
..."Jangan tanya mengenai kesungguhan rasa yang kumiliki....
...Aku mencintaimu, dan jika seandainya boleh meminta ... aku ingin sekali bisa menua bersamamu tanpa derita yang mewarnai kisah kita berdua....
...Namun apa daya yang ku punya, jika Tuhan saja memanggilku lebih cepat dan menjadikan nirwana sebagai tempat penyatuan abadi bagi cinta kita berdua? Indah bukan?"...
...----------------...
Pembicaraan kala itu berlangsung cukup lama.
Emosi yang meluap-luap, serta amarah yang membuncah membuat suasana kian tak bersahabat.
Tersedu dan terbata, keadaan yang teramat rancu kala itu ternyata memerlukan sedikit waktu untuk menemukan jalan tengah bagi keduanya.
Hanum dan Danill sama-sama bersikeras mengenai persoalan yang kini malah bercabang kemana-mana. Hingga kemudian salah satu di antara mengalah lalu merengkuh yang lainnya dalam dekap kepasrahan.
"Iya, maaf. Aku tahu ini salah, dan maaf lagi karena aku terlalu egois memaksakan kehendak semauku sendiri." Danill berucap lembut, dan Hanum bergeming darinya, namun ia tetap menganggukkan kepala.
...----------------...
Dua hari berselang pasca keributan kecil yang terjadi tempo hari. Dan sampai saat ini keduanya masih saling diam, seolah enggan untuk berkomunikasi atau memang mereka sedang bingung hendak berkata apa dan memulai topik pembicaraan dari mana.
Sore itu, seperti biasa Hanum selalu ada di sisi Danill. Selama dua puluh empat jam ia mengupayakan untuk tidak meninggalkan pria itu kecuali hanya untuk ke kamar mandi guna membersihkan diri.
Dia melakoni kewajiban sekaligus peranannya sebagai seorang istri dengan sangat baik.
Bahkan terbilang sempurna meski keadaan hatinya juga sedang dalam proses penataan kembali.
Dengan lembut ia menyeka bekas keringat yang menempel di tubuh pria itu dengan menggunakan handuk basah. Gerakannya lembut seperti sedang membersihkan kulit bayi, dan Danill menyukainya.
Pria itu tersenyum tipis, sudut bibirnya terangkat ketika melihat tingkah istrinya yang terlihat menggemaskan. Bibir yang cemberut dan mimik mukanya yang terlihat masih sebal itu, entah kenapa terlihat lucu di mata pria itu.
"Mommy ...." panggil pria itu dengan sedikit manja, yang seketika membuat Hanum membelalakkan mata.
Bibir wanita itu berkedut lirih, ia tersipu namun tetap mempertahankan kepura-puraan akan rajuk yang sebenarnya sudah reda sejak hari sebelumnya.
"Hm ...." gumamnya tanpa mendongakkan kepala.
Danill mendengus lirih, lalu menarik pelan dagu wanita itu agar bisa bersitatap dengan dirinya.
Hanum terdiam beberapa saat, hingga kemudian jemari lentiknya membelai surai pria itu dengan lembut. Senyumnya mengembang, dan bibirnya pun juga mengucap kerinduan.
Mereka hanyut dalam perbincangan hangat yang terselubungi oleh romansa.
Jarak yang kian terkikis, hembusan napas panas yang menerpa, dan juga remang cahaya kala senja itu cukup membuat suasana berubah menjadi berbeda.
Danill sejenak mengehentikan aktifitas panas yang baru saja mereka mulai, dan hal itu membuat Hanum mendengus lirih.
Ia mengecup kilas kening wanita itu sebelum akhirnya beranjak menuju arah pintu untuk menguncinya dari dalam.
Pria itu menyunggingkan senyumnya, lalu kemudian berbisik di telinga Hanum dengan nada menggoda, "tidak akan seru jika ada orang yang tiba-tiba datang di tengah permainan kita, bukan?"
Hanum tersipu mendengar kata berbau sensual yang dilontarkan oleh pria itu. Namun begitu ia tetap menyukainya, entah itu godaan ataupun rayuan palsu yang membuat ia sampai terperdaya dan berakhir di bawah kungkungan pria itu seperti saat ini. Ia suka, segalanya.
Perlahan tapi pasti, keduanya memulai lagi aktifitas yang sempat tertunda sebelumnya, dimulai dari kecupan ringan yang mampu membuat tubuh Hanum meremang, lalu dilanjutkan dengan hal lain yang membuat hati wanita itu bertambah girang.
Sentuhan jemari Danill yang menari di atas
permukaan kulitnya itu menimbulkan sensasi gelitik yang membuat Hanum mengerang frustasi. Ia meremas surai pria itu dengan gemas, lalu menekankan bibir Danill tenggelam dalam ceruk lehernya, menuntut pria itu untuk lebih jauh menjangkau diri wanita itu lebih dalam lagi.
Senja kala itu menjadi satu waktu terindah bagi keduanya. Di mana keduanya sama-sama membara, dan saling mendominasi di setiap gerak yang silih berganti.
Mereka melakukannya dengan perlahan, seolah waktu terasa berputar lambat tatkala keduanya asik melabuhkan hasrat dalam cumbu mesra.
Mengingat lagi waktu yang sudah berlalu, di mana keduanya seolah tak sempat untuk sekedar melakukan skinsip yang ringan, bahkan untuk membayangkan bisa menghabiskan malam berdua dengan penuh gairah saja tak pernah lagi terpikir dalam benak keduanya.
Lebih tepatnya Hanum lah yang tak mau untuk memaksakan kehendak akan kepuasan batin yang dirasanya masih mampu untuk ia tahan.
Satu tahun semenjak pernikahan yang terjadi antara keduanya, namun begitu Hanum tetap tenang menjalani peranannya meski ia diharuskan untuk menahan syahwatnya.
Karena baginya hakikat hubungan tak melulu dihabiskan hanya untuk bercumbu, ataupun mereguk surga dunia yang memang disukai oleh banyak pasangan di dunia.
Hanya saja Hanum sadar diri, ia tahu bahwa kondisi Danill memang tak memungkinkan untuk melakukan hal itu, saat ini. Bukan karena pria itu tak mampu, akan tetapi ia sebagai seorang istri menginginkan kesembuhan pria itu lebih dari siapapun yang ada di atas muka bumi ini.
Mungkin tidak ada salahnya jika ia harus bersabar, masih ada waktu bagi mereka untuk melakukan hal itu di lain kesempatan.
Ia masih bisa untuk menahannya, asal pria itu bisa lekas pulih seperti sedia kala.