
Setitik air yang terjatuh di atas permukaan tanah tandus. Tak mampu membasahi kekeringannya walau hanya untuk setitik tanah yang terkena tetesannya.
Bagai sebuah drama yang terus berkelanjutan, hanya ada sebuah kedustaan yang terbingkai rapi dalam setiap pengucapan.
Seperti hari-hari yang terus berganti.
Begitupula dengan hubungan reynand yang terus membaik seiring waktu yang terus berjalan.
Begitupun dengan hanum, wanita itu perlahan mulai luluh dan tak lagi mempermasalahkan mengenai hadirnya seorang anak manusia yang kini berusaha berkembang dalam rahimnya.
Usianya masih terbilang muda, namun kondisinya terbilang jauh lebih sehat walaupun sebelumnya memang sempat tercemari oleh obat penggugur kandungan. Ternyata Tuhan begitu menganugerahkan kuasa-Nya untuk melindungi dan menjaga janin itu agar tetap bisa bertahan dan berkembang dalam lingkup rahim ibunya.
Bertumbuh besar dan kemudian terlahir ke dunia.
Siang ini adalah jadwal pemeriksaan kandungan hanum. Dimana wanita itu selalu menjalani aktifitas yang kini sudah menjadi satu keharusan baginya untuk terus berkunjung ke rumah sakit di setiap bulannya.
Dan mereka sudah tiba disana sejak beberapa waktu lalu.
Rasa penasaran yang terus hadir dalam hati reynand membuat pria itu selalu mengupayakan yang terbaik dan rela meluangkan waktunya sejenak demi menemani istrinya itu pergi ke dokter kandungan. Untuk sekedar memantau tumbuh kembang janin yang ada dalam rahim istrinya dan melihatnya secara langsung.
Perut wanita itu belumlah terlihat membuncit ketika usia kandungannya sudah beranjak menuju bulan ketiga. Namun wanita itu tetap terlihat bugar dan tak mengalami kendala apapun dalam masa kehamilan trimester pertama kehamilannya.
Hal itu menjadi satu kelegaan tersendiri bagi reynand. Jiwanya serasa menghangat, tatkala melihat gambaran dari layar USG yang menampilkan kilasan bentuk janin yang ada dalam rahim istrinya itu.
Bahkan ia sendiri pun sebenarnya tak memahami bagian apa yang sebenarnya ia lihat.
Hanya berbentuk gumpalan-gumpalan unik yang mulai terbentuk menjadi anggota tubuh.
Namun ia tak memusingkan hal itu, bisa melihat perkembangan anaknya yang begitu sehat saja sudah menjadi kebahagian yang mendalam baginya.
Hari masih belum beranjak, sore masih menjelang dan mereka masih berada dalam perjalanan.
Reynand melihat kilas pada arlojinya, dan kemudian pria itu memilih untuk menepi sejenak untuk mencari sesuatu yang dapat mengisi perutnya.
Lalu di tolehkanlah kepalanya ke samping, memandangi sosok istrinya yang sedang menatap kosong pada kaca jendela.
Pandangannya kosong, menerawang penuh dengan pemikiran.
Entah gerangan apa yang di pikirkan oleh wanita itu hingga keningnya pun ikut berkerut dalam, seolah banyak beban yang sedang ia pendam.
Reynand menghentikan laju kendaraannya, setelah ia sampai di tempat yang ingin di singgahinya.
Jemarinya bergerak pelan menyalurkan sentuhan lembut di punggung istrinya, mengajaknya turun untuk menemaninya mencicipi hidangan manis yang mendadak di inginkan olehnya.
"Sebentar aja, Sayang." Pintanya lagi setengah memaksa.
Hanum hanya bisa menghela napasnya, memaksakan senyumnya dan mengiyakan permintaan dari suaminya.
Mereka pun bergegas turun, berjalan beriringan memasuki cafe bernuansa klasik yang menyediakan ragam hidangan dan berbagai makanan manis penggugah selera di dalamnya.
"Mau makan sesuatu?" tanya reynand sebelum ia memilih hidangan yang sedari tadi di inginkannya.
Hanum hanya menggeleng, "aku kenyang. Makanlah dan setelah itu kita bisa segera pulang," jawabnya singkat menolak tegas tanpa menyembunyikan kejengkelannya "Aku capek, Rey. Kepala ku pusing," imbuhnya lagi seraya memalingkan wajahnya. Menatap arah lain dan menghindari tatap muka dengan suaminya.
Nuansa hatinya sedang buruk, dan kali ini ia tak ingin ada perdebatan apapun yang terjadi.
Reynand mengaggukkan kepalanya kilas, lalu kemudian ia kembali beranjak dari duduknya.
Ia membawa langkahnya cepat mendekati beberapa etalase kaca yang menyediakan aneka dessert cantik bertabur aneka topping di atasnya.
Begitu menggugah selera dan membangkitkan rasa laparnya.
Setelah usai memilih beberapa kue cantik yang diinginkannya, ia pun segera kembali menghampiri meja yang tadinya sempat di tempati oleh istrinya.
Namun ternyata meja itu telah kosong, berganti dengan orang lain.
******
Lelah ia mencari keberadaan hanum, wanita itu pergi begitu saja tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
Hatinya pun mulai di gayuti kecemasan, ketakutan akan hal bodoh yang mungkin saja akan di lakukan lagi oleh istrinya itu.
Hari sudah mulai petang, dan pencariannya pun belum membuahkan hasil. Ia segera memutar mobilnya lagi, mencari-cari di berbagai tempat yang dulunya sempat di singgahi oleh mereka. Tempat dimana mereka sering menghabiskan waktu berdua, dan menikmati nuansa bahagia bersama.
Namun semuanya nihil, tak ada tanda-tanda keberadaan istrinya di sana. Rumahnya pun kosong, begitupun dengan rumah mertuanya.
Tidak ada hanum di tempat mereka.
Dan hal itu membuat reynand kian tak tenang.
Hatinya gundah, resah di hinggapi rasa bersalah.
'Jika saja aku tak berlaku serakah, memaksamu untuk menemaniku. Harusnya kau masih ada di sini. Duduk bersamaku dan menikmati malam indah kita, bersama.
Kembalilah, setidaknya jika kau tak ingin kembali, beri aku sebuah petunjuk akan keberadaan mu. Agar aku mampu untuk menemukan mu dan membawamu kembali dalam pelukku.'