
..."Bukan berniat membelenggu,...
...hanya saja aku merasa jengah ketika melihatmu terus meratap tanpa ada niat untuk beranjak dari sisi tergelap....
...Menyedihkan memang, tapi aku akan mengusahakannya, agar kau bisa kembali tertawa seperti dulu kala."...
...----------------...
Mematung di sisi batu nisan, seraya terisak Hanum memeluk foto Danill yang diletakkan di pembaringan terakhirnya. Wajah tampan itu masih terlihat memesona, meski di atasnya ada debu tebal yang membungkus frame kaca.
Sempat menyeka debunya menggunakan tisu, lalu kemudian Hanum meletakkan kembali bingkai foto itu di atas nisan suaminya.
Ia terduduk di sisi nisan panjang itu seraya tersenyum paksa.
Wajahnya masih murah, sedang jemarinya sibuk memilih ujung mantel yang ia kenakan.
"Mungkin ini akan jadi kunjungan terakhirku datang ke pembaringanmu, dan ... bisa jadi aku tak akan pernah lagi bisa datang ke tempat ini untuk mengunjungimu dan menumpahkan rindu seperti hari-hari sebelumnya."
Hanum terdiam sejenak, menata hatinya yang sedang berisik dengan segala racau yang berbisik.
Ia memijit pelipisnya yang terasa berdenyut, setelah perdebatan yang terjadi semalam dan mungkin karena ia juga menangis sampai pagi menjelang, membuat kepalanya itu terasa berdentam.
"Pria itu semalam memaksaku untuk kembali pulang. Kau pasti tahu kan, dia berdalih bahwa apa yang ia lakukan sekarang adalah demi diriku," adunya seraya menaburkan ragam bunga di atas pembaringan suaminya.
"Sepertinya sekarang aku mulai membencinya.
Aku benci dengan keadaan di mana ia seperti sedang menggantikanmu untuk mengurusku. Padahal, seharusnya dia tidak begitu kan?
Kenapa dia bersikap seperti itu padaku, pada kenangan kita yang masih terasa berat untuk ku terima? Katanya dia hanya melakukan sesuatu yang berkaitan dengan permintaan terakhirmu, tapi apa kau tau, aku tidak percaya. Sama sekali!"
Reynand mendengarnya, segala racauan wanita itu membuat ia mengulas senyum kecut.
Terserah Hanum jika ia tak mempercayai segala ucapannya.
Di sini tugasnya hanyalah menjadi sosok yang sebisa mungkin mampu menggantikan peranan Danil dalam mengurus orang-orang terkasihnya. Baik menjadi sosok ayah bagi anaknya, ataupun sosok kakak bagi mantan istrinya itu. Ia melakukannya dengan tulus, tanpa niatan tersembunyi barang sedikitpun.
Meskipun niatnya selalu diragukan oleh wanita itu baik di masa lalu maupun sekarang,
jauh dalam hatinya ia sendiri masih sangat menyayangi wanita itu dan menganggap ia serta anak yang kini memanggilnya dengan sebutan papa itu sebagai keluarga sendiri yang wajib ia lindungi.
Yang terpenting ia sudah menjalankan suatu perkara yang dianggapnya benar, dan tentu saja hal itupun termasuk dalam
wasiat terakhir Danill sebelum pria itu benar-benar pergi dari kehidupan mereka selamanya.
Tiga puluh menit telah berlalu, dan hal itu dirasanya cukup untuk sekedar menunggu dan mendengar sesuatu yang jika seandainya tak ia acuhkan mungkin bisa membuatnya meradang.
Alih-alih marah ataupun memperlakukan wanita itu seperti semalam, Reynand malah bertutur kata lembut dan mengajak Hanum untuk segera pulang.
"Kasihan Ivana di rumah sendirian," ucapnya yang tumben sekali tak dibantah oleh wanita yang seringkali membeo ketika ia ajak bicara.
Hanum hanya menganggukkan kepalanya paham, lalu ia berjalan lebih dulu dan membiarkan Reynand tertinggal di belakangnya.
Dari dalam mobil ia dapat melihat Reynand yang masih mematung di sisi makam suaminya. Entah apa yang pria itu gumamkan selama lima menit di tepi batu nisan tersebut.
Ia tak tahu, karena ia tak mampu mendengar apapun sebab jarak di antara mereka cukup jauh. Jangankan untuk mendengar gumaman, ekspresi pria itu saja terlihat kabur di matanya.
...----------------...
Duduk termangu di depan teras huniannya, seraya berbalut mantel bulu dan memeluk boneka beruang, Ivana menanti kedatangan papa dan mommy-nya dengan tenang.
Hawa dingin yang masih mendominasi membuat pipi gadis itu bersemu merah, namun begitu ia malah terlihat lebih imut dengan juntaian rambut panjang dan juga poni yang nyaris menutupi netranya yang indah.
Sesekali mengulas senyum tipis, entah apa yang sedang diangankan oleh Ivana, tapi yang pasti keadaan gadis itu terlihat jauh lebih baik daripada hari-hari sebelumnya.
Ia yang kemarin sering kali mematung dalam hening, enggan mengadu dan merayau manja pada orangtuanya, kini ia bisa menyalurkan sedikit demi sedikit rasa yang ingin ia perlihatkan pada sang papa.
Pria itu menyambutnya dengan tangan terbuka, memeluknya dengan kasih dan menatapnya dengan cinta.
Tidak ada kata-kata yang terdengar menyakitkan, merendahkan ataupun intimidasi yang ia tujukan untuk gadis kecil itu.
Semua mengalir begitu saja, dan saat ini Reynand sedang mengupayakan yang terbaik agar hubungan antara ibu dan anak itu lekas kembali seperti semula.
Tidak ada lagi cercaan, tatapan tajam dan juga keheningan yang sering mendominasi di antara keduanya.
Semoga harapnya lekas terwujud, dan Ivana bisa memeluk lagi kasih ibunya tanpa bayang ketakutan dan kebencian.