
Terdiam dalam kesendirian, meresapi sisa-sisa rasa yang dulunya sempat mengekang dan kini perlahan mulai terlepas dengan sendirinya.
Jalinan rasa yang dulu sempat mengikatnya kuat-kuat kini sudah tak lagi sesak seperti dulu.
Sesekali ia memberanikan diri untuk menyelinap lagi pada kenangan masa silam.
Di mana di sana terdapat lembaran kenangan mengenai jalinan asmaranya yang satu persatu kandas tanpa sisa.
Terduduk di tepian jendela, seraya memegangi sebuah notebook bersampul hitam legam.
Di sana ada beberapa kenangan dari beberapa wanita istimewa yang sempat singgah dalam hidupnya. Dan Dewi, adalah wanita terakhir yang mengisi album kenangan dalam notebook itu.
Sebuah surat yang tersampul rapi dengan tulisan tangan yang terbubuh rapi di atasnya.
Wanita itu meninggalkan banyak cerita, perhatian, dan juga cinta di atas lembar kertas warna biru muda yang hanya ditujukan khusus teruntuk Reynand seorang. Seorang pria yang sampai akhir pun tetap ia puja sebagai suaminya yang paling berharga.
Nampak wanita itu menulisnya dengan persiapan matang, penuh dengan ketulusan, dan juga kesedihan yang tercermin dari jejak bekas air mata yang berjatuhan di atas tulisan.
Untuk kedua kalinya Reynand pun membaca surat itu dengan perlahan.
Dulu sempat ia mengacuhkan surat itu dan membiarkannya tergeletak di atas meja dalam kurun waktu lama. Hingga sampai debu-debu halus pun menghias di atas sampul kertas tersebut.
Dear Reynand.
Suami idaman yang tak dapat ku pertahankan.
Setahun berselang semenjak kita mengarungi sebuah hubungan, dan aku merasa sangat beruntung karena sempat memilikimu meski tanpa adanya cinta yang dapat ku rasakan.
Dilain sisi, aku juga meminta maaf atas keserakahan yang tak dapat ku kendalikan tempo lalu.
Setidaknya aku mendengar ucapanmu untuk terkahir kalinya, Rey.
Benar, jika seharusnya aku mengejar kebahagiaanku sendiri, dan bukannya berharap padamu yang jelas-jelas memiliki cinta yang tersemat untuk wanita lain.
Maka dari itu aku memilih untuk mengakhiri hubungan ini, melepaskanmu dan pergi.
Aku berharap agar kau selalu bahagia, dan semoga nantinya kau bisa kembali bersama dengan mbak Hanum lagi. Jika hal itu terjadi, semoga kelak kau bisa memamerkan kebahagiaanmu kepadaku. Agar aku kian gigih untuk melupakanmu.
...----------------...
Reynand mengembuskan napas lirih, senyumnya mengembang tipis setelah ia selesai membaca isi surat tersebut.
Ia melipatnya lagi, lalu menyimpannya lagi di dalam notebook.
Ia menerawang jauh memandangi awan kebiruan, dan merasakan hatinya tak lagi berdenyut nyeri seperti sebelumnya.
Semua beban hatinya telah terhempas, lenyap bersama derita yang dulunya terasa sulit untuk dilupa.
Hari ini adalah hari terakhir ia berada di tanah kelahirannya. Dan esok pagi ia akan terbang ke negara tetangga untuk bersua dengan sang kakak.
Zayn, pria itu sudah beberapa kali menghubunginya.
Pria itu meminta dengan sangat agar Reynand membantunya mengurus kantor cabang baru milik sang papa yang ada di sana.
Sempat menolak beberapa kali, merasa tak mampu untuk mengemban bisnis milik keluarga.
Tapi alasannya tetap tak diterima oleh sang kakak, dan dengan berat hati ia pun menyanggupinya.
Sampai di negara tujuan.
Senyum sumringah dan setitik air mata haru lolos dari pelupuk matanya, tatkala ia mendapatkan sambutan hangat dari seluruh keluarga yang menyambut kedatangannya di sana.
Terlebih lagi bundanya, wanita berusia senja yang sudah lama tak ia jumpai itu langsung memeluk dan mengecup kening anak bungsunya ketika Reynand baru saja memasuki pintu rumah.
Ia menangis haru, meluapkan semua rindu dan juga pedih tatkala melihat putranya itu berjalan gontai seorang diri. Sejenak ia ingin bertanya, akan tetapi segera ia urungkan lagi niat tersebut tatkala putranya itu membalas pelukannya seraya tersedu.
