
Dalam kesendirian sepi, reynand masih nyalang terjaga sejak semalaman. Raganya lelah sedang jiwanya serasa raib hilang di antah berantah.
Sudah semalam ia terjaga dengan beban pikiran yang belum juga teralihkan, tetap terfokus pada sosok istrinya yang belum juga memberikan kabar apapun kepadanya. Ia khawatir karna tiada satu apapun perkara yang terjadi di antara mereka hingga membuat istrinya itu berpikir untuk lari, apalagi sampai meninggalkan rumah seperti saat ini.
Gelisah merayapi hati, meninggalkan segelintir sesak yang tak berujung arahnya.
Angannya menerawang, mencari-cari jawaban pasti dimana kiranya istrinya itu berada.
Larut dalam buai lamunan yang tak kunjung membawa sebuah jawaban.
Ia nyaris saja terlelap ketika kantuk datang seolah membuainya untuk segera terpejam.
Belum sempat ia benar-benar memejamkan matanya, ia seolah kembali terjaga setelah mendengar bunyi kendaraan yang baru saja terparkir di halaman rumahnya yang sontak membuat ia tersadar dan menanggalkan seluruh kantuk dan juga lelah yang sudah menggayuti keseluruhan raganya.
Ia bergegas bangkit dan segera membawa langkahnya menuju halaman rumahnya seraya berharap semoga yang datang itu adalah sosok istrinya yang sudah ia cemaskan sejak semalaman.
Senyum sumringah mengembang seketika di wajah reynand, ia bahagia ketika melihat ternyata sosok hanumlah yang baru saja keluar dari balik mobil. Wanita itu terlihat baik-baik saja dengan senyum tipis yang terurai dari wajahnya. Bertambah cantik pula dengan balutan dress model off shoulder berbahan katun dengan corak bunga-bunga segar di atasnya.
Wanita itu nampak bugar dan juga terlihat memesona dengan bagian perutnya yang terlihat menonjol di permukaan kain katun yang membalut tubuhnya.
Ia benar-benar membuat reynand terkesima untuk sesaat.
Hingga semua angan akan keindahan itu sirnalah sudah dari pikiran reynand.
Ia ternganga tatkala melihat danill juga muncul dari balik mobil yang sama. Sontak saja pandangannya seketika menelisik diantara dua orang yang ada di hadapannya.
"Kenapa kau juga ada di mobil yang sama dengan Istriku?" Reynand bertanya penuh antisipasi. Tatapannya menajam mengisyaratkan permusuhan yang nyata dengan danill.
Namun pria Rusia itu malah menanggapinya dengan acuh tak acuh dan terkesan ambigu, "apa kau buta, ha! kau punya mata dan kau pasti bisa menilai kenapa aku ada di mobil yang sama dengannya," jawabnya seraya menyentuhkan jemarinya pada pundak hanum, namun segera ditepis oleh wanita itu.
"Rey, maafkan aku karena telah membuat mu khawatir. Tapi ... ini tak seperti yang kau kira, a-aku bisa .... " ucapan hanum terhenti begitu saja tatkala melihat reynand menginsyaratkan padanya untuk diam dan tak lagi berucap sebuah penjelasan.
Hanum terhenyak dan sontak memundurkan tubuhnya untuk tak lagi merapat pada suaminya. Dadanya sesak ketika mendapati sorot mata penuh kemarahan itu tertuju padanya, seolah menghujamnya dengan ketidak percayaan dan juga ketidak sukaan.
Ia tertunduk lalu kemudian membawa langkahnya menepi dari dua orang yang sedang bersitegang di hadapannya. Tak ada niatan untuk kembali menyuarakan penjelasan atau sekedar melerai agar urusan tak lagi berkepanjangan. Cukup diam dan biarlah nanti ketika amarah suaminya sudah perlahan reda barulah ia akan menuturkan kejujuran.
Sendu merayapi hati, Hanum hanya bisa memendam segalanya dalam relung jiwa terdalamnya.
Tiada lagi baginya tempat untuk mengadu, berkeluh kesah untuk sekedar berbagi beban yang di sangganya.
Hanya beban hati bertabur pilu yang membelenggu, berharap hadirnya secercah cahaya yang menyambutnya dengan penuh suka cita. Hanya harap yang di rasanya sia-sia, tak kunjung mendapati hadirnya rengkuh bahagia yang bisa menghangatkan seluruh kehidupannya.
Hanya sebuah kisah pilu berujung kepedihan, dimana dalam kehidupannya ia tak mampu mengecap arti bahagia dan ketulusan.
Mungkin hatinya memang telah mati seiring dengan ketetapan hatinya yang memilih untuk bertahan dalam pijakan yang dipenuhi duri.
Rapuh dan juga terkoyak dengan hadirnya dusta, berpura tegar meski kenyataannya ia telah luluh lantak terkoyak dengan kepalsuan.
Ia lelah, dan ingin menyerah. Namun kehidupan seolah terus mengikatnya untuk tetap berdiam diri memikul beban hati.
Menjunjung nestapa meski nyatanya ia sendiri pun tak sudi untuk membawanya.
Termenung sendiri, berteman sengguk bercucuran air mata. Hanum masih berusaha tegar, meski sebenarnya jiwanya telah meronta meminta sebuah kebebasan. Ia tak mampu berpikir untuk pergi ataupun lari dari kehidupan, cukup diam dan memakai topeng kepalsuan. Biarlah berlaku seperti itu, setidaknya hingga raganya tak lagi bernyawa dan semuanya sirna. Barulah tiba masanya dimana ia bisa mengecap bahagia yang sesungguhnya, tanpa beban hati yang menguasai diri.
*******
Sedang di tempat semula, dimana kedua pria dewasa itu masih sama-sama bergelut dengan emosi masing-masing.
Reynand masih memberondong danill dengan ragam pertanyaan yang sebenarnya hanya ia gunakan untuk menjadi pengalihan sementara emosinya agar sampai tak lepas kendali.
Namun perangai danill yang terkesan remeh akan dirinya, membuat reynand kian meradang dan tak mampu lagi untuk tidak melayangkan kepalan tangannya hingga mendat di pipi pria itu.
"Kau yang memancing ku duluan!" ujar reynand dengan napas memburu, amarahnya belumlah usai dan lenyap sepenuhnya dari dalam hatinya.
Danill berdecih lirih sembari mengusap lembut bagian wajahnya yang terasa ngilu.
Memang terasa sakit, namun ia tak berminat untuk melakukan perkelahian di hari yang masih terbilang pagi.
"Bung, kurasa ... kau harus sedikit meredam laju emosi mu itu. Aku khawatir kelak kau akan membunuh ku ketika aku berhasil membawa istri serta anakku pergi dari hidupmu.
Sungguh, kau harus bersiap-siap mulai dari sekarang, karena tak lama lagi mungkin kau hanya akan berpeluk dengan sepi, merindu akan hangatnya keluarga yang sebenarnya dari awal memang sudah menjadi milikku."
Danill menyunggingkan senyumnya lagi, ia menepuk bahu Reynand perlahan lalu kemudian beranjak pergi dari hadapan pria itu.
Meninggalkan reynand dengan ragam tanya yang hanya bisa terpendam dalam batinnya saja.