
..."Seperti waktu yang berjalan dengan lambat....
...Bagai harmoni indah namun tak memiliki nada istimewa. Aku menaungi sepiku dengan penuh tatih. Seakan baru terjadi kemarin, kepergianmu yang tiba-tiba itu, ternyata sudah berlalu cukup lama. Aku masih menantikannya, sang waktu yang kian berputar cepat, mengharapkan agar Tuhan lekas mengabulkan inginku untuk kembali bersua denganmu."...
...Hanum Salsabiela....
...----------------...
Hari ini cuaca kembali tak menentu. Diawali dengan pagi yang dingin sekaligus berangin, serta rintik hujan yang belum juga selesai sejak malam tadi.
Memeluk lututnya dan menumpukan kepala di atasnya, Hanum termangu menatap kosong pada jendela yang berembun.
Wanita itu terdiam di sana seraya mengendarakan pandangan menembus pemandangan luar. Seolah ia sedang menari di bawah rintik hujan dan kuyup karenanya.
Seulas senyum tipis tertoreh di bibirnya, entahlah, mungkin hari ini suasana hatinya sedang tidak buruk.
Tok ... tok ... tok!
Ketukan di badan pintu membuat ia lekas kembali dari lamunannya, ia beranjak, lalu kemudian membukakan pintu tersebut.
Reynand, pria itu mematung di hadapannya dengan membawa satu nampan penuh berisi bubur ayam hangat dan juga segelas susu.
Ia tersenyum, lalu sedikit menjauh dari sisi pintu, dan kemudian mempersilakan pria itu masuk ke dalam kamarnya.
"Makanlah! Lalu setelah itu, minum obatmu." Pria itu berujar lembut setelah meletakkan nampan itu di atas meja nakas.
Hanum mengangguk, bibirnya menoreh senyuman. Lalu dengan patuh ia segera menyantap sajian tersebut dengan perlahan-lahan. Sesekali ditiupnya sesendok bubur yang masih mengepulkan asap putih. "Masih panas," ujarnya lirih.
Pria itu tersenyum tipis, "pelan-pelan!" imbuhnya sembari beranjak dari duduknya.
Mengambil sisir di sudut meja rias, Reynand melepas ikat rambut yang sudah kusut karena membebat helaian rambut mantan istrinya itu.
Diurainya kembali rambut yang sebelumnya sudah tergerai kemana-mana.
Ia menyisirnya perlahan-lahan, sedang bibirnya bersenandung kecil melantunkan melodi bernuansa cinta.
Suasana di ruangan itu menjadi hangat, sentuhan jemari yang menari dan membelai surai panjang Hanum terlihat sangat luwes.
Reynand seperti sedang menjalankan peranan sebagai sosok ayah bagi wanita yang sudah terlampau dewasa untuk ia anggap sebagai seorang anak sendiri.
Tapi apapun itu, Reynand menyukainya. Ia menikmati setiap momen yang terjadi di antara ia dan Hanum. Bukan karena apa ia melakukan hal tersebut, hanya saja, sifat wanita itu seolah sedang kembali menjadi sosok gadis muda yang penurut tanpa tahu cara membantah.
Perubahan itu terjadi semenjak kejadian malam itu.
Di mana saat itu hujan turun dengan derasnya dan pemadaman listrik terjadi secara tiba-tiba.
Suara petir yang menyambar-nyambar, dengan kilatan cahaya putih yang terlihat jelas di jendela kaca rumahnya. Hanum terkesiap, ia menutup kedua telinganya rapat-rapat. Wajahnya panik, degup jantungnya berpacu lebih cepat.
Petir, dan gelap. Ia takut dengan kedua hal itu, begitupun dengan Ivana, putrinya.
Tak ada senter, ataupun ponsel yang dapat ia jadikan sebagai alat penerangan.
Dengan tersuruk-suruk ia meraba-raba sisi dinding ruangan yang ada, seraya memanggil Ivana yang letak kamarnya berseberangan dengan ruang kamarnya. Agak jauh, namun ia dapat mendengar tangis gadis itu yang sedang mendekat ke arahnya.
"Tenang, Sayang. Ada mama di sini," ujarnya setelah berhasil menemukan gadis itu.
Ia membawa Ivana dalam dekapannya, memeluknya lama, hingga tangis gadis kecil itu benar-benar mereda.
Diusapnya bekas air mata yang tertinggal di pipi gadis itu, "anak mama, nggak boleh nangis dong," ujarnya dengan senyum yang dipaksakan.
Gadis mungil itu terdiam, namun tak berselang lama, ia menganggukkan kepalanya juga.
Seolah mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh ibunya. Ia tak boleh cengeng, dengan begitu mamanya pasti akan lebih menyayanginya.
Menggenggam jemari tangan mungil itu dengan kedua tangannya yang menyalurkan senyar kehangatan. Jemari kecil itu masih sedikit gemetar, meski guyur hujan dan suara petir tak lagi terdengar.
Begitupun dengan yang ia rasa. Akan tetapi, ia tak memperlihatkannya, karena ia tak ingin melihat putri kecilnya yang sudah tenang dalam dekapannya itu kembali menegang karena ketakutan.
Selepas kejadian tersebut, Hanum yang biasanya memiliki kepribadian buruk dan emosi yang meluap-luap, sosoknya yang seperti itu seolah hilang bak ditelan bumi.
Hanya ada keheningan. Wanita itu jarang sekali berbicara panjang lebar, mungkin ... hanya beberapa penggalan kata yang ia gunakan untuk menjawab atau menjelaskan isi hatinya.
Tidak ada lagi tatapan tajam yang ia tunjukkan, yang ada hanyalah binar mata teduh dan sesekali berubah menjadi berkaca-kaca tatkala ada sesuatu yang membuat relung hatinya terasa tak nyaman.
Hanum, pribadi wanita itu tak lagi sekejam dulu. Ia lebih memilih diam, tenang, dan menyalurkan kasihnya melalui jemari tangan.
Sesekali ia mengecup pipi anak gadisnya, tatkala gadis kecil itu lelap dalam buai mimpi.
Namun terkadang, ia juga mengusap lembut kepala anak itu, tatkala Ivana mengetuk kamarnya untuk sekedar bisa melihatnya yang sering termangu menatap kosong pada jendela kaca.
Sepertinya lebih baik begini, tidak ada kebencian yang terpancar lagi dari dalam dirinya.
Hanya ada guratan senyum dan sepenggal kata-kata manis yang sesekali ia ucapkan untuk putrinya.
Hanum mulai menerimanya, segala takdir yang berlaku dalam hidupnya dan liku panjang yang entah sampai kapan harus ia tapaki.
Hanya persoalan waktu, sampai pada akhirnya nanti tatkala Tuhan menjemputnya untuk pulang.