
Mematung dalam kesunyian. Hanya saling bersitatap dengan mulut yang terkunci rapat, seraya meresapi rancu yang membelenggu raga.
Inikah ia, yang selama ini hanya bisa terjangkau melalui mimpi saja?
Memalingkan wajahnya ke arah yang lain, menghindari kontak mata dengan seseorang yang dulunya sempat menyemai rasa dalam jiwanya. Ia tak ingin lagi terjerat dalam pesona tak pasti yang hanya akan memberikan akhir pilu dalam liku asmaranya.
Meskipun kenyataannya jauh dalam dasar hatinya masih terlukis nama Reynand sebagai sang pemilik hati yang mungkin belum bisa terganti oleh siapapun di sana yang mencoba untuk mendekati.
Buru-buru melangkah menjauh, Hanum jelas tak siap dengan pertemuannya saat ini.
Bukan karena adanya Ivana yang berada dalam pelukannya, melainkan ia tak siap dengan hatinya sendiri.
Mau bagaimanapun, sosok Reynand masih terpatri kuat dalam hatinya. Dan ia tak mau jika sampai ia terbawa suasana hingga dengan mudahnya ia terlena dan memberikan maaf terhadap pria itu ___ tidak, tidak semudah itu.
Mencekal pergelangan tangannya dengan lembut, Reynand tak lagi menyiakan kesempatan yang sudah di berikan oleh Tuhan terhadap dirinya.
Inilah waktunya ia harus menjelaskan semua kesalahpahaman yang menjadikan hubungannya tercemari seperti saat ini.
"Jangan pergi! Ku mohon," ucapnya lirih.
"Sebentar saja, hanya sebentar!" ucapnya lagi, tatkala Hanum hanya bergeming dan hendak melangkah pergi.
Wanita itu menghela napas panjang, lalu kemudian berbalik lagi menatap Reynand.
Pria itu masih mematung seraya menatapnya dengan binar berkaca-kaca.
Sejenak hatinya serasa berdesir, dan membuat ia tak mampu untuk menolak permohonan yang di ajukan oleh Reynand.
"Hanya sebentar," ucapnya, seraya kembali duduk di tempat semula.
Hening untuk beberapa lama.
Reynand masih saja membisu, bingung harus memulai topik pembicaraan yang akan ia bahas.
"Num!"
"Ya," jawabnya seraya menatap datar diri Reynand.
Padahal dalam hatinya pun sebenarnya sangat berdegup, hanya saja ia menyembunyikannya. Sekedar ingin tahu apakah sosok pria yang ada di hadapannya kini masihlah sama seperti dulu ___ sosok yang sangat mencintainya.
"Pulanglah, kembali lagi ke rumah kita. Apakah belum juga cukup kau menghukum ku hingga sampai saat ini?" tanyanya seraya menggenggam jemari Hanum.
Wanita itu terdiam, lalu kemudian menyunggingkan senyum di bibirnya.
"Bukan masalah cukup atau tidaknya, Rey.
Hanya saja bukankah dulu, kau sendiri yang memilih wanita itu untuk bersanding denganmu? Lantas kenapa, sekarang kau mengharapkan hadirku lagi di dalam rumah itu? Alasan apa lagi yang harus aku dengar dan terima sekarang, Rey?"
Ada kesenduan yang merayapi hatinya, sesak yang selama ini tertahan akhirnya tertumpahkan juga pada sang pemilik rasa.
"Aku mencintaimu, Num. Sangat mencintai mu ___ sama seperti dulu," ujarnya.
Senyum melengkung tertoreh di bibir Hanum, mendengar hal itu membuat hatinya serasa menghangat. Setidaknya bukan hanya ia sendiri yang sedang menanggung rasa yang sama, tapi pria yang ada di hadapannya pun juga masih sangat mencintainya, sama seperti dirinya yang masih memendam kasih hanya untuk Reynand saja.
"Kembalilah, kita jalani lagi semuanya dari awal. Hanya kau dan aku, dan juga putri mu."
Seraya berlutut Reynand mengambil cincin yang terpasang di jari manisnya, cincin yang sama yang tersemat di jari Hanum dulu.
Lalu memasangkannya ke jemari wanita itu.
"Pulang, ya! Kita mulai segalanya dari awal."
"Terus nasip aku gimana, Mas?" Dewi berjalan tertatih, menghampiri Reynand yang kini menatapnya dengan marah.
Bangkit, ia menarik tangan Dewi untuk menjauh darinya.
Wanita itu menghancurkan segala-galanya. Bisa saja usahanya membujuk Hanum itu berakhir sia-sia jika sampai wanita itu mengucapkan sesuatu yang tak semestinya.
"Kamu apa-apaan sih!" Bentaknya seraya menghempaskan tangan Dewi dari genggamannya.
Wanita itu meringis, pergelangan tangannya yang terbebat perban itu kembali basah oleh darah. Ia menangis, bukan karena raganya yang sakit, melainkan hatinya yang serasa tercabik, " keterlaluan kamu, Mas!"
Berdecih kesal, Reynand mencengkeram wajah Dewi dengan kasar. Memperingatkan wanita itu untuk tau batasan dan mengingat segala persyaratan yang telah mereka setujui sebelumnya.
Bukan masalah besar jika ia harus mengeluarkan banyak uang untuk memenuhi kebutuhan wanita itu.
Tapi akan jadi sesuatu yang lain jika itu menyangkut dengan Kegagalan rencananya kali ini.
Meringis dan merintih, Dewi memohon dengan memelas.
"Jangan ceraikan aku, Mas," ucapnya dengan bercucuran air mata.
Ia menggenggam lengan Reynand, tak ingin hubungannya yang baru saja terjalin itu kandas begitu saja.
"Kalau kamu nggak mau cerai sama Saya, jaga setiap ucapan kamu. Jangan bicara sesuatu yang nggak penting, karena dari awal kamu bukan siapa-siapa di sini. Dan kamu juga tidak berhak untuk ikut campur mengenai kehidupan saya!" jelasnya, yang kemudian pergi dari hadapan Dewi.
Berlari kecil, ia segera kembali menuju tempat Hanum. Berniat untuk menyelesaikan segala sesuatu yang belum terselesaikan.
Ia masih menunggu jawaban dari wanita pujaannya itu.
Namun sayangnya, wanita itu sudah pergi dari sana. Meninggalkan sepucuk surat yang bertuliskan, 'Jangan cari aku lagi, aku sudah mengetahui segalanya. Semoga bahagia dengan kehidupan mu, Rey.'