Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Perubahan Danill



Ramai, begitu suasana yang ia dapati tatkala kakinya barusaja berpijak di halaman rumah Danill.


Rumah yang selama ini selalu saja tenang, tak pernah disambangi oleh orang asing itu kini serasa berbeda.


Banyak kendaraan pribadi yang terparkir di garasi dan juga suara bahak tawa yang teramat menggangu itu membuat ia merasa tak nyaman.


Menghela napas lelah, Hanum mengenyampingkan segala kebingungannya dan melangkah masuk untuk segera membaringkan putrinya yang sedang terlelap.


Akan tetapi, apa yang dilihatnya di ruang tamu itu membuat ia tercengang untuk beberapa saat.


Pandangannya terkunci pada sosok pria yang selama ini selalu saja dirindukan oleh putri kecilnya.


"Danill," lirihnya dengan suara bergetar.


Pria itu terdiam, lalu kemudian beranjak menghampirinya.


"Kau baru pulang?" tanya Hanum dengan dengan terheran-heran.


Seminggu lebih ia berusaha keras menghubungi pria itu demi memberikan kabar atas putrinya yang sedang sakit, yang selalu merengek memanggil namanya bahkan hingga terbawa dalam mimpi.


Dan sekarang, bisa-bisanya pria itu malah duduk santai sembari melipat kaki di sini?


Hanum terheran sekaligus kecewa dengan sikap Danill yang seolah acuh terhadap Ivana. Di mana ia tatkala sosoknya dibutuhkan? Dan kenapa sekarang ia baru kembali bahkan tak menyempatkan diri untuk menjemput mereka di rumah sakit walaupun ia sudah mendapatkan kabar dari Hanum?


"Apa kau baru saja pulang?" tanyanya dengan suara bergetar. Sedang netranya sudah memerah dengan tetes air mata yang menyiratkan segala kekecewaannya.


Danill hanya terdiam, pria itu tak mengeluarkan sepatah katapun apalagi berniat mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata Hanum yang sudah membanjiri wajahnya.


"Seperti ini kah seharusnya kau memperlakukan putrimu? Tidakkah kau berpikir betapa dia, anakmu yang selalu saja menangis ingin bertemu dengan mu, ingin berbicara dengan mu walau hanya untuk sesaat? Dimana nuranimu tatkala kau terus saja beralasan sibuk, sibuk dan sibuk?" Hanum menyentak tangan Danill dengan kasar tatkala pria itu hendak mengusap kepala putri kecilnya.


"Maaf kan aku, Num," pria itu berucap lirih dan suaranya pun tak sampai pada telinga Hanum.


Wanita itu telah menghilang dari hadapannya, meninggalkan segala sesal yang membuat dadanya serasa sesak dihujam penyesalan.


*****


Saling diam tanpa bincang seperti hari biasanya. Semenjak kejadian hari itu Hanum dan Danill tak pernah lagi bertegur sapa, bercengkrama dan bersikap layaknya orang tua hangat di hadapan Ivana.


Wanita itu sengaja menjaga jaraknya, dan perlahan juga mulai menjauhkan Ivana dari pria itu.


"Kenapa kau melakukan semua ini padaku, Num? Kau mendiamkan ku, menjauhkan aku dari putriku, dan sekarang apa? Kau bahkan tak membiarkan aku bermain bersama dengan anak ku? Apa kau masih waras?" Danill menyentakkan sendok dan garpunya dengan keras hingga menimbulkan bunyi berisik di tengah meja makan itu.


Mengusap lembut sisi mulutnya, Hanum yang tak ingin berdebat pun memilih beranjak pergi.


"Apa kau tuli?" teriak Pria itu dengan nada geram.


Hanum menghentikan langkah kakinya, kemudian berbalik dan mengampiri pria itu, "bukankah kau sudah tidak membutuhkan kami? Bukankah kau sendiri yang mengacuhkan anak mu dan memilih untuk menghabiskan waktumu dengan mereka --- para orang-orang yang kau undang ke mari waktu itu? Pikirkan semuanya sebelum beradu argumen dengan ku, Danill. Kita sudah cukup dewasa untuk menyikapi semuanya, jujur aku sangat kecewa dengan sikapmu yang tak lagi hangat seperti dulu. Jangan salahkan aku jika kami mulai menjaga jarak dan menjauhi mu.


Bukan karena kami, tapi karena dirimu sendiri. Tanyakan pada diri mu, apakah ada yang berubah dari dalam sana?" tanyanya seraya menunjuk pada dada Danill.


Pria itu terdiam, hatinya serasa sakit tatkala melihat wanita yang selalu ia cintai itu kini bersikap acuh terhadap dirinya.


Ia rindu akan kehangatan yang sempat terjalin sebelumnya, ia rindu dengan peranan orang tua hangat yang selalu dimainkannya demi menyenangkan hati putri kecilnya. Ia rindu sangat rindu hingga setituk air matanya pun ikut jatuh di pipinya. Menyiratkan betapa hancurnya perasaannya kali ini.


*****


Hari berikutnya.


Malam itu saat Hanum sedang menemani Ivana yang hendak tidur.


Seperti biasa wanita itu selalu bersenandung lirih menyanyikan lagu pengantar tidur untuk gadis kecilnya itu.


Dan biasanya akan ada Danill yang menggerakkan jemarinya untuk mengayun perlahan box bayi itu hingga Ivana benar-benar terlelap.


Tapi sekarang, pria itu entah ada dimana, sedang berbuat apa dan dengan siapa --- ia tak tahu.


Mengutak-atik ponselnya dengan ragu.


Hanum bimbang haruskah ia menghubungi Danill yang hingga kini belum juga pulang ke rumah.


Ia khawatir, akankah pria itu baik-baik saja atau malah sedang bersenang-senang di luaran sana bersama dengan teman-temanya?


Ragam pikiran itu berkecamuk dalam kepala Hanum.


Hingga akhirnya ia menepikan sejenak egonya dan menghubungi pria itu.


Beberapa kali ia terus mencoba untuk menghubungi Danill, dan beberapa kali juga ia tak mendapatkan jawaban apapun.


"Apa kau masih hidup, ha?" Hanum memaki seraya mondar mandir tak karuan.


Hingga di panggilannya yang terakhir, akhirnya panggilan itu tersambung juga.


"Halo!" Suara itu terdengar asing dan juga lembut. Menyahutinya melalui ponsel milik Danill.


"K-kau siapa?"