Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Diantara Dua Pilihan.



Termenung dalam kebisuan, seolah menerka bahwa semua hanyalah ilusi belaka.


Akan tetapi hatinya terasa berdenyut nyeri, seolah di hujam oleh sebilah pisau yang melenyapkan sebagian rasa dalam hatinya.


Semuanya semu, terlihat nyata namun ternyata hanya palsu.


Terlihat rupawan namun nyatanya memiliki duri yang tajam. Hanya sebuah bingkai kaca yang kini telah memunculkan retakan di atasnya, dan setitik kecerobohan telah membuat rusak segalanya.


Tiada kepercayaan, tiada kata sahabat ataupun kesan-kesan indah yang tertinggal dalam pikiran Hanum.


Semuanya sudah jelas, teramat jelas setelah Dewi menuturkan segala kejujuran mengenai sebuah rasa yang di pendamnya.


Sakit, jiwanya serasa raib ikut larung dalam kepercayaan yang terkhianati.


Kelemah lembutannya ternyata hanya berbalas pedih yang tak pernah sekalipun terlintas dalam benaknya.


Angkuh, ekpresi Hanum kembali pada titik dimana mereka bertemu pertama kali.


Hanya ada kebencian, yang memang seharusnya tak tergantikan oleh rasa kasihan dan juga perasaan bersalah.


Ia terlalu naif hingga sampai bisa menjalin persahabatan dengan seorang wanita yang pandai berkamuflase seperti Dewi.


Ya, wanita itu memang baik tapi ia tak menyangka bahwa ternyata wanita itu juga sangat menginginkan suaminya.


"Apankau tahu, semua omong kosong mu itu membuatku muak!" sarkasnya dengan nada mencela. Hanum memicingkan matanya menatap dengan angkuh pada wanita yang sudah berhasil memantik emosinya itu. "Ck, ternyata dugaan ku dari awal memang benar. Kau tak ubahnya rubah betina yang menyamar menjadi kelinci menyedihkan hanya untuk merebut sesuatu yang ku miliki, iyakan?!" Tanyanya dengan nada tinggi.


Dewi hanya tertunduk, tak menyangka bahwa semua yang dituturkanya membuat Hanum bisa sampai semarah itu. Akan tetapi nasi sudah menjadi bubur dan ia pun sudah tahu konsekuensi terburuknya pastilah ia yang akan tersingkir dari tempat itu, "enggak mbak. Mbak salah, aku memang mencintai suami mbak, tapi tidak dari dulu," jelasnya dengan tenang.


Hanum hanya bisa tersenyum miring, seolah tak peduli dengan penjelasan Dewi.


Memang salah, tapi aku bukanlah seperti yang mbak duga. Aku bukanlah rubah betina yang mempunyai niat busuk untuk menghancurkan rumah tangga mu mbak," jelasnya dengan lembut.


"Bisakah kalian berhenti berdebat? kita bisa bicarakan segalanya baik-baik." Reynand menengahi perdebatan kedua wanita tersebut dan berupaya menenangkan istrinya yang di landa kecamuk kemarahan.


"Rey, apa kamu pikir aku bisa tenang kalau udah kejadian kayak gini? perempuan ini sudah ada niat buruk yang tertanam dalam hatinya, Rey. Apa mungkin aku bisa tenang kalau ada wanita lain yang menginginkan kasih yang sama dari suamiku? Aku masih waras, Rey. Dan sampai kapanpun aku nggak akan rela untuk berbagi!" tegasnya berapi-api.


"Kamu tenang dulu, tarik napas dalam-dalam. Ini hanya kesalahan pahaman, Sayang," ujarnya seraya mengusap lembut bahu istrinya, "kita bicarakan baik-baik, oke?"


Hanum mendengus kesal. Amarahnya belumlah usai untuk ia lampiaskan.


Dan kini karena permintaan reynand ia terpaksa harus bungkam dan mendengarkan segala omong kosong yang akan di utarakan oleh wanita yang kini menjadi mantan sahabatnya itu.


"Wi, kamu sudah kami anggap seperti keluarga sendiri di rumah ini. Kami sangat terbantu dengan hadirnya kamu yang membantu mengurus rumah dan keperluan lain. Tapi kenapa, setelah semuanya berjalan dengan baik tiba-tiba kamu mengucapkan kalimat yang membuat kami ragu dengan ketulusan mu?" Reynand bertanya dengan kehati-hatian.


Dewi kian menundukkan kepalanya, meresapi sesal yang berakibat fatal pada jalinan kasih keluarga yang kini telah hancur oleh perbuatannya. "Saya tahu mas, tapi jujur saya tidak punya sedikit pun niat buruk untuk mencelakai kalian. Hanya saja hati saya selalu terusik tatkala melihat kemesraan kalian yang seringkali kalian perlihatkan di depan mata saya. Hal itu membuat saya tidak nyaman, terganggu, dan juga cemburu," jawabnya dengan suara rendah.


Hanum menggebrak meja dengan kasar, membuat Dewi terjingkat dan seketika mengangkat kepalanya. Nyalinya mendadak ciut tatkala melihat sorot mata Hanum yang memperlihatkan begitu banyak kebencian yang terarah kepadanya.


"Maaf, mbak," ujarnya lirih.


Hanum beranjak berdiri, memandang ke arah reynand dan Dewi secara bergantian, "kamu pilih deh Rey, dia pergi atau aku yang pergi dari rumah ini?" setelah memberikan pilihan tersebut ia pun beranjak pergi dari ruangan itu.


Meninggalkan suasana sesak yang seolah terus mengikatnya dalam adu argumen yang tak akan pernah usai jika saja ia tidak beranjak pergi dan menyudahi segalanya untuk berakhir sampai di sini.


"Apakah kau akan mempertahankan keberadaannya atau mempertahankan hubungan kita, Rey?"