
Masih singgah di negara yang sama.
Pagi ini rasanya tak seperti pagi-pagi sebelumnya, di mana kemarin ketika ia mendapati dirinya selalu terbangun seorang diri dan kemudian termenung untuk beberapa saat memikirkan sesuatu yang tak berarti.
Tapi untuk pagi ini, ceritanya sedikit berbeda. Entah kenapa ada sedikit gelenyar hangat yang merambah dalam hatinya ketika mendapati sosok mungil nan cantik itu masih merebah di sisinya seraya memejamkan mata.
Parasnya yang cantik itu sedikit terhalang oleh surai warna pirang yang tergerai bebas tanpa bebat, seperti biasanya.
Sudah kesekian kalinya ia terkagum dengan paras yang dimiliki oleh Ivana.
Wajahnya yang cantik, pipinya yang chubby kemerah-merahan, serta warna matanya yang sebiru lautan membuat Reynand terkesima setiap kali melihatnya.
Semuanya sempurna, perpaduan serasi yang menggambarkan duplikat nyata dari Hanum dan juga Danill.
"Sayang sekali, Uncle tidak punya kesempatan untuk menjagamu. Gadis cantik nan jelita, betapa bahagianya Danill sekarang karena telah memilikimu sebagai putrinya," gumamnya lirih.
Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, siang malam, pagi dan petang silih berganti dengan begitu pesat.
Berikut dengan keakraban yang terjalin antara Reynand dan Ivana. Akhir-akhir ini mereka lebih sering lagi menghabiskan waktu bersama,
entah itu untuk sekedar bermain ataupun istirahat.
Hubungan mereka terjalin dengan sangat baik dan juga intens, dan keduanya sama-sama menikmati kebersamaan itu seolah tiada kata bosan bagi mereka.
Reynand pun tak keberatan dengan hal itu, mengingat bahwa saat ini Hanum harus memprioritaskan seluruh waktunya demi bisa menemani Danill yang harus bolak-balik rumah sakit untuk check-up kesehatan ataupun opname barang satu atau dua hari di bawah pengawasan dokter pribadinya.
Sempat terkejut dengan penuturan Hanum mengenai penyakit yang diderita oleh Danill, ia paham betul bahwa sekarang prioritas utamanya adalah kesembuhan dari pria itu. Dan ia sama sekali tak merasa terbebani jika harus menjadi sosok ayah pengganti demi menyenangkan hati Ivana, bisa membuat gadis itu tertawa ceria saja merupakan satu kebanggaan tersendiri baginya.
Kala itu.
Wanita itu terduduk sendiri di depan perapian. Ia menekuk lututnya seraya menopangkan dagu di atasnya. Sedikit mendekat pada nyala api, menatap kosong pada pijar yang menyala-nyala.
Ia terdiam di sana seraya menghela napas panjang beberapa kali, dari raut wajahnya yang pias tergambar jelas bahwa suasana hati wanita itu sedang tidak baik-baik saja.
Bergeming dalam kebisuan, Reynand masih mematung di sisi anak tangga terakhir seraya menimbang-nimbang apakah ia akan melangkahkan lagi kakinya lebih dekat atau hanya tetap diam di sana seraya mengamati wanita itu dari kejauhan, tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang menggangu pikirkan wanita itu.
Namun ternyata, rasa ingin tahunya jauh lebih besar dari pada keraguan yang semula sempat membelenggu hatinya. Ia memilih untuk beranjak dari tempatnya, menghampiri wanita itu dengan maksud baik. Berharap agar wanita itu bisa membagi sedikit beban yang dimilikinya pada dirinya. Ia tak keberatan, sama sekali tak merasa terbebani.
Mengangsurkan satu kaleng soda pada wanita yang kini sudah menjadi mantan istrinya itu. Hanum sempat terpaku beberapa detik sebelum akhirnya ia menerima pemberian dari Reynand.
"Makasih, Rey!"
Membisu dalam keheningan, mereka berdua sama-sama bungkam tak tahu harus membahas apa.
Namun bukan berarti Reynand tak ingin bertanya mengenai apa yang sudah terjadi pada wanita yang ada di hadapannya itu, hingga membuat sosoknya yang ceria itu berbeda dari biasanya.
"Apa kau baik-baik saja?" Akhirnya pertanyaan itu tercetus juga dari bibir Reynand.
Pria itu menatap lurus pada bola mata Hanum yang bergerak gusar ketika pandangan mereka bertemu.
Tercekat untuk sejenak, lidahnya keluh tak bisa berkata-kata ketika netra tajam itu menatapnya dengan binar kekhawatiran.
Suaranya yang terdengar lirih, namun menyampaikan getir gelisah yang begitu mendalam. Reynand sedang khawatir padanya, dan ia tahu itu.
Masih membisu dalam keheningan, beberapa kali ia juga mengembuskan napas tak beraturan. Dadanya sesak seperti tertimpa beban berat yang membuat ia dirundung ketakutan. Ia tertunduk, bersamaan dengan jatuhnya bulir air mata yang sedari tadi menggenang dalam kelopak matanya.
Ia tersedu, bahunya naik turun dan isaknya kian menjadi-jadi.
"Bagaimana aku bisa baik-baik saja, jika pria yang ku cintai saja saat ini sedang sekarat, Rey!" ucapnya seraya memeluk lututnya sendiri.
Reynand terkesiap, hatinya mendadak perih ketika ia mendengar kata sekarat.
Sebuah kata yang membuat ia teringat lagi pada seberkas kisah lama, mengenai kematian orang terkasihnya.
Hanum sedang tidak baik-baik saja, begitupun dengan dirinya, dulu.
Tersedu lagi, Hanum menahan sengguknya dengan susah payah. Meski ia harus tersengal-sengal sekalipun, jangan sampai tangisnya itu sampai pada telinga Danill.
Pria itu hanya boleh tau tentang ketegaran dan keceriaan yang ia miliki. Cukup tawa dan bahagianya saja, tidak dengan tangis dan keputusasaan yang ia sembunyikan.
Sebab kedua rasa itu bila ia perlihatkan baik dengan sengaja ataupun tidak, hanya akan membuat kesehatan pria itu kian melemah dan menyongsongnya lebih cepat pada kematian.
"Kau bisa melepaskan semua beban yang selama ini kau tanggung sendirian di atas pundakku! Sungguh, aku tidak mengharapkan imbalan apapun, karena aku tahu bagaimana rasanya berjuang dalam ambang ketakutan.
Aku tahu, seberapa beratnya usaha yang saat ini sedang kau coba untuk maksimalkan.
Jadi menangis lah! Selagi masih ada bahu untukmu bersandar, jangan takut akan kehilangan. Yakinlah di ujung kisah yang saat ini sedang kau jalani bersama dengan pria pilihanmu, di depan sana akan ada bahagia yang sedang menanti kalian berdua.
Entah itu kisah yang terjalin dalam dunia, ataupun kisah yang nantinya terjalin lagi dalam nirwana. Berbahagialah! Selagi ada seseorang yang masih kau miliki di sisimu, maka jangan khawatir mengenai kematian yang masih menjadi bayang-bayang."