Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Pregnant



Hanum masih berdiri di tepian kaca jendela, memandangi indahnya langit senja yang masih setia membentang di langit kota. Warna jingga kemerahan yang terlihat dari pantulan jendela kamar mandinya itu berhasil membuat kecemasan yang merundung hatinya sedikit terangkat dari pundaknya.


Sudah berselang lima hari sejak mual muntah yang menderanya di setiap pagi itu seolah tak kunjung usai. Dan hal itupun menimbulkan spekulasi lain tentang suatu hal yang semula dikiranya sebagai sebuah sakit ringan.


Namun ia teringat lagi, bahwa jadwal datang tamu bulanannya itu sebenarnya telah mundur dan berselang hingga satu minggu dari tanggal yang seharusnya.


Hingga ia pun akhirnya memilih untuk melalukan uji tes untuk membuktikan kebenaran dari segala terkaannya.


Hanum mengetukkan jemarinya cemas di meja marmer yang ada di dekat wastafel. Wanita itu masih menghitung setiap detik yang di butuhkan oleh alat tes kehamilan itu hingga menunjukkan garis merah yang akan memperlihatkan hasil ujinya.


Ia bergerak gelisah, membawa langkahnya mondar-mandir seolah gusar dengan hasil yang akan ia lihat nanti.


Namun rasa penasaran pun tak luput juga ikut hadir dalam benaknya, memaksa ia untuk kembali mendekat dan meraih alat tes kehamilan yang pastinya sudah menunjukkan tanda garis merah di atasnya.


Hanum menghembuskan napasnya perlahan, seolah ia sudah siap dengan segala kemungkinan yang ada. Netranya yang semula sempat terpejam pun perlahan mulai membuka, dan kian membulat tatkala melihat hasil dari tes urine-nya.


Ia tercekat, lunglai sekaligus tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


Ia hamil, dan seketika membuat wanita itu dilanda kecemasan emosional. Ia ragu dan hal itu seolah membuat angannya terus berpikir keras akan dugaan mengenai anak yang ada dalam perutnya.


'Mungkinkah ini adalah benih dari pria itu?' batinnya dalam hati.


Ia menundukkan kepalanya seraya memandangi perutnya yang masih berbentuk rata itu, lalu kemudian mengusapkan jemarinya di sana dengan sedikit kasar. Ada secercah rasa benci yang timbul dalam hatinya, seolah ia tak pernah mengharapkan akan hadirnya janin yang kini tengah mencoba berkembang dalam rahimnya.


Ia merasa terkekang, tak siap untuk menerima kenyataan akan hadirnya benih dari pria asing yang pertama kali membuahinya.


Ia tak sanggup menerima kebenaran, ia takut bahwa janin yang ada dalam kandungannya itu bukanlah hasil dari penyemaian antara dirinya dengan reynand. Hingga akhirnya ia hanya bisa tertunduk, meratapi kehidupan yang tak pernah berjalan mulus sesuai dengan harapnya.


Hanya sebuah tangisan lirih yang kini dirasanya mampu mengurangi segala kegusaran dalam hatinya.


*****


Senja kini telah berganti, bergulir menjadi malam gelap bertabur beribu bintang di angkasa. Mencerminkan keindahan tiada tara bagi siapa-siapa saja yang bersedia mendongakkan kepalanya untuk melihat seberapa menakjubkannya ciptaan Tuhan yang Maha Esa.


Dalam kesendirian, wanita itu kini tengah terduduk di ruang tamu seraya termenung dalam diamnya, memandangi badan pintu yang masih tertutup rapat di hadapannya. Ia menanti kedatangan reynand, sosok suaminya yang akhir-akhir ini seringkali membuatnya didera rasa rindu sekaligus cemburu.


Ia merindu akan suara dan juga sentuh lembut dari jemari suaminya, tatkala pria itu sedang tak berada di sisinya. Namun terkadang ia juga benci tatkala pria itu malah seringkali mengganggunya dengan segala perilaku yang seolah menguji kesabarannya. Membuatnya seringkali menghela napas dan juga menggertakkan gigi gerahamnya yang tersembunyi di balik garis senyum menawan di bibirnya.


Itu terjadi beberapa hari yang lalu, dan sebelumnya ia sangat menikmati semuanya, hingga hari ini keseluruhan mood-nya berubah menjadi lebih buruk dari hari biasanya.


Kehamilannya benar-benar mengacaukan kehidupannya.


Bukan karena ia tak ingin mengandung penerus keluarganya, melainkan keraguan akan ayah dari janin itu sendirilah yang seketika memporak-porandakan suasana hatinya.


Membuat ia dirundung dengan rasa bersalah sekaligus membangkitkan bayangan rupa anaknya yang memiliki kemiripan dengan sosok pria Rusia itu.


Hal itu pastinya akan menjadi momok yang akan menimbulkan dampak buruk sekaligus membebani psikisnya kelak.


Ia tak ingin membenci darah dagingnya sendiri, tapi jika semua bayangan yang ada di kepalanya itu benar-benar terjadi, apakah mungkin ia masih mampu untuk memberikan kasih sayangnya kepada anaknya kelak?


Sedangkan ia sendiri pun sangat benci terhadap sosok pria Rusia yang kemungkinan besar memiliki kesamaan gen dengan janin yang kini berada dalam perutnya.


Ia mengusap wajahnya kasar, hatinya seolah resah di landa kebingungan antara harus memberitahu suaminya atau tidak mengenai kabar kehamilannya ini.


Namun ia takut jika saja ia memberitahu Reynand, maka pria itu akan menolak dan melenyapkan segumpal darah yang kini mencoba berkembang dalam rahimnya.


Daripada ia harus menerima penolakan, bukankah lebih baik jika hanya dirinya sendirilah yang tau dan ia sendiri pulalah yang akan melenyapkan gumpalan darah itu dari dalam rahimnya?