Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Kisah yang belum tersampaikan.



Teringat lagi pada seberkas kisah lama.


Di mana kala itu, ada dua tangan yang saling menggenggam, menguatkan, dan saling meyakinkan akan kebersamaan.


Pernah berikrar dengan kesungguhan, tanpa ragu yang terbesit dalam setiap pengucapan.


"Aku mencintaimu, yakin membahagiakanmu dan selalu menemanimu sampai pada batas usiaku.


Hanya denganmu, Hanum Salsabiela Rais."


Di bawah sinar rembulan bait-bait kata itu terlantun penuh dengan kesungguhan. Setiap tuturnya menggambarkan kejujuran yang tak kan mungkin ternoda oleh setitik kepalsuan. Danill mempersembahkan segalanya untuk satu wanita yang berhasil membuat hatinya berdebar tak berkesudahan. Mereka saling melengkapi dan berjanji tak akan membagi kasih pada siapapun terkecuali pada anak-anak mereka nanti.


Dari awal perjumpaan mereka yang tak disengaja, lalu berlanjut dengan kesalahpahaman dan juga sedikit ancaman agar Danill tak lagi mengusik ketenangan hidupnya, kala itu.


Kisah mereka seperti garis bergelombang dengan titik putus-putus yang bila ditilik lagi dari segala sisinya mustahil akan ada pernikahan di akhir ceritanya.


Akan tetapi semua terbantahkan, ketika bahu yang biasanya dijadikan sandaran kala itu menghilang, ketika nadi sempat terputus karena terpuruk dalam rasa yang belum terselesaikan, di sana untuk pertama kalinya debaran rasa yang belum pernah sekalipun hadir dalam hati mulai berpendar.


Tangis dan kepedihan yang sekian lama mengurungnya itupun sirna secara perlahan, berganti dengan senyum malu-malu yang kini dengan leluasa dapat ia tunjukkan.


Hanum dan Danill, romansa mereka terjalin dengan liku yang tak berkesudahan.


Merajut cinta dan mimpi dalam harmonisasi istimewa yang nyaris tiada pertengkaran di dalam hubungan keduanya.


Semuanya berjalan sesuai dengan angan indah, sesuai dengan impian, sampai pada akhirnya Hanum menemukan fakta bahwa bahagia yang selama ini selalu tenang berada dalam genggamannya kemungkinan akan segera hilang, terenggut oleh takdir yang saat ini sedang berjalan.


"Bagaimana kau bisa menyembunyikan hal sepenting ini, dariku?" Hanum menggelengkan kepalanya tak percaya. Wajahnya pasi dengan netra yang berkaca-kaca. Ia merasa dibohongi oleh pria yang setahun belakangan ini telah resmi menjadi suaminya.


Pria itu hanya tertunduk dalam kebisuan.


Ia tak bisa menyangkal ataupun sekedar berdalih untuk memberikan sebuah penjelasan.


Lebih tepatnya ia tak mampu untuk mengatakannya, baik mengenai rahasia penyakitnya ataupun dampak lanjutan dari kejujuran yang nantinya ia utarakan.


"Bukankah yang terpenting saat ini adalah hubungan kita? Lihatlah, aku masih baik-baik saja, bukan? Kita masih bersama, kau, aku, dan anak kita, Ivana. Kita masih berkumpul, kita masih bisa tertawa dan hidup seperti biasanya, bukan? Apa yang membuatmu khawatir?" Danill mengusap lembut pipi Hanum yang telah basah oleh air mata.


Wanita itu lalu menepisnya dengan segera.


Darahnya serasa berdesir ketika melihat netra biru itu begitu tenang menyikapi masa hidupnya yang sudah terpastikan.


"Kenapa? Kenapa kau menjanjikan sebuah kebahagiaan padaku jika keberadaanmu saja sebentar lagi akan menghilang? Kenapa kau melimpahi hidupku dengan hujan kasih sayang jika nantinya kau akan meninggalkanku dalam ratap tak berkesudahan? Kenapa, kenapa?"


Hanum berteriak histeris seraya memukul pelan dada bidang pria itu.


Bahkan kini Hanum merasa jijik ketika mengingat mulutnya pernah mengucapkan satu candaan mengenai kebenciannya dengan pria yang kurus, meski nyatanya ucapan itu tak sungguh-sungguh terlontar dari mulutnya.


Ia tak tahu dan tak mengerti, lebih tepatnya ia tak diberikan kesempatan untuk memahami keadaan yang sesungguhnya.


Danill, pria itu bergeming seraya menatap Hanum yang masih sesenggukan. Jemarinya terulur berupaya untuk menenangkan wanita yang teramat ia cintai itu.


"Aku tidak apa-apa," ujarnya lirih. Namun perkataan itu tak membuat Hanum menghentikan tangisnya, hatinya malah kian berdenyut nyeri ketika mendengar ucapan penuh kedustaan itu keluar begitu saja dengan tenang dari mulut Danill.


"Apakah kau sebegitu tidak percayanya kepadaku, hm? Sampai-sampai penyakit yang kau derita saja aku tak mengetahuinya? Pasangan jenis apa dan manusia mana yang menyembunyikan hal seserius ini dari orang terkasihnya?" Hanum menyentak tangan Danill tanpa ragu. Sedang wajahnya pias kentara dengan rasa kecewa yang mendalam. Ia melangkah pergi setelah mengucapkan kalimat yang membuat Danill tercekat untuk beberapa saat.


Bibirnya gemetar berikut dengan dadanya yang bergemuruh seiring ucapan yang baru saja ia dengar.


" Tidak ada cinta tanpa kepercayaan, dan tiada kasih yang terjalin tanpa adanya keterbukaan dari keduanya. Katamu kau tidak apa-apa bukan? Maka dari itu, bagaimana jika sekarang kita sudahi saja hubungan yang penuh dengan kebohongan ini? Bukankah kau baik-baik saja, hm? Maka dari itu kau sampai berbuat seperti ini. Bukankah ini tandanya kau sudah tidak lagi membutuhkanku bukan?"


...----------------...


Hening dalam kebisuan.


Dua insan manusia itu terbelenggu dalam sesal yang meratap diri. Mereka saling mencintai, namun sayang salah satu dari mereka terlalu tergesa dalam mengambil keputusan.


Kebohongan yang telah lama ia sembunyikan itu akhirnya terungkap tanpa kesengajaan.


Namun begitu, sesal selalu datang belakangan.


Dan kini mereka sama-sama berdiam diri dengan jarak yang kembali membentang.


Danill terduduk lesu di ambang pintu kamarnya, sedangkan di sisi lain tempat itu, ada istrinya yang kini sedang menangis tersedu seraya meracaukan kekesalannya.


Belenggu dusta yang ia pendam dalam-dalam itu kini menimbulkan permasalahan baru yang kian rancu.


Dan penyelesaiannya pun tak semudah mengucap kata maaf, meski hal itu tetap perlu untuk ia ucapkan.


Satu dua jam terlewati, samar-samar tangis itupun perlahan mulai meredup. Sayup sembilu itu tak lagi terdengar.


Danill membuka pintu dengan perlahan, lalu ditatapnya wanita yang kini tengah meringkuk di hadapannya itu.


Setitik air matanya lolos begitu saja ketika ia mendapati mimik muka istrinya yang biasanya tertawa ceria itu kini muram dan sembab.


Bahkan dalam lelapnya pun, wanita itu masih menitikkan air matanya.


"Sebegitu kah jahatnya aku?" batinnya.