
..."Aku tidak sedang belajar bersabar dalam menghadapi setiap ujian yang datang....
...Tapi ... aku hanya sedang berusaha tegar, menunggu takdir seraya menikmati setiap detik kehidupan yang terasa menyedihkan."...
...----------------...
Tersadar dari kegilaan yang baru saja ia lakukan.
Teriakan histeris serta suara rintih pedih yang menggaung di tengah malam sudah cukup untuk mengusik ketenangan orang lain.
Sayup-sayup raungnya perlahan mulai menghilang, mungkin wanita itu sudah lelah untuk mengerang atau malah wanita itu telah kehilangan kesadaran. Ia terlihat tenang dan napasnya perlahan mulai berembus stabil.
Dari kejauhan Reynand menghela napas lega.
Pria itu sebenarnya tak pernah bisa memejamkan matanya akhir-akhir ini.
Ia selalu terjaga sampai ketika matahari pagi menyingsingkan sinarnya.
Sedari tadi ia tak pernah bergeser daripada tempat yang ia pijaki saat ini.
Di sisi ujung anak tangga, dari tepi ujung atas, ia mematung di sana. Berdiam diri dalam hening malam seraya mengamati sosok Hanum yang berjalan lunglai menyusuri anak tangga.
Wajahnya yang berseri-seri, serta tutur katanya yang terdengar nyata seolah ia sedang berdialog dengan sosok pria yang kini sudah tiada.
Ini sudah kesekian kalinya peristiwa itu terjadi, semenjak Danill meninggal, lalu kemudian wanita itu berubah menjadi seperti itu. Kebiasaannya yang tak seperti biasa, membuat Reynand dihantui oleh kecemasan.
Dan hal itu menjadi tugas tambahan baginya.
Selain Hanum ada juga Ivana yang membutuhkan perhatian lebih dari dirinya.
Gadis itu tak hanya kehilangan figur seorang ayah, melainkan juga kasih dari seorang ibu tepat setelah kematian Danill tempo hari lalu.
Wanita itu seperti berubah menjadi sosok yang berbeda, bukan lagi seperti sosok seorang ibu yang memiliki banyak kasih, melainkan sosok wanita yang sebaliknya.
Jangankan untuk membelai anaknya, untuk melihat rupa gadis itu saja Hanum merasa enggan.
Beranjak dari tempatnya, ia berjalan pelan menghampiri Hanum yang masih bersimpuh di sisi anak tangga. Wajahnya yang terlihat damai sekaligus menyedihkan membuat Reynand terhenyak untuk sesaat.
Pria itu mendengus lirih, bibirnya bergumam membisikkan kata-kata penuh semangat di telinga wanita itu. Ia tersenyum sekilas, namun kemudian wajahnya mendadak pias. Binar matanya berkaca-kaca, seolah ia juga ikut merasakan sesak yang sedang menghujam lara pada wanita yang kini menjadi sahabatnya itu.
Membopongnya perlahan, ia mendekap Hanum dalam pelukannya lalu kemudian membaringkan wanita itu di atas ranjang, menyelimutinya dan kemudian mengecup kilas kening Hanum sebelum akhirnya ia beranjak pergi dari sisi wanita itu.
Reynand masih terjaga, ia termenung sendiri dalam keheningan.
Di sana, tepat di mana sekarang ia sedang terduduk seorang diri.
Masih terasa seperti baru kemarin, di mana ia dan Danill duduk bersama, sekedar untuk berbincang dan bercanda perihal masalah kehidupan.
Tak disangka candaan yang kemarin sempat membuatnya terpingkal itu sekarang malah membuat ia tertunduk malu dan menyadari bahwa apa yang diutarakan oleh pria itu mungkin bisa saja merupakan sebuah pesan terakhir baginya.
"Jika seandainya ada kesempatan kedua, dan tanpa ada diriku di antara kalian. Mungkinkah jika kau dan Hanum bisa kembali mengulang kisah asmara seperti dulu lagi?"
Terngiang lagi, ucapan Danill yang diiringi tawa kala itu menggaung lagi dalam telinganya.
Waktu itu, ia hanya menyikapinya dengan hal serupa. Bercanda, tertawa, lalu pura-pura menyikutnya.
"Nggak!" ujarnya seraya menyesap secangkir kopi yang ada dalam genggamannya.
Pria itu menopangkan dagunya, menatap Reynand yang terlihat bersungguh-sungguh dengan ucapan yang baru saja ia lontarkan.
"Kenapa?" desaknya ingin tahu lebih dalam.
Reynand termenung sesaat, lalu ia menelengkan kepalanya sembari mengingat lagi waktu lampau yang pernah ia lalui bersama perempuan itu. Sesekali bibirnya tertarik ke atas tatkala ia menjabarkan setiap sisi menarik yang dimiliki oleh sang mantan istri, namun bukan berati ia memiliki maksud lain terhadap wanita yang saat ini sudah berbahagia dengan keluarga barunya itu.
"Hm ... Hanum itu ... sifatnya bukan seperti kebanyakan perempuan di luaran sana sih! Bila dia terluka oleh seseorang, atau putus cinta misalnya, maka butuh waktu yang lama untuk menyembuhkan luka tersebut.
Alih-alih kembali, ku rasa ia lebih suka memulai hubungan baru dengan orang lain. Ya ... meskipun butuh banyak waktu juga untuk sampai pada tahap yakin. Bukankah begitu, Danill?" tanyanya dengan nada menggoda.
Danill hanya terdiam, namun lesung pipinya yang kentara itu tak dapat menyembunyikan kebenaran bahwa saat ini ia sedikit tersanjung dengan perkataan yang dilontarkan oleh Reynand.
Benar, memang benar jika apa yang dikatakan oleh Reynand bukanlah sebuah penghiburan semata baginya. Hanum memang berbeda dengan wanita kebanyakan dan faktanya memang ia harus banyak-banyak berusaha demi bisa memiliki wanita itu sepenuhnya.
...----------------...
"Bisa nggak sih, kemarin kalau ngomong nggak muter-muter?" tanyanya pada sofa kosong yang ada di hadapannya. Ia memandanginya dengan sorot mata benci ... lebih tepatnya kecewa.
Ia menyugar rambutnya dengan kasar, lalu kemudian mendengus frustasi. Andai saja kemarin-kemarin ia cepat tanggap dan tahu bahwa itu adalah saat terakhir ia bisa berbicara dengan pria itu, mungkin sekarang ceritanya bisa sedikit berbeda. Dan mungkin sekarang ia tahu harus berbuat apa dan bagaimana demi bisa membahagiakan Ivana dan juga mantan istrinya itu.
Bukan dengan dalih memiliki keduanya ataupun mendekap lagi Hanum dalam ikatan pernikahan yang jelas tak dapat untuk ia lakukan, tapi lebih spesifik pada sebuah keharmonisan selepas duka yang telah datang.
Dan ia terlalu payah dalam mengambil langkah.