu keputusan akhirnya, gimana?"


"Ya udahlah, terserah! Aku liat aja nanti, kalau ada kesempatan ngomong nanti aku juga bakalan ikut," jawabnya seraya melangkah pergi.


Duduk bersisian di depan laptop, sebisa mungkin Hanum memasang ekspresi tenang.


Meski nyatanya ia tak mampu untuk menenangkan jantungnya yang kian berdebar kencang.


Bukan suatu hal yang dapat dihindarkan jika saat ini ia diharuskan untuk ikut andil dalam penyelesaian hubungan lamanya.


Meski tidak bertatap muka secara langsung, tapi tetap saja bertemu dengan mantan suaminya dengan cara seperti ini bukan hal mudah baginya.


Apalagi mengingat pertemuan mereka yang terakhir kali di rumah sakit kala itu.


Ia masih mengingatnya, ketika Reynand memohon padanya untuk kembali.


Sempat ia ikut merasakan trenyuh akan kerinduan yang telah lama ia pendam.


Namun ia sadar, Reynand bukan lagi miliknya.


Pria itu memang masih terlihat sangat mencintainya, namun semua cinta itu seolah tak berati lagi bagi Hanum.


Kehadiran wanita bernama Dewi telah menghancurkan segalanya, kepercayaan, dan juga permohonan. Ia tak lagi butuh dan tak lagi peduli.


Mengembuskan napasnya perlahan, Hanum meremas lembut jemari kekasihnya.


"Kita bisa memulainya," ucapnya dengan senyuman yang terurai manis.


Pria itu menganggukkan kepalanya, berusaha meyakinkan Hanum melalui binar matanya yang terlihat bersungguh-sungguh "percayalah, ini tidak akan serumit yang kau pikirkan."


Beberapa menit berselang, dan panggilan itu kini sudah terhubung.


Ada Reynand yang masih bungkam di sana, sedangkan di sini Danill dan Hanum masih enggan untuk memulai perbincangan.


Pandangan pria itu masih sama seperti sebelumnya, tenang dan juga fokus pada satu titik saja. Pemilik netra kecoklatan itu masih menyimpan segudang cinta yang terpendam dalam setiap lembar waktu yang ia lalui.


Bahkan sampai saat ini, ketika ia di hadapkan dengan kenyataan bahwa wanita yang selama ini ia cari telah bersama dengan pria lain.


Hatinya terasa hancur, namun begitu senyumnya tetap terukir.


"Bagaimana kabarmu, Hanum?" Pria itu bertanya dengan nada pilu yang disamarkan.


"A-aku baik-baik saja. Harapku semoga kau juga begitu, Rey!" ucapnya seraya memalingkan muka. Ia tak sanggup jika harus berlama-lama menatap ekspresi sendu yang terlihat jelas di mimik pria yang dulunya sempat ia cintai itu.


Akan tetapi semuanya sudah berlalu, Reynand memang sempat singgah di hatinya, namun tidak untuk selamanya.


Meski nyatanya sampai kapanpun Hanum tak akan pernah bisa melupakan perjalanan cintanya bersama pria pemilik netra indah itu. Ia akan memendam kisah lamanya dalam palung hati terdalamnya.


Menjadikan satu kenangan silam yang tak akan mungkin lagi terulang.


Tiba saatnya membahas inti pembicaraan, kedua pria itu sama-sama memasang ekspresi wajah serius.


Sedangkan Hanum hanya bisa membisu.


Ia berharap semoga tidak ada kebencian apapun setelah perbincangan serius ini selesai.


Akan lebih bagus jika kelak mereka masih bisa terikat dalam persahabat tanpa adanya dendam karena satu hubungan yang harus terselesaikan.


Menegang!


Sorot matanya menajam, sedang kuku jarinya memutih. Telinganya serasa panas ketika mendengar bibir wanita itu mengucapkan sebuah kata yang tak seharusnya ia dengar.


Sungguh ia membenci pembicaraan ini.


"Apa kau bilang? Cerai?!" tanyanya dengan nada geram.


"Apa kau gila, ha?" Reynand bergumam lirih.


Dadanya serasa sesak, sedang hatinya menjerit meluapkan kepedihan.


"Kenapa? Kenapa harus kau dan aku yang berpisah? Kenapa tidak kau dan dia saja?!" tanyanya seraya melirik ke arah Danill.


Pria itu menghela napasnya panjang, "Rey, apa kau masih mencintainya?" tanyanya dengan ketenangan.


Bergeming, Reynand berdecih mendengar pertanyaan konyol yang diutarakan Danill padanya.


"Jika iya, maka lepaskan dia, Rey. Ingatlah, bahwa dia dulunya juga sangat mencintaimu, bahkan hampir setiap hari dia menangis karena merindukanmu. Tapi, apa kau tahu bahwa ia sangat kecewa dan marah ketika mengetahui bahwa dia bukan lagi satu-satunya wanita yang berada dalam hidupmu? Apa kau tahu betapa tersiksanya diriku ketika setiap hari aku hanya dihadapkan dengan kemarahan dan juga tangis yang dibuat olehmu? Kau tidak tahu, atau kau juga tidak peduli!" ucapnya yang seketika membuat Reynand tercengang.


"Rey, dengarkan aku!


Setidaknya dulu dia pernah sangat mencintaimu, dia sempat gila karenamu, dan kini sudah tiba saatnya untuk dia kembali bahagia.


Meski tidak berkahir dengan dirimu, kau tetap harus melepaskannya. Demi kebahagiannya, Rey! Kumohon, percayalah!


Aku bisa menjaganya, aku bisa mempertaruhkan segalanya demi dia, demi bahagianya.


Aku mohon, menyerahlah!"