Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Umpan.



Masih di tempat yang sama. Dimana Reynand sedang merebahkan tubuhnya ditempat tidur kamar tamu kediaman Danill, ia nampak tenang memeluk tubuh Istrinya yang tengah tertidur pulas di sampingnya. Pria itu merengkuhkan lengannya dengan lembut, memberikan rasa hangat dan nyaman melalui sentuhan kulit terbuka yang tak tertutupi oleh tebalnya selimut.


Reynand memainkan jemarinya lembut membelai juntaian rambut panjang Hanum dengan sayang. Sesekali ia mengirup aroma harum menenangkan yang menguar dari kepala istrinya tatkala ia mendaratkan ciuman kecil di puncak kepala Hanum. Senyumnya terurai tipis disertai dengan gumaman kecil yang keluar dari mulutnya seraya berbisik lirih menggoda istrinya untuk kembali terjaga dari lelapnya buai mimpi.


Hanum menggeliatkan tubuhnya nyaman, perlahan kelopak matanyapun terbuka dan ia mendapati pria kesayangannya itu tengah memandanginya dengan seulas senyum tipis yang tertoreh dibibirnya. Dipandangi seperti itu membuat Hanum sedikit kikuk dan ia pun ikut menyunggingkan senyumnya, "jangan menatapku seperti itu, Rey," ujarnya seraya menutupi netra suaminya.


Reynand tertawa lirih lalu kemudian menurunkan jemari istrinya yang masih menjadi penghalang pandangannya itu dengan lembut. "Hari ini kau terlihat cantik dan memesona sayang," ujarnya seraya menghadirkan kecupan mesra dijemari lentik istrinya.


Hanum tersipu mendengarnya, ia memandangi wajah suaminya itu dengan tatap penuh kasih. Namun senyumnya perlahan memudar tatkala sekelebatan bayangan Danill melintas dalam benaknya, menghantuinya lagi akan suatu rencana yang telah disusun oleh pria itu dan mungkin saja menghadirkan kecurigaan yang semakin mendalam pada benak suaminya.


Dan sebelum hal itu terjadi haruskah ia bertindak lebih dulu dengan mengatakan yang sesungguhnya pada Reynand, atau ia harus membungkam mulut Danill untuk tak angkat suara mengenai apapun yang telah terjadi? Ia benar-benar bingung.


Kernyit didahi Hanum tertangkap jelas oleh mata Reynand yang sedari tadi masih memandangi perubahan ekspresi wajah istrinya itu. Sorot matanya terlihat gusar dan juga bimbang, dan hal itu menimbulkan rasa ingin tahunya akan sesuatu yang sedang menganggu pikiran wanita pujaannya itu.


Reynand menangkupkan jemarinya di pipi Hanum dengan lembut, sedang netranya memandangi wajah wanita kesayangan itu dengan sorot mata teduh sekaligus menyelipkan rasa penasarannya melalui tatap matanya, "ada apa, hm?" tanyanya perlahan seraya membelai pipi istrinya.


Berharap wanita itu tak keberatan dan bersedia membagi keluh kesah kepadanya dengan terbuka.


Seulas senyum tipis tersungging di wajah Hanum. Wanita itu dengan cepat segera menyamarkan garis kebimbangan yang semula hadir membingkai wajahnya dan secepat mungkin menggantikannya dengan mimik wajah ceria disertai ekpresi manja bak pasangan muda yang sedang dirundung asmara. "Aku tidak apa-apa, Rey. Hanya saja ... aku merasa tidak nyaman jika terus berlama-lama tinggal ditempat ini," ujarnya seraya mengendarkan pandangannya ke segala sisi ruangan lalu kemudian menenggelamkan diri lagi ke dada suaminya.


Reynand menghela napasnya singkat, jelas ia tahu betul bahwa saat ini Hanum sedang menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Namun kenapa wanita itu tak kunjung juga membuka diri dan berupaya jujur kepadanya? Bukankah di dalam suatu hubungan kejujuran dan kepercayaan adalah suatu hal yang teramat penting dan saling terikat. Lalu apa gunanya ia bersusah payah menahan diri sejak beberapa jam yang lalu dan mengupayakan cara terhalus demi mendapatkan suatu kejujuran yang terucap dari mulut istrinya sendiri, jika saja hasil akhirnya masih sama dan ia pun tak mendapatkan jawaban atas rasa ingin tahunya? Ia menahan dengus napasnya seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain, kemudian menghalau lembut tubuh Hanum untuk menjauh dari sisinya. Ia beranjak dari tempatnya kemudian berdiri mematung di samping jendela kaca seraya memandangi bayang dirinya sendiri.


Sesak dan juga kesal, dua hal itu kian membelenggu pikiran Reynand. Dan hal itu juga ikut mengacaukan segala sikap tenang yang selalu menjadi tameng pertahanannya selama ia mengarungi kehidupan rumah tangga bersama wanita itu.


Walau sebenarnya ia sendiripun telah yakin akan asumsi pribadinya mengenai apa yang telah terjadi dan tersembunyi di balik punggungnya.


Namun ia harus menahan diri untuk tidak bertindak gegabah, ia harus lebih bersabar lagi seraya mengulur waktu untuk menjerat umpan yang sudah ada di depan mata hingga semuanya terungkap dengan jelas.


Hening sejenak di antara keduanya, Hanum yang semula hendak beranjak menghampiri suaminya itu kembali mengurungkan niatnya tatkala suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya.


Ia memilih melangkahkan kakinya menuju pintu lalu kemudian membukanya. Nampak seorang pelayan wanita sedang tersenyum ramah kepadanya seraya mengatakan bahwa makan malam telah siap, ia dimohon untuk segera turun dan berkenan bergabung bersama tuan rumah untuk menikmati santap malam di lantai bawah.


Hanum mengagguk kilas seraya mengucapkan terimakasih dengan nada lembut kepada pelayan itu sebelum akhirnya ia kembali menutup pintu dan menghampiri suaminya. Jemarinya menggapai lembut bahu pria yang sedang membelakanginya itu dan menariknya perlahan agar pria itu memutar tubuhnya dan menghadap ke arahnya, "Rey, Danill menunggu kita di bawah," ujarnya seraya menatap raut wajah Reynand.


Pria itu mengerutkan keningnya dan menatap Hanum dengan sorot mata berbeda, "Danill?" tanyanya seraya menautkan kedua alisnya.


Sedang bibirnya diam-diam menyunggingkan seringai kemenangan akan umpan yang telah berhasil ia jerat. Hatinya serasa puas tatkala melihat ekpresi Hanum yang seolah membeku merutuki keteledorannya sendiri.


"Apa kau mengenal pria itu sebelumnya, hingga kau bisa memanggil pria itu hanya dengan sebutan nama?" tanyanya lagi dengan nada yang di buat-buat curiga.


Hanum kian membeku, bibirnya seolah keluh tak mampu lagi bertutur kata.


Ia bungkam seribu bahasa, mengatupkan bibirnya rapat seraya memundurkan langkahnya selangkah menjauh dari jangkauan suaminya, "a-aku hanya ... " ucapannya terputus-putus, ragu akan jawaban yang akan segera ia utarakan.


"Katakanlah, kalau kalian memang pernah memiliki drama rahasia. Aku akan sangat bahagia jika saja istriku ini bersedia membagi kisah tersembunyi-nya dengan ku," bisiknya lirih diiringi tawa lirih yang kelaut dari bibirnya.