Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Lembaran Baru.



Penat dan lelah menggayuti diri.


Hari sudah hampir menjelang pagi, akan tetapi Reynand masih belum selesai dengan kegiatannya. Ia masih sibuk berkutat dengan setumpuk berkas yang menyangkut dengan kepentingan perusahaan.


Seharusnya masih ada waktu kisaran tiga hari lagi dari target deadline yang sudah ia tentukan, sebelum nantinya ia akan pergi mengambil cuti untuk pertama kalinya. Namun ia tak ingin membuang waktu percuma hanya karena masih ada tenggat waktu yang tersisa.


'Jika bisa menyelesaikannya sekarang, lalu kenapa harus diundur sampai besok?' begitu pikirnya.


"Si gila kerja, akhirnya mengambil cuti juga!" Begitu kiranya celetukan manis yang diucapkan oleh Zayn. Pria itu sengaja menggoda adiknya seperti itu agar supaya Reynand tak melulu terfokus pada pekerjaannya saja.


"Memang benar, jika fokus pada pekerjaan itu merupakan satu tindakan yang bagus, Rey!


Akan tetapi jika kau terlalu memforsir diri seperti saat ini, bukankah nantinya kau sendiri yang akan rugi? Istirahatlah, dan lanjutkan lagi besok! Masih ada waktu sebelum kau pergi, bukan?"


Akan tetapi Reynand tak menggubrisnya, ia masih saja memasang tampang serius seraya memainkan jemarinya dengan cekatan di atas papan keyboard.


"Tidak ada gunanya menunda pekerjaan,


Kita harus semaksimal mungkin dalam menyikapi segala hal, terlebih lagi ini mengenai perusahaan! Jika kau lelah, maka pulanglah lebih dulu. Lagipula aku juga sudah hampir selesai," ucapnya tanpa mengalihkan pandangan.


Zayn hanya bisa memasang tampang lesu. Sebenarnya sejak tadi pun ia ingin sekali segera pulang dan berjumpa dengan anak-anaknya, lalu beristirahat, dan akan lebih menyenangkan jika ia bisa mendengar celoteh ria dari anak bungsunya. Ah, akan tetapi sekarang hari pun sudah hampir menjelang pagi, dan pastinya anak-anaknya sudah tertidur.


Ia pun memilih untuk beranjak pergi seraya memegangi bahunya yang sedikit berdenyut pegal, meninggalkan Reynand yang masih keras kepala itu seorang diri di ruangannya.


Sebenarnya bukan tanpa tujuan Reynand mengajukan pengambilan cutinya kali ini, apalagi sampai terkesan terburu-buru seperti sekarang ini.


Hal ini merupakan satu langkah maju yang akan ia ambil demi mewujudkan satu dari banyaknya harapan yang sudah lama ia impi-impikan. Dan tentunya ia tak ingin menunda untuk lebih lama lagi.


...----------------...


Termenung untuk sejenak, menerawang angan yang memendar dalam kepalanya seraya memandangi sebuah potret yang ada dalam ponsel genggamannya.


Senyuman manis itu, serta rambut kuncir dua dengan pita bunga di sisi pinggirnya yang kian membuat gadis mungil itu terlihat menggemaskan.


Hanya melihatnya saja berhasil membuat bibir Reynand menyunggingkan senyuman.


Entah karena potret itu yang terlalu sempurna, atau memang karena orang yang berada dalam potret tersebut terasa penting baginya.


Dua hari berselang semenjak kerja rodinya kemarin lusa. Sekarang ia hanya menghabiskan waktunya untuk berdiam diri di dalam kamar tanpa kepikiran untuk pergi kemanapun.


Untuk saat ini ia lebih merasa senang jika dapat menghabiskan seluruh waktunya agar bisa bercakap secara virtual dengan Ivana, dan sesekali dengan orangtuanya juga tentunya.


"Uncle Candy," panggil gadis itu seraya menopangkan dagunya dengan nyaman di atas kedua punggung tangannya.


"Ya, Sayang."


" Bisakah jika Uncle membawakan aku sebuah boneka beruang, besok?" tanyanya dengan wajah lesu. Namun binar matanya yang bulat itu seolah tak bisa berbohong mengenai oleh-oleh berupa sebuah boneka beruang yang lucu pemberian dari sosok Reynand.


