
Suasana masih hening, sedang Danill masih duduk tenang menanti kedatangan kedua tamunya yang masih belum juga menampakkan diri dan bergabung dalam makan malam yang sudah ia sediakan sejak-lima belas menit yang lalu itu.
Suara langkah kaki yang mengayun perlahan membuat ia langsung menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Nampak kedua pasangan muda itu sedang menuruni anak tangga dengan gerak perlahan.
Reynand nampak elegan menggandeng tangan Hanum dan menguncinya dalam kaitan lengannya dengan erat. Terlihat mesra dan memancarkan aura kepemilikan yang nyata dari setiap gerak tubuhnya.
Dari kejauhan sedari tadi ia sudah memperhatikan ekpresi Danill yang selalu menatap ke arahnya.
Dengan tenang Reynand pun mengalihkan pandangannya untuk bersitatap dengan pria bermata biru itu, lalu kemudian senyum miringnya pun tertoreh samar di sudut bibirnya. Seolah mengejek dan menunjukkan bahwa Hanum adalah wanitanya, dan selamanya akan tetap seperti itu.
Danill menganggukkan kepalanya pelan, seolah ia mengerti akan gerak bibir Reynand yang jelas sekali di tujukan padanya.Namun ia menanggapinya dengan santai dan tanpa emosi. Bahkan ia berbesar hati segera berdiri menyambut kedatangan para tamunya dengan sangat santun dan mempersilakan mereka untuk bergabung bersamanya. "Terimakasih karna sudah berkenan menemaniku untuk menikmati santap malam yang sederhana ini," ujarnya dengan seulas senyum menawan yang tertoreh di bibirnya.
Jemarinya bergerak cepat menarik sudut kursi yang akan ia persembahkan kepada Hanum, wanita pujaannya. Namun keningnya sedikit berkerut tatkala pria di sampingnya juga melakukan hal serupa. Reynand juga sudah menarik kursi yang akan ia sediakan untuk istrinya.
Hingga suasana hening sejenak membentang diantara ketiganya. Hanum meneguk ludahnya berulang lalu netranya bergerak cepat memandangi kedua pria yang masih berdiri di samping kursi mereka masing-masing, menanti kehadirannya untuk bersedia duduk di kursi pilihan mereka.
Namun ia bersikap tenang bergerak perlahan seraya mendudukkan dirinya tepat di kursi yang di sediakan oleh Reynand. Senyumnya terurai sempurna seraya mengucap kata terimakasih yang mengalun merdu untuk suaminya.
Seringai kemenangan pun terukir di wajah Reynand, pria itu menampilkan senyum pongahnya seraya mendudukan diri di samping istrinya, tepat di antara Danill dan juga Hanum. Memberikan sekat pemisah di antara keduanya agar pria asing itu bisa sadar diri akan posisinya yang seharusnya.
Danill hanya mampu terdiam memandangi gerak-gerik Reynand yang terus mencoba menjauhkan dirinya dari sosok Hanum. Lalu kemudian netranya kembali teralih pada sosok wanita yang terlihat tenang seraya menikmati hidangan makan malamnya dengan gerakan anggun. Gerakan mengunyah yang indah dan juga wajah berseri yang terus mengusik ketenangannya itu membuatnya terpaku pada sosok wanita di hadapannya itu. Hanum berhasil membuatnya gila hanya dengan melihat kecantikan parasnya saja.
"Apa yang kau lihat, Mr. Danill?" Reynand berucap tenang seraya mengusapkan tisu di sudut bibirnya. Ia telah selesai dengan santap malamnya dan malah mendapati danill yang sedari tadi masih memfokuskan pandangannya ke arah istrinya.
"Aku hanya sedang menikmati satu keindahan dari banyaknya ciptaan Tuhan, Mr. Rey. Bukan bermaksud lancang, tapi ... aku sangat mengagumi kecantikan yang dimiliki oleh istrimu," ujarnya seraya menaikan pandangannya, menatap reynand dengan sorot mata penuh persaingan.
"Terimakasih karena anda sudah bersedia mengagumi kecantikan Istriku, Mr. Danill. Dia memang wanita paling cantik yang di ciptakan Tuhan untuk mendampingi hidupku. Dan seperti yang kau lihat dia sudah menjadi milikku. Kami saling mencintai," ujarnya seraya menghadiahkan kecupan kecil di kening istrinya.
Danill mengangguk paham, ia hanya tersenyum menanggapi penuturan dari pria yang kini menjadi rivalnya itu. Namun hal itu tak membuat hasratnya untuk mendapatkan Hanum menjadi redup, malah Reynand menjadi salah satu faktor yang kian memacu keberaniannya untuk mendapatkan wanita pujaannya itu. Walau ia sadar bukan suatu hal yang mudah untuk membuat Hanum berpaling kepadanya.
