Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Kecewa



Senyap sepi bagai sembilu seolah merasuk ke dalam raga, meninggalkan goresan luka tak berperi yang tertoreh hingga palung hati. Dalam pekatnya nuansa malam, disertai dengan hembusan angin dingin yang seolah menghempaskan segala kelukaannya untuk kembali merasuk dalam ingatan. Semakin membuat jiwanya pilu tertunduk menahan sesak.


Sakit tapi tak berdarah, perih namun tak tergores. Hanya beberapa kata kiasan yang menggambarkan tentang bagaimana perasaan reynand kali ini.


Pria itu kini tengah di landa kemalangan. Hidupnya bagai sebuah drama yang tiada berkesudahan, mempermainkannya bagai sebuah boneka dan menjungkir balikkan dunianya dengan sekejap mata.


Ia marah, sekaligus kecewa. Namun egonya tak mampu lagi untuk melepaskan segala golak kemarahan yang sedang menderanya.


Di koridor lantai rumah sakit, tepat di depan ruang Instalasi Gawat Darurat itu.


Reynand sedang menundukkan kepala seraya menahan bulir air matanya agar tak terjatuh lagi.


Pria itu begitu kalut dilanda kecemasan yang tak kunjung hilang dari pikirannya.


Bayangan sosok istrinya yang nampak ceria menyambut kedatangannya beberapa jam yang lalu itu membuat hatinya kembali berdenyut nyeri.


Ekpresi wajah cantik dengan tutur kata manja itu seolah terus mengusiknya, dan hal itu berhasil membangkitkan amarah dan juga golak kekecewaan yang kian meradang mengakar dalam hatinya.


*****


Beberapa jam yang lalu, dimana ia baru saja pulang dari tempat usaha yang dijalaninya.


Seperti biasa Hanum selalu menunggu kedatangannya dan menyambutnya dengan penuh keceriaan. Wajah cantik berseri disertai dengan warna bibir yang terlihat agak pucat itu jelas nyata membingkai wajahnya. Tak seperti biasanya, sedikit berbeda dan membuat reynand bertanya mengenai kesehatan istrinya itu.


Namun kata 'aku baik-baik saja' yang terlontar dari mulut hanum membuat reynand menganggukkan kepala dan kemudian mempercayainya.


Seperti biasanya ia selalu merilekskan tubuh lelahnya untuk sekedar duduk-duduk di atas sofa rayon yang ada dalam kamarnya, seraya meletakkan cangkir berisi teh jasmine yang baru saja di sesapnya itu ke atas meja.


Ia beranjak sejenak, perlahan menghampiri istrinya yang masih berdiri mematung di samping pintu kamar mandi. Wanita itu termenung diam, menatap kosong seolah memikirkan sesuatu dalam angannya.


"Kamu kenapa, sayang?" tanyanya dengan nada lembut, seraya membelai rambut yang tergerai indah dihadapannya itu.


Hanum tersenyum tipis, lalu kemudian menjawabnya dengan gelengan kepala. Seolah meyakinkan suaminya bahwa ia sedang baik-baik saja.


Reynand menghela napas lega,


Seperti keinginannya, hanum pun menyambutnya dengan senang hati, mengulurkan tangannya dalam genggaman reynand dan kemudian bergelayut manja di lengan pria itu.


Mereka merebahkan diri dengan nyaman di atas sofa, sekedar berbincang-bincang yang menghadirkan gelak tawa kecil dan berakhir dengan pelukan manja syarat akan kemesraan pasangan muda.


Keduanya saling beradu pandang, mengamati wajah dari sang pujaan hati masing-masing dengan tatap mata penuh puja. Hingga perlahan senyum di bibir reynand pun mulai memudar, berganti dengan raut cemas ketika ia baru saja menyadari bahwa istrinya itu terlihat lebih pucat dari sebelumnya.


Wanita itu masih bersikap biasa saja, seolah tak terjadi apa-apa seraya memaksakan senyum di sudut bibirnya. Namun kuyup di dahinya yang di akibatkan oleh keringat dingin itu tak dapat menyembunyikan segalanya. Pertahanannya runtuh di sertai pekikan lirih yang keluar dari mulutnya.


Hanum mengaduh, merintih merasakan sakit yang meremas area perutnya. Ia ambruk, hingga kesadarannya pun ikut lenyap tak kuasa menahan sakit yang serasa hendak merenggut nyawanya itu.


Dengan tergopoh-gopoh dilanda kepanikan reynand pun segera melarikan hanum ke rumah sakit terdekat untuk segera di tangani.


Belum usai dengan kecemasan yang melandanya, ia kembali di kejutkan oleh perkara kehamilan. Dokter menuturkan kepadanya dengan gamblang bahwa saat ini kondisi hanum sedang mengandung, dan kemungkinan besar janin itu masih berusia kisaran lima mingguan. Itu terdeteksi dari USG dimana didalam rahim hanum masih belum terdapat gumpalan daging yang dapat terdeteksi dengan jelas oleh alat USG tersebut. Hanya sebuah kantong rahim saja yang masih terlihat.


Ia tercengang, tak dapat berkata-kata. Istrinya hamil dan ia tak tau menahu soal kebenaran yang telah berlaku.


Reynand memilih untuk keluar sejenak dari lingkup rumah sakit. Mencari kesunyian dan meresapi segala penat yang tiba-tiba bertumpu di atas pundaknya. Ia berusaha untuk menjernihkan pikiran dari segala prasangka.


'Lima minggu. Sudah berlalu selama itu dan kau masih menyembunyikannya dariku?' batin reynand seraya mendongakkan kepalanya menatap hamparan langit di atas sana.


Bulir air matanya terjatuh begitu saja melepaskan kepiluan yang serta merta memporak-porandakan seluruh rasa cinta yang dimilikinya terhadap sosok lembut dari istrinya.


Penuturan dokter yang mengarah pada percobaan pengguguran kandungan yang di lakukan oleh istrinya itu membuat ia seolah tak percaya.


Namun dari hasil tes yang didapat dari pemeriksaan darah Hanum, menunjukkan adanya suatu obat yang memang sengaja di konsumsi untuk menggugurkan janin tak berdosa itu seolah menepis segala keraguan yang sempat menghinggapi benaknya.


Ketidak percayaannya akan kenekatan istrinya itu telah sirna sepenuhnya.


Hanya tertinggal sebuah luka menganga berlandaskan kebencian.


'


Kenapa wanita itu begitu tega hendak membinasakan darah dagingnya sendiri? sampai sebegitukah ketidak sudianmu mengandung buah cinta kita?' reynand hanya membatin ucapannya, berselimut dalam kalut nestapa.