Pria itu menganggukkan kepala, mengiyakan permintaan Ivana tanpa sempat menggodanya lebih dulu. Pasti akan lebih menarik jika gadis kecil itu menangis atau merengek padannya demi sebuah boneka bukan? Tetapi Reynand tak tega jika harus membuat gadis itu menangis, terlebih lagi hanya demi sebuah benda yang nilainya pun tak seberapa.


Seusai mematikan sambungan teleponnya, Reynand pun mengingat kembali sejak kapan gadis itu mulai memanggilnya dengan sebutan Uncle Candy.


Padahal sebelumnya Ivana hanya memanggilnya dengan Uncle saja tanpa embel-embel Candy di belakangnya.


Reynand terkekeh geli membayangkan kemungkinan yang ada.


Apapun itu, sekarang bukanlah waktunya untuk membayangkan hal yang bukan-bukan.


Fokusnya untuk bertemu dengan Ivana, dan kedua orangtuanya itulah yang harus diutamakan. Terlebih lagi, kini hubungan antara dirinya dengan Hanum dan juga Danill tak seburuk dulu. Bisa saja bukan, melalui perantara Ivana maka mereka bisa menjadi keluarga lagi seperti dulu.


Keluarga dalam konsep saudara yang saling merangkul dan menyayangi, bukan sebuah hubungan suami istri seperti dulu.


Toh sekarang ia juga sudah menyerah dan tak melulu menomor satukan perasaan yang telah terputus sejak lama.


...----------------...


Tiba sekitar pukul lima sore tadi, dan saat ini Reynand masih duduk santai di sebuah coffe shop bandara seraya menunggu jemputan dari Danill.


Sebelumnya pria bule itu sempat menghubunginya agar segera memberikan kabar jika ia sudah sampai di negara tersebut.


Dan tidak ada alasan apapun baginya untuk menolak permintaan dari pria jangkung itu.


Menyenderkan tubuhnya yang terasa pegal, sedang di sisinya terdapat boneka beruang besar berwarna merah muda.


Sepertinya warna itu serasi jika dipadu padankan dengan karakter Ivana yang manis dan juga manja.


Tak berselang lama sejak ia terduduk di sana seraya menikmati minuman faforitnya, dari kejauhan sepertinya ia melihat seseorang yang ia kenali.


Bukan pria jangkung berbalut busana resmi, melainkan sosok pria maskulin dengan tampilan segar yang berbeda dari biasanya.


Akan tetapi pemandangan itu berubah menjadi sedikit suram ketika ia mendapati Hanum yang juga ikut datang untuk menjemputnya.


Memutar bola matanya malas, ia segera mengalihkan atensinya dari dua orang yang sibuk memamerkan kemesraan itu pada sosok gadis mungil yang berlarian kecil menuju ke arahnya.


Gadis itu merentangkan kedua tangannya seraya memanggil namanya tanpa ragu.


"Uncle Candy ...." teriaknya dengan gembira.


Sontak ia pun segera berjongkok lalu kemudian memeluk tubuh gadis itu dengan ekspresi yang sama.


Jika ditilik dari pandangan orang sekitar, yang terjadi antara Reynand dan Ivana itu terlihat seperti seorang anak yang sudah lama sekali tak bertemu dengan ayahnya, dan akhirnya mereka melepas rindu di bandara.


Mereka terlihat bahagia, dan ekspresi keduanya benar-benar tak dapat untuk didustakan.


"Hadiah untuk my princess, boneka beruang seperti yang kau minta kemarin."


Berbinar senang, Ivana menerimanya dengan tangan terbuka.


Gadis itu memeluknya erat, lalu kemudian mengecup kilas pipi Reynand seraya mengucapkan kata terima kasih yang tulus.


Sejenak ia membatu, hatinya berdenyut tak menentu seraya memandangi wajah gadis itu dengan ekspresi kosong.


"Ah, seandainya saja aku masih bersama dengan Ibumu. Mungkin sekarang ini kau sudah menjadi putriku. Dan mungkin setiap hari kita bisa saling berbagi canda seperti saat ini, bukan?"