
Seperti hembusan angin menjelang musim semi. Semilirnya lembut nan membuai, membawa angan kembali menyelami kenangan manis masa silam.
Waktu yang terus berjalan dan seiring tahun yang terus berganti, semakin banyak pula pelajaran mengenai kehidupan yang dapat dipetik dari setiap kejadian yang menimpa.
Cinta dan lara, tangis dan tawa, seperti hilir mudik yang berganti-ganti seolah tiada jemu.
Pernah mengecap gemilangnya kehidupan, namun juga pernah tersuruk hingga sampai menyentuh dasar pertahanan kesabaran, sudah menjadi hal lumrah yang kerap kali ia alami.
Ia sudah terbiasa, atau lebih tepatnya, ia dipaksa untuk terbiasa menerima segala kepahitan dalam siklus kehidupan. Biarlah tangis yang berderai, biar jemari yang bercerita, dan biar saja hati yang merasakannya.
Ia sudah biasa untuk menelan segala sesuatu yang bersifat getir dan menguras emosi jiwanya.
Hanum, ia sosok wanita keras kepala yang sukar untuk jatuh cinta. Wajahnya yang ayu, rambutnya yang tergerai panjang, serta senyumnya yang menawan, semua hal itu, setidaknya berhasil membuat dua pria dimabuk kepayang.
Wanita cantik dengan daya pikat dan pesona yang tak bisa untuk dijabarkan dalam bentuk kata-kata.
Ia sempurna, dan tak memiliki cacat sedikitpun di mata seseorang yang mengaguminya.
...----------------...
Mematung di tempat yang sama. Pandangannya nanar, menatap serius pada deretan lukisan wanita anggun yang sedang menatap ke arahnya.
Parasnya yang ayu dengan senyum tipis yang tertoreh di bibirnya, ia tampak bahagia dan juga bebas.
Beberapa anak rambutnya terlihat melayang, tertiup angin sepoi lautan, berikut dengan dress warna cerah yang ia kenakan.
Tawanya pecah, dan momen tersebut ikut terabadikan dalam potret wanita yang mungkin terpanjang di sisi ruang yang lainnya.
Semuanya terealisasikan dalam wujud kanvas indah, seolah menjelaskan bahwa di dalam kanvas itu benar-benar ada kehidupan yang nyata.
Ia menyentuhkan jemarinya perlahan, membelai pipi dari lukisan indah yang terpajang rapi di hadapannya. Jemarinya bergerak lembut, menyusuri setiap jengkal wajah yang sampai detik ini masih terasa sulit untuk ia lupakan.
Senyumnya merekah sesaat, membayangkan indahnya momen yang sempat ia lalui bersama dengan wanita itu. Terasa begitu singkat, seperti sekedipan mata.
Melangkah lagi ke sisi yang lainnya, pria berkacamata itu menyusuri setiap lorong yang dipenuhi dengan lukisan sosok wanita yang sama. Dengan ragam ekspresi dan juga kesan tersendiri bagi sesiapa pun yang melihatnya.
Tiba di satu titik, ia kembali menghentikan laju kakinya. Berdiri di depan satu goresan tinta yang dikutip dari selembar diary istimewa milik orang yang sama.
Tulisannya tersusun rapi, dengan bahasa yang indah sekaligus memiliki makna mendalam yang tersirat di setiap penggalan kalimat.
Nanar. Ia terpana sekaligus terharu.
Bahkan setitik air matanya sampai lolos, tak kuasa menahan desir kerinduan yang membelai hatinya dengan cara tak biasa. Ia membacanya, menghayati setiap bait kata yang ia yakini memiliki makna tersembunyi yang diperuntukkan untuk dirinya.
...Tertatih Rindu....
Antara aku, kau, dan dirinya
Bersama dengan asa, ku lebur segenap cinta dan benih asmara.
Menguburnya dalam ruang sunyi, bersamaan dengan kecewa yang berkecamuk dalam dada.
Berharap kau lekas membenciku, mengalihkan pandanganmu, dan menjauhiku.
Kalah dengan ego akan keyakinan rasa yang kau curahkan untuk diriku.
Sosok wanita yang memiliki cacat dalam hatinya.
Aku tiada mampu untuk menggenggam jemarimu. Pesonamu yang begitu bersinar, bahkan tak mampu menerangi hatiku yang kelam, seperti lautan dalam.
Tiada ruang yang tersisa.
Meski hatiku ingin menyambut uluran tanganmu, dan hingga bibirku kebas, meracaukan namamu di setiap malam sunyi.
Aku tak kuasa untuk mengatakan "iya", ataupun "bersedia".
Kau yang mencintaiku dengan segenap hatimu, dan aku yabg berusaha menjangkau jemarimu agar bisa memelukmu dalam dekapanku.
Harapku sirna, tepat di depan mata.
Sadar akan kisah asmara yang tak akan pernah bisa berakhir dengan ikatan yang sempurna.
kau mencintaiku, sedangkan aku masih mencintainya.
Layaknya dawai yang dipetik dengan jemari lentik.
Menghasilkan lantunan nada indah namun juga menguras air mata.
Cintamu masih tersemat rapi dalam palung hati. Tersembunyi seperti rahasia yang berharga.
Bersama ilusi, perangaimu yang selalu menghangatkan hatiku.
Reynand M. Ahmad.
...----------------...
Sejenak hening, ia seolah menyelami kembali waktu yang terjadi di masa lalu.
Seolah ia sedang melihatnya, wanita itu yang tengah menitikkan air mata di tengah gelapnya malam, sembari menggoreskan pena di atas secarik buku diary yang dulunya merupakan pemberian darinya sebagai pengganti teman cerita.
Hatinya berdenyut nyeri, netranya memanas seolah bulir bening yang sedari tadi bersembunyi di pelupuk matanya sudah siap untuk terjun membasahi pipinya.
Ia tercekat, merasakan gelenyar aneh antara sesak dan juga perasaan rancu yang membuat hatinya berdebar tak menentu.
Antara marah, kecewa, sekaligus dibebani rasa bersalah.
Semuanya tumpah di saat yang bersamaan.
Ia yang kini hanya bisa memeluk sepi seraya memandangi potret wajah tanpa bisa menyentuh sosok diri yang asli.
Ia ingin melampiaskan segalanya, ia ingin meluapkan apa yang selama ini dipendamnya.
Ia masih mencintainya, sosok wanita yang sedari awal memang masih menggenggam seluruh hati dan perasaannya. Kini tinggallah kehampaan.
Hati yang sebelumnya sudah tertata, belajar ikhlas menerima takdir yang berlaku, kini kembali rancu. Hancur dan kembali rapuh seperti dulu.