Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Paras Rupawan



Mata sembab dengan raut wajah sayu membingkai paras hanum pagi itu.


Wanita itu terlihat menyedihkan tatkala melihat bayang dirinya dalam pantulan cermin. Ekspresinya terkejut seolah tak menyangka bahwa beban pikirannya akan menimbulkan efek buruk pada parasnya.


Paras yang biasanya menawan kini seolah sayu, tenggelam dalam kepedihan yang di luapkannya semalam.


Akan tetapi apapun yang terjadi ia tetaplah akan menjadi nyonya di dalam rumah ini, ia adalah pemilik dari raga suaminya dan sampai kapanpun ia tidak akan memberikan ruang bagi wanita lain untuk masuk kedalam lingkup kenyamanan pribadi mereka.


Setelah usai dengan polesan lipstik di bagian bibirnya, hanum pun kembali berkaca dan tersenyum tipis tatkala melihat pantulan bayang dirinya sendiri.


Ia masih terlihat cantik meski dengan perut yang terlihat membuncit. Akan tetapi ia tetaplah terlihat anggun dan juga memesona.


Ditambah dengan senyum cantik yang terus terpancar dari sudut bibirnya membuat ia kian tampil paripurna meski dengan keadaan hati yang masih teramat hancur.


*******


Langkah kaki mengayun perlahan, menuruni anak tangga dengan sikap anggun bak ratu bangsawan. Hanum memicingkan matanya tak suka tatkala mendapati wanita asing itu mengambil alih pekerjaan rumah tangganya.


Terlebih lagi ketika wanita itu menyiapkan sajian pagi yang akan di santap oleh suaminya.


Ia mengetatkan gerahamnya seraya mempercepat langkah kakinya menghampiri wanita itu dan menahan tangannya untuk tidak menuangkan nasi ke atas piring suaminya.


Pandangannya tajam, menyiratkan ancaman sementara cekalan tangannya menguat lalu kemudian menghempasnya kasar untuk menepi dari sisinya.


"Entah siapa dirimu dan siapa namamu, aku tidak peduli! tapi satu yang pasti, jauhi tempat yang tidak ada kapasitasmu di dalamnya.


Terlebih lagi urusan menghidangkan makanan untuk suamiku. Menjauh darinya dan enyah dari hadapanku!" Hanum menekankan setiap ucapannya dengan nada geram.


Wanita itu menganggukan kepalanya mengerti, lalu kemudian hendak pergi dari hadapan keduanya.


Namun panggilan dari reynand yang menyuruhnya untuk bergabung bersama dalam sarapan pagi membuat wanita itu berdiam diri. Sesekali ia melirik kearah hanum yang terlihat kian geram setelah mendengar ucapan seperti itu.


"Duduk, dan bergabunglah dengan kami. Makanan ini kau yang membuatnya, akan lebih baik jika kau bergabung dengan kami lalu bisa membereskannya setelah selesai." Reynand berucap tenang seraya menopangkan dagunya, menanti wanita itu duduk seperti yang ia perintahkan.


Reynand hanya bergeming, ia tak berkata apapun apalagi berniat untuk memulai perdebatan di pagi hari. Hanya tatap mata yang menginsyaratkan untuk tidak mendebat segala keputusannya, itulah yang sekiranya dapat di tangkap oleh hanum.


Hanum berdecih kesal, moodnya benar-benar berantakan. Emosinya kembali meluap seolah tersulut oleh bara api yang membangkitkan segala amarahnya yang sempat mereda.


"Apa istimewanya wanita ini bagimu, Rey?" tanyanya dengan suara parau seraya menarik paksa selendang yang semula di kenakan oleh wanita asing itu.


Sontak saja wanita asing itu langsung menundukkan kepalanya seraya menutupi bagian wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia tertunduk dengan juntaian rambut panjang berwarna hitam legam yang menutupi sebagian wajah dan juga tubuhnya.


Wanita itu gemetar menahan air yang perlahan mulai merebak di pelupuk matanya.


Ia berucap lirih, meminta hanum untuk mengembalikan selendang miliknya.


Akan tetapi hanum terlanjur meradang, kemarahannya telah membutakan matanya dan juga menghilangkan akal sehatnya.


"Apa yang kau tutupi dengan kedua tanganmu itu, ha? bukankah suamiku menyukai kecantikan wajamu? lantas kenapa kini kau berusaha menyembunyikannya dariku?" sarkasnya seraya menarik paksa tangan wanita itu untuk tidak lagi menutupi bagian parasnya.


"Jangan! jangan," mohon wanita itu dengan memelas. Namun upayanya sia-sia, hanum yang telah tersulut api kemarahan pun akhirnya berhasil membuat paras wanita asing itu akhirnya terlihat dengan jelas.


Ia sempat tertegun sesaat setelah melihat bahwa wanita di hadapannya itu memiliki paras ayu dan terbilang rupawan.


Jika dirinya dengan paras khas gadis blasteran, maka wanita itu memiliki ciri khas gadis dalam negri dengan paras cantik yang memiliki daya pikat tersendiri.


Sontak hanum pun kembali melemparkan selendang itu kepada wanita asing tersebut, "pakai selendang mu, dan jangan pernah berpikir untuk melepaskannya. Apalagi sampai berpikir untuk menggunakan parasmu dan kemudian berpikir untuk menggoda suamiku." Hanum memberikan peringatan terakhirnya, lalu ia memalingkan wajahnya dan kembali duduk di sisi reynand.


Ekpresinya datar, ia seolah acuh akan keberadaan reynand yang masih menatapnya dengan ekspresi bingung.


Namun ia tak peduli, tak berniat pula untuk meminta maaf terhadap wanita asing itu.


Ia hanya berusaha untuk mencari jawaban atas segala kebingungan yang membelenggunya, namun sayangnya suaminya sendiri seolah enggan untuk menuturkan kejujuran kepadanya hingga semuanya harus berakhir dengan cara seperti ini.


Posisinya sebagai wanita merasa terancam, dan instingnya menuntunnya untuk bertindak terlebih dahulu sebelum semuanya terlanjur terlambat.