Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Mungkinkah ini cinta?



Menyibukkan diri di pantry sejak pagi, Hanum membuatkan sarapan pagi yang nantinya akan ia santap bersama dengan Danill dan juga putrinya. Hanum yang merasa bersalah dan menyesali sebagian kata-kata yang sempat terlontar kala pertengkarannya tempo hari itu berniat meminta maaf dan memperbaiki semuanya dengan kepala dingin.


Memang ia yang salah, sejak awal dia lah yang seringkali mengenyampingkan soal rasa. Terlebih lagi mengenai perasaan Danill dan juga lamaran yang sering kali di ajukan pria itu kepadanya.


Ia ragu, takut untuk melangkah dan kembali terjerumus dalam ikatan yang semu.


Mungkinkah jika memang yang di rasanya saat ini adalah sebuah perasaan cinta? Atau mungkin hanya kilasan rasa yang singgah untuk sementara? Tapi jika memang yang dirasanya adalah sebuah kesungguhan, lantas sejak kapan dia mulai mencintai pria itu?


Hanum menengadahkan kepalanya, menatap langit-langit yang tak memberikan jawaban akan semua pertanyaan yang berputar dalam kepalanya.


Ia butuh pembuktian sekaligus jawaban.


...----------------...


Mengetuk perlahan pintu kamar Danill, ini kali pertama baginya ia berinisiatif untuk membangunkan Danill dan berharap agar pria itu lekas bangun sebelum sarapan yang dibuatnya itu dingin.


"Danill, apa kau mendengar ku?" Hanum sedikit meninggikan suaranya, namun ia tak kunjung mendapat jawaban.


Apakah dia baik-baik saja, atau mungkinkah pria itu sedang sakit? "Aku akan masuk," ujarnya. Ia memberanikan diri meraih handle pintu dan perlahan membukanya.


"Apa kau sakit, hm?" Hanum meletakan punggung tangannya di kening Danill, memeriksa keadaan pria itu yang ternyata tengah demam.


Pria itu mengerang lirih, sebelum kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhnya hingga sebatas leher.


"Aku tidak apa-apa. Keluarlah, aku akan istirahat sebentar," ujarnya dingin tanpa menolehkan kepalanya menghadap Hanum.


Jelas wanita itu kini tengah mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Hatinya berdesir nyeri, merasakan senyar pilu yang menyayat hatinya lagi. "Tidakkah kau memiliki sedikit kepekaan terhadapku? Aku peduli padamu, apa kau tidak melihatnya?" ucapannya sebelum kemudian Hanum beringsut dari sisi tempat tidur Danill dan bergegas keluar dari kamar itu.


...----------------...


"Kenapa kau membawaku kesini? Sudah ku bilang, aku hanya butuh istirahat!" tegasnya seraya mendengus kesal.


Hanum hanya berdecih lirih, entah kenapa pria di hadapannya itu amat kerasa kepala terlebih lagi mengenai sebuah penyakit.


"Apa kau butuh sebuah cermin?" tanyanya seraya menaikkan sebelah alisnya.


"Tidakkah kau mendengar sendiri bahwa dokter saja mengharuskan mu untuk istirahat total. Jujur saja, kau terlihat sangat jelek dengan kulit pucat itu," ucapnya seraya menyentuh wajah Danill.


Pria itu melengos, namun bibirnya tersenyum juga __ apakah dia sedang peduli padaku?


Sedangkan ia, ia masih menatap pria itu dengan ekspresi dingin.


Semula ia sempat berniat untuk meninggalkan pria itu dan mengacuhkannya seorang diri dalam ringkuk kesakitan. Namun, hatinya tak setega itu. Ia kembali menghampiri Danill dan menepikan segala egonya kemudian membawa pria itu ke rumah sakit __ meskipun sebelumnya mereka sempat beradu mulut dan tentunya ia yang menang.


...----------------...


Hari ini Danill keluar dari rumah sakit, ditemani oleh Hanum yang tak pernah absen untuk menemani dan menjaganya.


"Pulanglah lebih dulu. Aku masih ada urusan," ucapnya yang berlalu pergi begitu saja, meninggalkan Hanum yang masih mematung di sisi mobilnya seorang diri.


Sedangkan pria itu malah pergi dengan supirnya __ pria macam apa itu.


Mendengus lirih, ia sedang tidak berada dalam mood yang baik untuk mengajak berdebat pria yang kini dirasanya mulai sangat menyebalkan itu. "Pergilah, pergi yang jauh dan jangan pulang sekalian!" teriaknya keras, kemudian membanting pintu mobilnya. Ia berlalu pergi meninggalkan tempat itu.


...----------------...


Kerlip bintang yang bertabur di langit dengan nuansa malam yang tak seperti biasanya.


Sempat kesal dengan sikap Danill yang sempat berubah-ubah, namun kini sepertinya pria itu sudah bersikap normal seperti biasanya. Kembali hangat dan juga romantis.


Tak lama setelah tadi ia sampai di rumah dengan perasaan marah dan kesal. Ia yang semula sempat mengira bahwa nantinya Danill akan kembali pulang malam atau bahkan__bermalam di tempat lain seperti biasanya.


Hal itu segera terbantahkan ketika tak lama setelah ia menggerutu seorang diri, pria itu ternyata pulang lebih awal dari biasanya.


Tentu saja dengan beberapa bingkisan yang ia persembahkan untuk Ivana dan juga Hanum.


Sempat gengsi dan berpura acuh, akhirnya ia luluh juga. Bukan karena barang-barang mahal yang dihadiahkan Danill kepadanya, melainkan karena ia merasa bahagia melihat seorang Danill yang dikenalnya dulu telah kembali. Danill yang teramat mencintainya dan juga putrinya.


Terbawa suasana candle light dinnernya bersama pria itu.


Hatinya kembali berdebar ketika netra biru itu menatapnya dengan binar kesungguhan.


Sedangkan ia sendiri berusaha tetap tenang dan mengkondisikan debaran jantungnya yang berdetak tak karuan.


"Ayolah, kendalikan dirimu! Mungkinkah aku sedang jatuh cinta padanya? Atau aku hanya merasa bahagia karena dia masih Danill ku yang dulu, Danill yang memiliki sisi lembut dan juga cinta yang seluas samudra untuk diriku?


Oh Tuhan! Semoga ini bukan hanya sebuah kepalsuan. Jika memang dia adalah orang yang kau tetapkan untukku, maka himpun kami dalam satu rasa yang sama dan jangan biarkan dia berlaku seperti jodohku yang sebelumnya."