Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Kisah di balik pernikahan 2.



"Yena. Seharusnya dulu aku tidak pernah meninggalkan dia demi menyelesaikan masa pendidikanku di luar negeri.


Kala itu, ketika genap tiga bulan kami menjalin hubungan.


Entah kenapa sosoknya yang mungil dan lugu itu berhasil memantapkan hatiku untuk segera meminangnya. Kami masih muda, kala itu.


Aku kuliah sedangkan Yena duduk di bangku kelas tiga SMA.


Perjumpaan kami di SMA yang sama, berawal dari sekedar mengamati lalu kemudian sama-sama jatuh cinta.


Ya, tepatnya Aku dulu yang memulai dan meyakinkan, Dia.


Yena, dia memiliki perawakan yang mungil, wajah yang kecil, bibirnya yang tipis serta tawanya yang selalu membuatku rindu.


Awalnya hubungan kami baik-baik saja, namun tidak ketika aku tahu bahwa dia sedang menderita suatu penyakit.


Bahkan aku sempat dibuatnya terpukul ketika wanita itu meminta dengan terang-terangan agar aku mengakhiri hubungan kita dan meninggalkannya saja.


Entah kenapa saat itu serasa ada batu besar yang menghantam dadaku, menimbulkan sesak yang membuat air mataku menggenang untuk pertama kalinya, demi seorang wanita.


Aku gila! Bagaimana bisa setelah setahun lebih kami saling mengenal aku tak tahu apapun tentang dia? Tentang penyakitnya? Apakah benar jika predikat calon suami yang baik itu pantas untukku?" Reynand mengatur deru napasnya.


"Tidak!


Malam itu, ketika kami sedang menghabiskan waktu berdua sebelum aku berangkat kuliah.


Masih teringat jelas dalam memoriku, malam itu dia terlihat sangat cantik meskipun hanya mengenakan celana jeans dan juga hoodie warna merah muda senada dengan yang ku kenakan. Senyumannya, tawanya, dan juga ia yang selalu bergelayut manja di bahuku.


Siapa sangka jika malam itu adalah kencan terkahir kami!


Dia selalu mengatakan agar Aku mengejar impianku, menjaga kesehatan, dan tak boleh sedih dengan apapun yang terjadi nanti.


Betapa bodohnya, karena aku tak mengerti jika itu adalah pesan terakhir dari Yena.


Kami saling mencintai, namun sayang Dia terburu-buru pergi tepat sebulan sebelum kepulanganku kembali ke tanah air."


Pria itu menundukkan kepalanya, suaranya terdengar berat dan sendu. Dewi mengingatkannya pada Yena, dari segi apapun itu. Tapi sayangnya, ia tak bisa membuat Reynand jatuh cinta. Mustahil lebih tepatnya.


Kematian Yena membuat Reynand terjerumus ke dunia kelam, lalu perlahan ia kembali bangkit, menata kehidupannya lagi setelah Hanum terhadir dalam hidupnya.


Menepuk punggungnya lirih, Dewi yang mengerti arti sebuah lara hanya bisa diam mendengarkan kisah lama dari suaminya. Hatinya serasa remuk ketika akhirnya ia tahu alasan dibalik pernikahan yang ia jalani saat ini.


Bukan karena ia memiliki nilai tersendiri di mata pria itu, melainkan hanya karena ia mirip dengan Yena. Seorang gadis yang telah meninggal dunia sebelum mereka berhasil mewujudkan impian asmara.


Menyedihkan bukan?


"Pasti Dia juga mengharapkan kebahagianmu di sana, Mas! Pasti dia juga ingin agar kau menemukan tempat bersandar ketika hatimu lelah," Dewi berucap lirih. Jemarinya yang tadinya menepuk bahu Reynand kini tertarik kembali ke pangkuannya.


Ia mengerti, dan entah kenapa hatinya tak lagi sesakit dulu.


Entah kenapa setelah mendengar alasan di balik pernikahan di atas kertas yang ia jalani saat ini, tak menimbulkan sesak ataupun perih yang menyayat hatinya.


Mungkin sudah tiba saatnya untuk ia beranjak. Melepaskan semua rasa yang sedari awal hanyalah miliknya sendiri. Suatu perasaan yang sedari dulu membuat ia terbebani dengan tingkat obsesi yang kian meninggi.


"Hm, mungkin seperti itu. Yena pasti juga menginginkan kebahagiaanku, bukan? Maka dari itu aku tidak pernah berpikir untuk menyerah terhadap, Hanum," ucapnya dengan yakin. Suara itu terdengar lembut namun di dalamnya tersimpan keyakinan yang tak dapat diragukan.


...----------------...


Waktu serasa berjalan lambat.


Malam yang dingin disertai rintik hujan yang tak kunjung juga reda kala itu menjadi pelengkap akan hadirnya sendu yang membelenggu dalam kalbu.


Secercah harap yang sempat ia harapkan itupun kini sudah sirna lagi.


Tak ada satu apapun yang berhak ia miliki.


Namun begitu setidaknya ia tahu, pria itu tidak pernah membencinya, dan ia lega karenanya.


Terduduk di tepian jendela kamarnya.


Memandangi curah hujan yang perlahan mulai mereda. Dewi mendongakkan kepalanya, menatap nyalang jalan masa depan seperti apa yang kelak akan dilaluinya.


Masih banyak jalan indah menuju Roma, tapi entah kenapa ia malah melalui jalan terjal berbatu yang perlahan-lahan melukai dirinya sendiri.


Seperti saat ini.


Cinta yang semula ia yakini samar-samar mulai tergenggam, kini sepenuhnya telah terhempas.


Baik dari kenyataan, maupun dari khayalan.


Sudah saatnya ia berhenti menggebu-gebu dengan hal yang tak pasti.


Berhenti berharap dengan segala khayal semu yang pada akhirnya membuat hatinya rancu seperti waktu lalu.


Ia tak mau lagi, ia ingin segera berhenti.


Berhenti menjadi diri orang lain dan berusaha untuk bangkit dari bayang semu yang menghantuinya dengan kerapuhan.


Dewi sudah memantapkan hatinya, Reynand bukan ditakdirkan untuk bersanding dengannya. Dulu ia bisa memulainya tanpa rasa takut, dan kini ia pun juga bisa mengakhirinya tanpa rasa yang sama.


"Aku menyerah sampai di sini, Rey! Semoga kelak kedepannya kita masih bisa bersua, tanpa ada lagi benci yang tersirat dalam hati."