*****
Beralih ke ruang tengah, dimana kedua pria itu sedang berdiri di depan sebuah meja billiard. Mereka saling bersitatap dengan sorot mata tajam masing-masing. Menelisik sisi lemah yang di miliki oleh saingan yang sudah ada di depan mata.
Danill memulainya lebih dulu. Ia mencari sudut yang bagus sebelum mengarahkan stiknya pada bola putih. Menyodoknya lurus dengan tekanan kuat dan berhasil membuat bola-bola itu bergulir dan sebagian lagi masuk kedalam lubang meja.
Beralih ke Reynand, pria itu bergerak santai mengarahkan stiknya pada titik tertentu yang sudah ia amati sejak tadi. Fokusnya sudah terkunci hingga kembali pecah tatkala mendengar seruan yang di lontarkan mulut danill padanya.
Pria itu terkekeh tatkala melihat tiada satupun bola yang berhasil masuk ke dalam lubang meja pada giliran Reynand sebelumnya. Ia pun kembali mengambil posisi bersiap memasukkan bola-bola itu ke lubang meja. Namun alih-alih bolanya masuk, ia malah memberikan tatapan sinis pada reynand. Pria itu dengan sengaja menyenggol tangannya dan membuat gerakannya meleset.
Hembusan napasnya terasa berat ketika mendapati pria itu malah tersenyum senang ke arahnya. Seolah mencemoohnya dengan seringai yang terpampang nyata di wajah tampan itu.
Danill melipat kedua tangannya di depan dada seraya memasang ekspresi wajah datar. Ia memandangi Reynand yang teramat fokus memainkan gilirannya.
"Berapa lama kau menikah, Rey?" Danill melayangkan pertanyaan simple di tengah permainan mereka. Panggilannya pada reynand pun tak seformal sebelumnya.
Mereka sepakat memanggil mengunakan nama saja tanpa embel-embel lain ataupun gelar di depannya.
"Kurang lebih delapan bulan. Kenapa, apa kini kau mulai tertarik dengan kehidupan rumah tangga ku, hm?" tanyanya kembali seraya menajamkan sorot matanya pada Danill.
Pria itu terkekeh, "aku hanya penasaran bagaimana kau menjalani kehidupan cinta kalian selama delapan bulan belakangan ini."
Danill menghentikan ucapannya sejenak, lalu kemudian bibirnya menyunggingkan senyuman licik. "Aku penasaran, apakah kau merupakan pria pertama yang berhasil memiliki keseluruhan dari jiwa dan raga istri mu seutuhnya? atau malah ... kau adalah pria kedua atau ketiga yang hadir dalam hidupnya?" Danill masih menyilangkan kedua tangannya, kepalanya sedikit miring di sertai sunggingan senyum remeh yang di peruntukkan untuk menghina Reynand secara terang-terangan.
Sontak Reynand menaikan pandangannya, menatap lurus pada sosok Danill dengan sorot matanya yang kian menajam.
Ia bukan merasa terhina, tapi ia merasa pria di hadapannya itu terlalu banyak bicara padahal ia sudah tahu keseluruhan ceritanya dari mulut istrinya sendiri.
Tadi Hanum sudah menceritakan semuanya kepadanya, tanpa sedikitpun dusta dan di iringi dengan sumpah di bagian penghujung ceritanya. Wanita itu berani bersumpah bahwa ia hanya melakukan perbuatan hina itu satu kali dan itupun juga bukan karena kehendaknya. Wanita itu telah menyesali segala perbuatannya, dan Reynand pun tak bisa berbuat apa-apa selain memberikan sebuah maaf kepada wanita yang sangat ia cintai itu.
Namun kini ia kembali meradang, bukan pada Hanum tapi pada sosok pria yang ada di hadapannya.
Jelas terlihat bahwa Danill memiliki obsesi besar untuk memiliki istrinya. Dan hal itu membuatnya tak terima.
"Aku berhasil memiliki keseluruhan jiwa dan raganya. Aku juga berhasil memuaskannya baik di atas ranjang maupun di atas sofa dan juga meja kerja pribadiku. Aku berhasil memiliki seluruh kehidupannya dan menghapuskan jejak pria laknat yang sempat menyentuhnya tanpa tersisa. Dia hanya menginginkan ku untuk mengendalikan hidupnya, dan bukan orang lain.
Danill ... kau harus sadar diri, buka matamu dan lihat lah bahwa wanitaku sama sekali tak tertarik dengan mu." Reynand menepuk pundak pria itu dengan sedikit keras, ia menyunggingkan senyumnya lagi lalu kemudian menyerahkan stik billiard kepada Danill.
Permainan telah usai, dan Reynand lah yang menjadi pemenang dalam permainan kali ini.