Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Tak Bersua



Seberkas cahaya lilin terakhir pun akhirnya padam.


Harap akan makan malam romantis pun sirna tanpa hadirnya momen bahagia seperti yang di harap-harapkan.


Hanum masih memandangi beberapa hidangan di hadapannya yang sudah tertata apik, namun tanpa uap panas yang mengepul di atasnya.


Sajian itu telah dingin, entah sudah berapa jam berselang sejak peluhnya berhenti bercucuran demi membuatkan hidangan istimewa untuk suaminya selepas pulang kerja. Akan tetapi yang di tunggunya malah tak kunjung menampakkan kehadirannya.


Jengah menatap aneka makanan di hadapannya, selera makannya pun juga telah sirna seiring menguapnya hawa panas dari makanan itu.


Hanum memilih untuk beranjak, berjalan gontai kembali ke dalam kamarnya dengan pandangan lesu tak bertenaga.


Sudah dua bulan berlalu semenjak persoalan terakhir yang menerpa mereka, dan sejak saat itu pula interaksi di antara mereka kian merenggang, tak sehangat dulu lagi.


Reynand lebih sering diam, seolah pria itu tak lagi memiliki tampilan ekspresi ketika sedang bersama hanum.


Ia juga lebih banyak bungkam, hanya sekilas menjawab jika istrinya itu mengutarakan sebuah pertanyaan kepadanya.


Hanya sebatas itu. Tak ada lagi kemesraan, kehangatan, kata manja dan juga tutur kasih seperti dulu.


Dalam keheningan malam, tanpa adanya cahaya penerang. Hanum menundukkan kepalanya dalam kepiluan, batinnya tersiksa tak tahan dengan keadaan yang di rasanya kian memburuk di setiap waktunya.


Angannya menerawang mengingat lagi masa-masa bahagianya dengan suaminya yang akhir-akhir ini sering kali ia rindukan.


Ia rindu akan momen-momen dimana pria itu seringkali merayunya dengan kata manja yang mampu membuat hatinya luluh di penuhi damba dan rona merah muda yang menghias pipinya.


Ia rindu dimana kemesraan mereka sempat terjalin dengan begitu eratnya dan kini hanyalah tersisa sebuah ruang hampa yang membentang di antara keduanya, memisah semakin jauh dan menorehkan luka semakin dalam di hati mereka.


Kelam dalam penghujung penantian, tak kunjung jua bersua setelah masa kian merentang jarak keduanya.


Hanya termenung dalam kesendirian, menanti kekasih pujaan kembali pulang. Merentangkan kedua tangan dan merengkuhnya dalam dekap kesyahduan, meniti kembali kebersamaan dan bersama-sama menyemai kebahagiaan.


*******


Ia lebih sering menepi, menjauh dari sisi hanum secara perlahan dan berniat untuk melepas wanita itu dari kehidupannya.


Akan tetapi tak semudah yang ia rencanakan sebelumnya, sejak semula ketika niat kukuhnya terucap gamblang untuk melepas sosok istrinya itu pergi dari sisinya, di situ pula ia harus berjuang keras untuk mengubah segala karakteristiknya dari yang semula memuja menjadi acuh tak acuh dan benci.


Tak sesuai dengan apa yang ada dalam hatinya, dan itu sangatlah menyiksa jiwa sekaligus raganya.


Hatinya sakit tatkala ia mendiamkan begitu saja wanita yang amat di cintainya itu, jiwanya tercubit menahan lara tatkala harus berpura tak peduli akan segala hal yang bersangkutan dengan sosok wanita pujaannya.


Hanya sesekali ketika wanita itu telah lelap dalam tidurnya dan ia pun mulai berani untuk melabuhkan lagi kasih sayangnya melalui kecup lembut yang ia hadirkan di kening wanita itu. Terkadang ia juga melabuhkan rasa rindunya pada sosok mungil yang kini sedang bertumbuh dalam rahim istrinya itu.


Di hadirkannya usapan lembut di atas perut yang semakin membuncit itu, lalu di sapanya sosok mungil yang ada di dalam sana dengan bisik lirih syarat akan kerinduan dan juga kata maaf.


'Hai, sayang!' bisiknya lirih seraya melabuhkan beberapa kecupan kecil di atas permukaan perut istrinya.


'Apa kau merindukan papa, ha? Papa juga sangat merindukan mu di sini, papa selalu merindukan mu dan juga mama mu di setiap hari-hari yang papa lalui.


Maaf, karena papa tak mampu menjadi sosok ayah yang baik untukmu, sayang. Maaf karena papa seringkali menyakiti mu dan hati mamamu. Tetapi jangan khawatir ya sayang, suatu saat kita pasti bisa kembali bersama seperti dulu. Menjadi keluarga yang bahagia dan semakin sempurna dengan kehadiran dirimu di dalamnya.


Biarlah kita terpisah seperti ini untuk sementara waktu, supaya kami sama-sama tau akan sakitnya rindu dan sama-sama memahami bahwa sesungguhnya rasa ini tak akan pernah sirna, meski ada orang lain yang hendak mengacaunya.' Setelah itu reynand pun menghadirkan kecupan sayangnya dan kembali beranjak pergi dari sisi istrinya.


Meninggalkan wanita itu sendiri dalam dekap sepi, dan berpura buta dengan tak melihat banyaknya luka yang kian tertoreh di antara keduanya.


Hatinya serasa hampa, seolah mati dan tak berpenghuni. Sama seperti hari-hari yang ia lalui, dimana ia menahan denyut nyeri di setiap kebisuan yang terjadi.


Menahan lara di setiap siksa akan kerinduan harmoni yang kembali menyeruak dalam hati dan pikirannya. Menggugah dan seolah memaksanya untuk menyerah saja dan melabuhkan diri dalam kekalahan.


Menyerah dalam kepasrahan dan terjerat dalam simpul ikatan bertahta kesetiaan.


Akan tetapi ia tak akan meluluhkan hatinya lagi hanya untuk romansa sementara, biarlah saat ini terluka, menderita dengan segala pengasingan yang mendera hingga kemudian bersemilah cinta yang sesungguhnya. Dimana nantinya hanya akan ada dirinya yang bertahta dalam singgasana hati milik Istrinya.