Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Sengit.



Hanum menelusuri penampilan wanita yang ada dihadapannya itu. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, hampir semua yang dikenakan oleh wanita itu adalah barang branded berharga mahal.


Tak ketinggalan pula dengan tas jinjing yang ada di pergelangan tangannya.


Tas jinjing warna merah menyala berlogo H itu amat serasi dengan Dewi yang saat ini memakai gaun putih bersih yang membalut tubuhnya.


Wajahnyapun terlihat lebih tirus disertai corak kulitnya yang lebih cerah sejak kali terakhir mereka bertemu.


"Apa kabar, mbak?" tanyanya seraya mengalihkan pandangannya kearah kaca.


Dari bahasa yang terlontar dari mulut wanita itu, sepertinya ia bukan lagi Dewi yang dulu.


Seorang wanita sederhana yang punyai karakter gadis desa.


"Baik, kamu sendiri gimana? Kayaknya makmur?" cibirnya dengan nada mencela.


Terkekeh mendengar hal itu, Dewi tak hendak membantahnya. Memang saat ini kehidupan wanita itu sangatlah berkecukupan.


Lantas apa salahnya jika ia sedikit menyombongkan diri dan juga kepongahan dirinya pada mantan majikannya itu.


"Aku baik, dan seperti yang mbak lihat sendiri. Aku kian makmur dan bahagia."


Mendengar hal itu, darah Hanum serasa kian berdesir. Bagaimana bisa wanita di hadapannya itu bisa begitu angkuh terhadap dirinya? Sedangkan sekarang ia lah yang harus mati-matian meredam emosi yang telah bergolak dalam dadanya akibat tutur kata tak menyenangkan dari wanita di hadapannya itu.


"Oh ya! Aku bersyukur atas hal baik yang menimpamu. Semoga Tuhan tidak menimpakan nasip sial kepadamu, atas segala apa yang telah kau lakukan dimasa lalu. Bukankah hukum karma itu ada? Dan ... jujur aku sangat menantikan hal itu terjadi pada kehidupan mu." Seraya merapikan tatanan rambutnya yang masih tertata sempurna, ia pun melenggang pergi. Dan sebelum kakinya itu benar-benar keluar dari ruangan itu ia pun menolehkan kepalanya lagi.


"Tidakkah kau berpikir, bahwa seharusnya kita perlu mengadakan reuni keluarga? Antara kau, aku dan juga kau bisa juga bisa memperkenalkan aku pada siapa gerangan yang berkenan merubah dirimu hingga seperti sekarang ini. Pastilah dia orang yang berbudi baik, bukan?" Hanum mencibirnya dengan iringan tawa.


Seolah tak merasa berdosa ia meninggalkan Dewi begitu saja dalam suasana hati yang amat berantakan.


Seolah ia merasa terhina oleh kata-kata yang sengaja dilontarkan Hanum untuk dirinya.


'Cih, jika saja kau tau siapa dia. Apakah kau masih mampu untuk bertutur kata sombong seperti ini kepadaku, mbak."


...----------------...


Kembali duduk bersama dengan Danill dan juga putrinya.


Senyum cantiknya terulas tipis ketika ia melihat bahwa Dewi memandanginya dengan raut wajah kesal dari kejauhan sana.


Ya, wanita itu masih memerhatikan segala gerak-gerik yang dilakukan oleh Hanum.


Begitulah yang dirasa oleh Dewi saat ini.


Ia seolah tak terima dan marah akan sesuatu yang ada didepan matanya. Melihat Hanum yang tertawa lepas bak tak punyai beban apapun dalam hidupnya itu, membuat ia merasa bahwa hidupnya tak pernah lebih baik jika dibandingkan dengan Hanum.


Bagaimana tidak, jelas saat ini Hanum sudah tidak lagi bersama dengan Reynand. Akan tetapi kenapa wanita itu malah terlihat baik-baik saja dan bahagia bersama pria lain?


Dan kenapa dia tak bisa sebahagia itu, meski sudah memiliki seseorang yang ia sukai?


Ragam pertanyaan itu terus berputar dalam kepalanya. Sengaja mengikuti Hanum dan bermaksud untuk mengetahui kehidupan wanita itu dengan lebih dekat, ternyata bukanlah suatu tindakan bagus yang telah diambil oleh Dewi.


Alih-alih senang, ia malah meradang. Terbakar cemburu dengan sesuatu yang tak pernah ia miliki hingga saat ini.


Memilih untuk beranjak, ia dengan amarah yang nyaris saja meledak itupun melangkah pergi. Melewati Hanum yang malah menyinggungkan senyum kemenangan di wajahnya.


"Kenapa kau terburu-buru pergi, hm? Tidakkah kau ingin bergabung dengan kami di sini?" tanya Hanum dengan basa-basi.


Mendesis lirih, Dewi mau tak mau harus menampilkan senyumnya dengan terpaksa.


Mengingat di situ tak hanya ada Hanum seorang, jadi sebisa mungkin ia harus menjaga imagenya agar terlihat santun dan juga menawan.


Dengan pergelangan tangan yang masih tercekal, Dewipun mau tak mau bergabung juga dengan mereka.


Berbasa-basi receh membahas hal yang seharusnya tak masuk dalam topik perbincangan dan harus menahan rasa kesal yang kian terasa mengganggu.


"Oh ya, mbak. Apakah dia ini suami mu?" seraya melirik kearah Danill.


Pria itu tertegun, kenapa juga ia harus ikut-ikut dibawa dalam perbincangan mereka.


Terganggu dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh wanita itu, Danill pun membuka suara.


Tatapannya tegas, sedang posturnya tegap menghadap ke arah Dewi.


"Tidak bisakah jika kau tidak membahas sesuatu yang bersifat privasi di sini? Terlebih lagi diantara kami berdua? Apakah kau merasa keberatan jika aku tidak menjelaskan status hubungan ku dengannya?" Rentetan pertanyaan itu membuat Dewi terdiam.


Antara malu dan segan, seolah terbungkam dengan kata-kata Danill yang memaksa dirinya untuk tak lagi bersuara dan memantik perdebatan yang kian panas.


Ia beranjak dari duduknya, wajahnya masam tanpa ada lagi mimik muka dusta yang terpasang diwajahnya.


"Aku undur diri, mbak. Dilain waktu, akan ku pastikan kita bertemu. Tentunya bersama seseorang yang punya budi baik, seperti yang kau ucapkan tadi. Dan lagi, jangan lupa bawa kekasih mu yang angkuh inn ketika kita bertemu."