Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Awal



Beberapa waktu telah berselang semenjak hari terakhir dimana Hanum memutuskan untuk berbaikan dengan Dewi. Kedekatan antara keduanya kian terjalin erat layaknya dua sahabat yang tinggal di bawah satu atap.


Tiada lagi kecemburuan yang mengusik perasaan hanum, karena selama yang ia ketahui wanita yang kini sudah menjadi sahabatnya itu tak pernah berupaya untuk mencuri kesempatan dan mendekati suaminya, terlebih lagi ketika dirinya sedang tak berada di dekat Reynand.


Namun terkadang jiwa manusia mudah tergoyahkan, oleh goda yang perlahan merasuk dalam jiwa. Menguasai pemikiran dan perlahan menggoyahkan keteguhan yang sempat terkukuhkan.


Memang bibir mampu berucap dusta dan mengenai sebuah rasa, tiada yang mengetahui seberapa dalam ia bersemayam dalam hati manusia. Sebuah kata penolakan yang sempat tertancap dalam logika pun perlahan-lahan mulai sirna, runtuh terjerat oleh pesona.


Dewi, wanita itu kini telah menjelma menjadi sosok wanita berparas ayu dengan penampilan yang lebih baik dari sebelumnya.


Segala kebutuhannya terpenuhi dengan baik di bawah naungan hanum dan reynand sebagai penyokong kehidupannya.


Namun sayang kini penutup wajahnya telah ia tanggalkan, dan paras ayunya yang terbuka itu sempat membuat hanum di hujani ragam pertanyaan yang mendera pikirnya.


Akan tetapi segera ia tepiskan segala prasangka yang timbul dalam hatinya, percaya bahwa wanita yang kini menjadi sahabatnya itu tak mungkin untuk berbuat sesuatu yang berujung pada sebuah keegoisan diri semata.


********


Seperti hari-hari yang berlalu sebelumnya, dimana dewi selalu melakukan tugasnya sebagaimana biasanya.


Suasana rumah itu selalu dipenuhi oleh cinta antar dua insan manusia yang tak lain adalah Hanum dan suaminya.


Interaksi keduanya yang mesra, tutur kata manja dan sentuhan lembut yang terulas di surai panjang hanum itu membuat Dewi yang sedang sibuk di meja pantry mendengus lirih.


Tiada senyum yang terpatri di sudut bibirnya, wajahnya muram seolah ia tak bahagia dengan keharmonisan rumah tangga yang terjalin di depan matanya.


Ia mendesah lirih, jengah dengan apa yang dilihatnya. Pemandangan itu selalu menyiksa batinnya, menggoreskan luka perih yang seharusnya tak pernah singgah dalam hatinya.


Ia sadar betul bahwa ia berada dalam posisi yang tak seharusnya, namun apalah daya hatinya telah terperangkap oleh kabut asmara yang berhasil meruntuhkan segala pemikiran logisnya.


Hanya diam, memendam segalanya dalam kebisuan. Sesekali ia beranikan diri untuk mencurahkan rasa yang di milikinya itu melalui perhatian-perhatian kecil pada sosok insan yang telah berhasil mencuri hatinya.


Meskipun ia tahu bahwa perhatian di curahkannya itu hanya berbalas sebuah senyuman kecil yang tak bermakna.


Hatinya telah terjerat oleh pesona, terkurung dalam bingkai asmara yang hanya bertepuk sebelah tangan saja.


Sakit, namun ia tak ingin menampakkan rasa itu melalui mimik wajahnya.


Hanya seulas senyum yang terlihat tulus selalu memancar dari wajahnya.


Menyamarkan pribadi yang sesungguhnya dan menampakkan kepalsuan di raut wajahnya.


Hanya ada Dewi, sang wanita ayu tanpa keinginan yang melebihi batasan.


"Mbak," panggilnya pada hanum ketika wanita itu mendekat padanya untuk membuatkan secangkir teh hangat untuk suaminya.


