
Buai syahdu merambah sejenak dalam hati.
Menggayuti keseluruhan raga yang telah lelah selepas mencurahkan seluruh kasih.
Kabut-kabut cinta masih menyelimuti keduanya, seolah membelenggu dan mengurung mereka untuk tak lagi beranjak dari tempat ternyaman itu.
Akan tetapi cahaya mega telah menyingsing tinggi, menghadirkan kembali kesadaran yang telah merangkap dalam sanubari.
Reynand mengerjapkan matanya perlahan, gurat wajahnya terlihat jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Ada senyum bahagia yang tertoreh di sudut bibirnya, menggambarkan betapa ia teramat bergembira dengan segala hal yang terjadi setelah semua proses menyakitkan itu sepenuhnya telah usai.
Hening untuk beberapa saat, ia terbuai dengan paras cantik yang di miliki oleh sang istri. Pandangannya terkunci hanya untuk mengagumi sosok hanum yang masih lelap dalam keheningan. Bibirnya yang tipis serta mata indah yang terpejam itu benar-benar suatu pemandangan yang berarti baginya.
Akan tetapi segera di tepisnya segala hal yang ada dalam pikirannya, ia beranjak dari tempat tidurnya lalu kemudian menghadirkan kecupan lembut di kening istrinya sebelum kemudian beranjak ke kamar mandi untuk menyegarkan diri.
******
Alunan musik klasik yang mengalun lirih seolah menjadikan istirahat hanum kian nyenyak. Akan tetapi nuansa nyaman itu perlahan-lahan mulai sirna ketika kesadarannya pun mulai kembali.
Ia mengendarkan pandangannya ke sekeliling ruangan mencari-cari keberadaan reynand yang sudah tak berada di sisinya.
Segera ia bangkit dan membawa langkahnya dengan tergesa, menuruni anak tangga tanpa membenahi penampilannya. Rambut yang tergerai panjang serta piyama bergambar panda yang masih melekat pada tubuhnya membuat ia terlihat sedikit berbeda dari penampilan biasanya, dimana ia selalu menonjolkan kesan wanita dewasa dengan sentuhan make-up yang membuat dirinya terlihat kian memesona.
Deru napasnya memburu, dadanya naik turun dan langkah kakinya terhenti tepat di depan meja makan. Ada Reynand disana yang sedang duduk tenang seraya menikmati secangkir teh hangat yang masih mengepulkan uap panas tipis.
"Rey," panggilnya lirih.
Dan kemudian pria itu memalingkan wajahnya disertai dengan senyuman yang membuat hatinya seketika menghangat, "ya," jawabnya seraya meletakkan cangkir yang ada dalam genggamannya. Lalu kemudian ia beranjak untuk menghampiri istrinya.
Di tatapnya wanita itu dengan dengan sayang lalu kemudian ia menuntun hanum untuk duduk di kursi makan, "apa yang membuat mu sampai berlari-lari seperti ini, hm?" tanyanya lemah lembut seraya mengusapkan jemarinya pada kening istrinya. "Lihatlah betapa cerobohnya dirimu," ucapnya lagi dengan nada bercanda.
Hanum hanya tersipu mendengar tutur kata suaminya, rona merah di wajahnya itu kian terlihat dan menandakan bahwa suasana hatinya sudah mulai membaik, "Aku hanya terkejut karena tidak melihat keberadaan mu di samping ku. Lagipula kenapa kau bangun awal sekali?" tanyanya seraya mengerutkan kening dan juga mimik muka yang di buat-buat kesal.
Hanum masih mengerutkan keningnya, dengan wajah cemberut menanti jawaban atas pertanyaannya yang belum juga mendapatkan jawaban dari sang suami.
Ia hanya bisa menghela napasnya, menepikan segala sesuatu yang kini mulai berkeliaran dalam pikirannya. Seolah menghasutnya untuk terus berprasangka terhadap suaminya.
Hening sejenak membentang diantara keduanya, hingga terdengar suara langkah kaki kecil dari arah lain yang kian merapat pada keduanya.
Sontak reynand pun memalingkan wajahnya ke sumber suara, lalu kemudian senyum tipis pun terurai di wajahnya, "terimakasih atas bantuannya, dewi," ucapnya lembut.
Wanita itu menganggukan kepalanya dan perlahan meletakkan nampan berisi sarapan itu ke atas meja. Lalu dengan sopan ia pun pamit undur diri hendak kembali ke belakang.
"Tunggu!" panggil hanum yang seketika membuat wanita bernama dewi itu menghentikan langkahnya, perlahan berbalik dan menghampiri hanum lagi.
"Ya," ujarnya lirih seraya menundukkan kepala. Ada ketakutan yang terselip dalam nada bicaranya dan Hanum menangkap hal itu dengan jelas.
Hanum hanya bergeming tak berucap satu kata apapun. Ia hanya mengamati penampilan dari wanita yang ada di hadapannya itu, dan tiba-tiba sebuah rasa penyesalan pun menghinggapi hatinya. Baju yang sama dan sikap rendah hati itu membuat ia merasa di hinggapi rasa berdosa karena seringkali melampiaskan amarahnya terhadap wanita itu.
"Kau bisa bergabung dengan kami di sini," ujarnya seraya memalingkan wajahnya, "ambil sarapanmu dan segera duduk di sini bersama kami," imbuhnya lagi.
Hening untuk beberapa saat, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya, ia hanya mampu menggelengkan kepalanya. Menolaknya dengan halus seraya undur diri.
Akan tetapi batin dewi terasa lebih lega daripada sebelumnya, senyumnya terus mengembang seiring langkahnya yang kian menjauh dari tempat hanum dan reynand berada.
Hanum hanya mendesah lirih ketika melihat wanita itu berlalu begitu saja dari hadapannya. Dan entah kenapa hal itu juga membuat hatinya di hinggapi rasa bersalah.
Seolah sesal akan perangai dan juga prasangka buruknya terhadap wanita itu kini menghujam jiwanya. Menyisakan sesuatu tak kasat mata yang membuat ia kehilangan kenyamanan jiwanya.
"Haruskah aku meminta maaf?"