Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Tertahan.



Reynand melangkah pelan menggiring kakinya untuk menepi dari hiruk-pikuk orang-orang. Keadaan teramat sesak sehingga membuat ia sedikit kesusahan untuk mencari ruang gerak menuju pintu keluar. Sedang istrinya terlihat memejamkan mata sembari menutupi hidungnya. Aroma wewangian yang bercampur dengan keringat terasa mengusik indra penciumannya hingga membuat ia bertambah sakit kepala. "Bisakah kita cepat keluar dari sini? aku sedikit mual," tuturnya lirih berbisik di telinga Suaminya.


Reynand hanya menganggukkan kepalanya kilas, tetap melangkahkan kakinya mendesak sebagian orang untuk menepi dari hadapannya. Ia sedikit bernapas lega tatkala melihat pintu keluar sudah tak lagi jauh dari jangkaunya. Sempat ia ingin mempercepat langkahnya namun kemudian laju kakinya terhenti untuk sesaat ketika ia merasakan ada seseorang yang menepuk bahunya dari belakang. Membuat ia kembali menolehkan wajahnya dan mendapati seseorang yang nampak tenang berdiri di belakangnya. "Ya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Reynand sedikit memiringkan kepalanya, menatap lekat pada sosok pria berwajah asing yang baru pertama kali ia jumpai.


"Ah tidak, mohon maaf jika saya lancang. Tapi sepertinya anda sedang butuh bantuan?" ujarnya seraya menyelipkan nada khawatir di dalamnya. Namun netranya malah tertuju pada sosok wanita yang ada dalam dekap dada pria di hadapannya. 'Oh, rupanya ini suamimu,' ucapnya dalam hati.


Reynand nampak bergeming untuk sesaat, sedang netranya kembali teralih pada keadaan sang istri yang terlihat pucat seraya mengeratkan genggamannya pada dada suaminya, "a-aku hanya ingin pulang. Bisakah jika kita ... segera pergi?" Hanum berucap lirih,


sedang netranya nampak mengawasi seorang pria yang sedang tersenyum kearahnya seraya mengerlingakan sebelah matanya.


"Bisakah kita segera pergi!" ucapnya lagi dengan suara meninggi setengah memaksa. Wajahnya terlihat pucat di landa kepanikan. Kekhawatirannya akan bocornya rahasia dan keretakan rumah tangganya membuat pikirannya dilanda ketakutan.


Bayangannya akan kehancuran biduk rumah tangganya yang barusaja terjalin bahagia terus berputar dalam kepalanya dan menghantui pikirannya. Hanum sedikit menarik kaitan kancing jas yang di kenakan oleh Reynand. Berharap suaminya itu segera berpaling dan beranjak pergi dari tempat itu. Meninggalkan Danill yang sedari tadi memberikan tatapan aneh penuh penekanan terhadapnya.


"Aku ada apartement di dekat sini, kalian boleh mampir untuk beristirahat sejenak disana hingga keadaan kekasihmu membaik," Danill berucap penuh arti, terus menawarkan bantuannya demi bisa lebih dekat dengan seorang Hanum. Wanita itu membuatnya terus dilanda penasaran dan juga suatu hal lain yang membuatnya rindu untuk mengulang sebuah kisah romansa. Meski hanya satu malam saja.


"Tidak!" seru Hanum secepatnya, ia membuka matanya lebar-lebar seraya memberikan tatapan mata tajam syarat akan peringatan pada Pria berwajah asing itu. "Aku akan pulang sendiri jika kau masih ingin berbincang dengannya. Turunkan aku!" ucapnya lagi dengan raut wajah marah seraya memaksakan dirinya untuk lepas dari dekapan Reynand.


Kedekatan yang intens serta tatap mata keduanya yang terlihat penuh arti telah mengusik rasa ingin tahunya. Ia tergugah, merasa janggal dengan keadaan yang tak seperti biasanya.


"Ekm," Reynand mengeraskan suara dehemnya. Membuat kedua insan di hadapannya itu tersadar dan refleks membuat istrinya segera menyingkirkan rengkuhkan tangan Danill dari perutnya. Mereka terkejut, lebih lagi ekspresi Hanum yang terlihat kaku dan juga tidak nyaman.


"Kurasa ... kita harus mengambil tawaran dari kolega kita ini. Kau terlihat letih dan tak bertenaga," tutur Reynand memberikan tatapan lembutnya. Namun dalam hatinya ia ingin segera tahu ada drama apa dibalik semua ketegangan ini.


Sontak Hanum langsung mengencangkan cekalan tangannya di lengan Reynand seraya menggelengkan kepalanya. Menatap penuh iba agar suaminya itu membatalkan niatnya untuk menyambangi apartemen Danill yang di sinyalir adalah tempat mereka pernah menginap bersama. Reynand berekspresi keras dengan kecurigaan yang terpancar jelas dari raut wajahnya. "Kenapa?" tanyanya seraya menaikan sebelah alisnya. Bertanya penuh intimidasi dan syarat akan tuntutan sebuah jawaban.


Hanum membungkam bibirnya rapat-rapat, lidahnya mendadak keluh ketika mendapati sorot mata penuh ancaman dari suaminya. Selama ini pria itu selalu menatapnya penuh kelembutan dan juga puja. Baru kali ini ia mendapat tatapan seperti itu yang membangkitkan bulu kuduk serta menghadirkan rasa takut yang membuatnya ingin bersembunyi dan menghindar dari konfrontasi. "A-aku hanya ingin beristirahat dengan tenang di rumah. Bukankah ... tidak baik jika kita menginap di tempat orang asing? atau kita bisa menyewa sebuah hotel terdekat dari tempat ini sehingga kita bisa beristirahat dengan nyaman disana." Hanum berucap penuh kehati-hatian agar tak memancing rasa penasaran yang lebih besar dari suaminya.


"Mari bergegas, ku rasa ... kita tak perlu repot-repot menginap di hotel jika ada kolega kita yang berbaik hati menawarkan tempat tinggalnya untuk kita singgahi. Seorang asing yang menawarkan kebaikan hatinya, mana mungkin kita bisa menolaknya?" Reynand berucap tegas diiringi tawa yang keluar dari mulutnya. Menampilkan kilasan wajah yang terlihat baik-baik saja namun menyimpan seribu makna tersembunyi yang tak mampu terbaca.


Hanum hanya bisa pasrah, tubuhnya kian lunglai diapit paksa dalam rengkuh jemari suaminya. Hatinya mendadak risau tatkala merasakan sentuhan suaminya itu tak selembut biasanya. Sentuhan itu terasa mengekangnya, mengikatnya dan memaksanya untuk tetap lekat menempel ditubuhnya tanpa jarak yang memisahkan diantara keduanya.


Danill hanya menyunggingkan senyumnya, memperhatikan dengan tenang tatkala ada percikan api yang timbul diantara kedua pasangan yang ada di belakangnya. Ia tertawa pongah dalam hatinya, berharap percikan api itu kian membesar dan menguntungkan bagi dirinya.