Hanum tersenyum dan menyahuti panggilan Dewi tanpa menolehkan wajahnya, "ya, kenapa wi?" tanyanya seraya menuangkan air panas pada cangkir warna putih yang telah berisi gula itu.


"Ada sesuatu yang harus aku bicarakan sama mbak," ujarnya dengan sedikit keraguan yang terselip dalam nada suaranya, " ini penting mbak," imbuhnya lagi.


Hanum hanya bisa mengulas senyum, lalu kemudian mengagungkan kepala, "sepenting apa, hingga membuat nada suaramu bergetar seperti itu? apakah ini mengenai jalinan asmara?" tanyanya dengan nada bercanda.


*******


Di ruang keluarga, nuansa hangat penuh cinta itu bertebaran dimana-mana. Reynand sedang meluruskan pergelangan kakinya sedangkan hanum merebahkan kepalanya pada paha suaminya.


Wanita itu sudah memasuki trimester ketiga masa kehamilan, perut yang dulunya rata kini kian membuncit oleh sosok mahluk yang berkembang dalam rahimnya.


Usapan lembut yang hadir di atas permukaan perutnya itu membaut hanum memejamkan matanya, merasakan kenyamanan yang membuatnya hanyut dalam ketenangan.


"Kira-kira, apakah ia akan mirip seperti ku atau seperti mu ketika ia sudah terlahir nanti?"


Pertanyaan itu menggema di telinganya, membuat hanum seketika membuka matanya dan kehilangan segala kenyamanan yang sempat membuainya.


Wanita itu sontak bangkit dari pangkuan suaminya dan ekpresi wajahnya pun berubah menjadi pasi.


Ia terhenyak, tak mampu berturut kata lagi.


'Bagaimana mungkin ia bisa mirip seperti mu Rey, sedangkan kau bukanlah ayah dari bayi ini.'


Suasana hening membelenggu keduanya, menyisakan sesak yang di rasa kian menyiksa bagi hanum sendiri. Wanita itu hanya terdiam, termenung dalam bayang kelam akan sosok ayah biologis dari bayi yang di kandungnya kini.


Diam dalam e


waktu yang lama, hingga suara ketukan pintu pun membuat keduanya sama-sama mengalihkan pandangannya pada sosok Dewi yang berdiri di ambang pintu.


Jemari wanita itu saling bertautan, sedang kegugupan terlihat jelas memancar dari wajahnya.


"Mbak, boleh saya masuk?" tanyanya dengan nada lirih.


Hanum hanya menganggukkan kepalanya, mempersilakan Dewi untuk bergabung bersama dirinya dan juga reynand.


Wanita itu berjalan lirih lalu kemudian duduk di hadapan hanum dan lelaki yang telah berhasil mencuri hatinya itu.


Kegugupan sempat menggoyahkan niatnya untuk membicarakan persoalan yang dirasanya kini, namun hatinya takan pernah bisa tenang jika apa yang membelenggu hatinya saat ini tak segera tersampaikan.


Meski ia tahu konsekuensi dari hal ini mungkin akan membuat dirinya terusir jauh dari keluarga yang menopang kehidupannya saat ini.


"Ada apa, Wi?" suara Hanum mengalun santai seperti biasanya, sedangkan Reynand mengalihkan pandangannya pada buku yang ada dalam genggamannya.


Dewi menghela napas lirih, hatinya kembali berdenyut nyeri ketika ia di acuhkan oleh pria yang ada di hadapannya itu. Dan hal itu kian membuat ia semakin berhasrat untuk menyampaikan segala rasa yang di pendamnya.


"Mbak, bagaimana jika seandainya ada seorang wanita yang mencintai suamimu?" tanyanya tanpa berbasa-basi lagi.


Tekatnya sudah bulat, walau endingnya ia yang akan terluka.


Sontak reynand pun mendongakkan kepalanya, mengalihkan pandangannya pada Dewi yang kini juga menatapnya.


"Jangan bercanda, Wi," jawab hanum dengan cekikik tawa.


"aku serius mbak! Aku mencintai mas Reynand, suami mbak!"