
..."Ada yang bilang ketika seseorang jatuh cinta, maka ia akan terlihat bodoh di hadapan orang lain yang melihatnya. Namun begitu, tidak dengan diriku yang saat ini terlihat oleh matamu....
...Cinta dan kasih sayang, mungkin dulu aku pernah memilikinya dan mempersembahkannya padamu. Tapi tidak untuk kali ini. Aku hanya sedang berupaya untuk menyadarkanmu, karena dulu, aku pun pernah mengalami luka yang sama seperti yang kau derita."...
...----------------...
"Ngapain dia ke sini?"
Mood yang sempat membaik dan cara bicara yang sedikit lebih nyaman terdengar di telinga itu kini sirna sudah.
Wanita itu kembali menjadi sosok yang angkuh seperti sebelumnya.
Tidak ada kata-kata halus seperti yang terlontar di beberapa jam yang lalu. Hal-hal baik itu seperti debu yang lenyap karena terhempas oleh laju angin, sirna begitu saja ketika ia dipertemukan dengan sosok yang sangat ia benci.
Dayana, wanita itu mematung di sisi yang agak jauh dari jangkauannya. Wanita itu menatap ia dengan sorot mata iba dan juga senyum kecut yang dipaksakan.
"Hai!" sapanya seraya melambaikan tangan ke arah Hanum.
Wanita itu hanya berdecih, lalu memalingkan wajahnya tanpa mengucap apa-apa.
Ia menggeram lirih, jemarinya mengepal erat hingga kuku jarinya memutih.
Sesak dalam dadanya serasa kian menghimpit, dalam hatinya terasa membara seolah membuncahkan segala benci yang kemarin sempat terlupakan dan kini meluap lagi karena sosok wanita itu berani hadir di hadapannya.
Ia tidak sedang baik-baik saja, dan apa yang terjadi padanya saat ini, ada kaitannya dengan perempuan bernama Dayana ini.
Menatap dalam diam, Ivana yang sempat meluap kegembiraannya itu kini hanya termangu melihat wajah Hanum yang merah padam. Gadis itu menggigit bibir bawahnya sendiri, ia takut.
Tapi di satu sisi ia juga ingin segera merengkuh wanita itu dan menenangkan sang mommy dengan pelukan kecilnya.
Ia ingin, tapi ia takut wanita itu menolak keberadaannya, lebih tepatnya menolak usahanya. Karena bagi Hanum, Ivana hanyalah seorang anak kecil, dan seorang anak kecil tak akan mampu untuk memahami keadaan psikis yang diderita oleh para orangtua.
Memegang jemari tangan sang papa, dengan tatap mata seolah memohon Ivana meminta agar Reynand bersedia untuk menundukkan kepalanya sebentar saja.
Pria itu menurut, seketika menundukkan kepala dan membiarkan gadis kecil itu membisikkan sesuatu pada telinganya.
Ia terdiam, dan dengan sungguh-sungguh mendengarkan permintaan Ivana yang entah kenapa malah membuat netranya berkaca-kaca.
Ia menepuk pelan puncak kepala anak gadisnya itu, seraya tersenyum ia menganggukkan kepala seolah sedang menenangkan hati gadis kecil itu melalui ekspresi wajahnya.
"Pergilah! Kau bisa melakukan apapun yang kau mau. Tapi ... jika seandainya mommy tidak menyukainya, maka kau bisa melakukan hal yang sama pada papa lain kali."
Ekspresinya sempat menegang, tapi senyumnya tetap ia paksakan demi bisa menenangkan hati Hanum yang kini sedang diselimuti kemarahan.
"Mommy ...." Ivana menggenggam ujung jari Hanum dengan kedua tangannya.
Ia tak berani untuk mendongakkan kepala, karena ia takut alih-alih amarah mommy-nya mereda, malah nantinya jadi membuncah karena bersitatap dengan netranya secara langsung.
Gadis itu terdiam, semua kata yang hendak ia ucapan untuk Hanum seketika lenyap dari dalam kepalanya. Dan saat itu pula ia takut Hanum akan melampiaskan kekesalannya pada dirinya.
"Mommy jangan marah-marah lagi, ya!" pinta gadis itu seraya meremas ujung mantelnya. Tangan kecilnya gemetar lirih, sedang binar matanya berkaca-kaca. Dalam batinnya ia berbicara seolah ia sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja, dan mommy-nya tak akan mungkin untuk melukainya.
Hanum mengetahuinya, anak itu pasti sedang menduga-duga tentang respon sikapnya pada perhatian kecil yang coba dicurahkan oleh Ivana terhadap dirinya.
Ia menghela napas lelah, lalu kemudian berjongkok di depan gadis kecil itu.
Di tatapnya binar mata biru yang selama tiga minggu ini selalu ia hindari, lalu diusapnya pipi kemerahan itu dengan jemarinya yang membelai lembut.
Ia menggeleng, lalu berujar bahwa saat ini ia sedang baik-baik saja.
Ia tidak marah, namun itu hanya dusta belaka.
"Naiklah! Nanti mommy akan segera menyusul mu," titahnya dengan nada lembut.
Tak tertinggal dengan seulas senyum tulus dan juga kecup manja yang ia tinggalkan di pipi gadis kecil itu sebelum akhirnya Ivana berlalu menuruti perkataannya.
Tersenyum pongah, ia menolehkan kepala tatkala anak gadisnya itu telah sampai di ambang pintu kamarnya. Bak seorang ibu yang benar-benar menyayangi anaknya, ia juga tak lupa melambaikan tangannya dan melemparkan cium jauh sebagai pengantar tidur yang paling indah untuk putri tercintanya.
"Hah! Akhirnya kita bisa memulai perbincangan ini tanpa melibatkan mata anak yang tak berdosa! Bukan begitu, dokter Dayana?"
Dayana membisu, perkataan Hanum yang menekankan kata dokter di penghujung kalimatnya itu membuat ia merasa risih.
Betul jika ia berprofesi sebagai seorang dokter, tapi apa termasuk dalam kesalahannya juga jika seseorang yang memang sudah dinyatakan baik kesehatannya dan diperbolehkan untuk pulang dari rumah sakit, lalu pasien mendadak meninggal dunia juga masuk dalam ranah kesalahannya? Bahkan ia sendiri pun luput dari takdir sang Maha Pencipta. Jika ia tahu esoknya Danill akan berpulang, mungkin ia juga tak akan mengijinkan rekan yang menangani kasus Danill secara langsung membiarkan hal seperti itu terjadi.
Hanum berdecih, netranya memanas ketika Dayana memeluknya dengan tiba-tiba. Wanita itu terisak-isak seraya berderai air mata, dan entah kenapa permintaan maaf yang diucapkan oleh wanita itu tak bisa meredam kemarahannya.
Ia bergeming, acuh dan tak berniat untuk memeluk balik tubuh Dayana.
"Aku akan memaafkanmu, jika seandainya kau bisa membawa Danill kembali ke sini!" Ia tersenyum miring, menertawakan ekspresi Dayana yang membeku, seolah linglung dan tak bisa mencerna kalimat yang baru saja ia ucapkan.
"Kau tidak bisa kan? Begitupun denganku, yang tak semudah itu bisa memberikan maafku kepada dirimu!"