Tangisnya berderai, menggambarkan betapa ia teramat lelah karena telah menyembunyikan beban hatinya dari sang ibunda selama ini.
"Maafin Rey, Bund," ucapnya dengan suara terbata.
Wanita itu hanya bergeming seraya mengusap lembut bahu putranya yang masih bergetar ringan. "Tidak apa-apa," ujarnya lembut.
Jika diingat kembali, sudah lama sekali ia tak pernah melihat anaknya menangis seperti saat ini.
Tanpa terasa mereka tumbuh dewasa dengan sangat cepat, tak pernah lagi bersedih, atau sekedar untuk berbagi keluh kesah pada ibundanya yang kini sudah renta.
Mungkin mereka berpikir tak ingin membebani hati wanita tua itu dengan ragam masalah yang mereka alami, dan kemudian memendamnya sendiri atau hanya berbagi pada saudara tertentu.
Sejujurnya bukan karena mereka tak mau untuk berbagi. Karena bagaimanapun juga, seorang ibu pastinya akan membantu menyelesaikan setiap masalah yang dialami oleh anak-anaknya meskipun hanya dengan satu saran sederhana.
Seorang ibu tak akan memaksakan kehendaknya seorang diri, karena ia tahu bahwa anak-anaknya sudah sangat dewasa untuk mengambil sebuah keputusan.
...----------------...
Hening tanpa suara. Hanya terdengar suara harmonika yang mengalun tipis dan juga merdu.
Reynand menyesap lagi secangkir kopi yang ada di hadapannya. Mencium aroma menenangkan yang menguar dari kepul asap minuman favoritnya.
Entah berapa lama waktu sudah berselang, ia tak tahu pasti.
Kehidupannya tak jauh dari kata kerja, sibuk, dan juga fokus pada keluarganya saja.
Keluarganya sendiri. Ibu, papa, kakak, dan keponakan tentunya.
Bukan seorang istri, anak, ataupun seorang kekasih yang tinggal bersama.
Sesekali ia mendengus lirih, seraya memandangi pergantian musim dari tepian jendela kamarnya.
Ia tak pernah beranjak dari tempat ternyaman itu, ia juga jarang sekali pergi berlibur atau sekedar bermain keluar untuk mencari kesenangan.
One night stand pun, sepertinya tak pernah ia lakukan di negara ini.
Atau lebih tepatnya, ia sudah tidak peduli dengan hal-hal semacam itu.
Asmara dan juga cinta, sudah terlalu cukup memberikan pelajaran pada dirinya.
Memberikan pukulan dan juga kehancuran bagi hidupnya, dan menyisakan ruang kosong yang sampai saat ini masih belum bisa ia isi dengan sesuatu yang baru.
Lebih tepatnya, ia takut untuk gagal lagi.
Menyakiti ataupun disakiti, ia tak mau mengalami hal itu.
Jika ia bisa nyaman dengan kesendirian seperti sekarang, kenapa ia harus repot-repot membawa orang lain untuk menyempurnakan kehidupannya yang sudah setenang ini?
Iseng-iseng membuka ponselnya,
barangkali ia menemukan pesan baru yang bisa membuat hatinya bergetar seperti tempo lalu.
Tepatnya sebulan yang lalu, ketika ia sedang luang dan memikirkan sesuatu yang tak seharusnya berpendar lagi dalam kepalanya.
Sebuah hal tak diduga pun menghampirinya.
Gadis kecil dengan suara celotehnya yang manja itu masih terngiang jelas dalam kepalanya.
Betapa tidak, ia tak pernah sekalipun membayangkan bahwa hal itu akan terjadi.
Lebih tepatnya tidak mungkin jika mengingat siapa orangtua dari gadis tersebut.
Namun sepertinya keadaan sudah jauh lebih membaik untuk saat ini, dan hal itu menyirnakan semua keraguan yang terlintas dalam benaknya, kala itu.
Ivana, gadis kecil itu sering kali mengirim pesan suara kepadanya.
Isinya macam-macam, terkadang celotehan tiada henti, terkadang juga nyanyian berbahasa asing yang belum ia mengerti.
Tapi Reynand suka, bahkan bisa dibilang terbiasa dengan suara dari gadis itu.
Entah kapan waktu mempertemukan mereka lagi.
Entah dia yang berkunjung ke sana, atau malah sebaliknya.
Reynand hanya bisa menyusun rencana, jika tidak bisa menjadi sepasang kekasih di kisah sebelumnya, bukankah sekarang mereka masih bisa menjadi sahabat ataupun keluarga jauh?