Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Kasih tanpa ikatan.



..."Ada yang mengatakan, kalau cinta itu tak pernah memandang perbedaan usia....


...Tak juga selalu menilik dari segi bagus rupa, entah cantik atau tampannya paras mereka....


...Kita tidak pernah bisa memilih pada siapa kita bisa jatuh cinta. Pada siapa hati kita nantinya akan terpaut....


...Cinta itu alami, murni, sekaligus penuh misteri....


...Untuk kalian yang pernah menjadi cinta dalam hidupku....


...Baik cinta sepihak, cinta yang kurang perjuangan, dan cinta yang terpisah karena kematian. Terima kasih! Berkat kalian, aku bisa memahami makna keistimewaan dari cinta itu sendiri. Nyatanya, saat ini aku masih bisa mencintai seseorang yang bahkan sudah berbeda alam dengan diriku. Aku masih menggenggamnya, dan memilikinya. Tidak dengan pola pikirku, tapi ... aku mencintainya dengan segenap hatiku."...


...Hanum Salsabiela....


...----------------...


Mengangumi paras ayu yang terpantul melalui cermin rias, wajah rupawan dengan polesan perona bibir warna merah muda itu, menambahkan kesan sempurna penampilan wanita yang kini sedang ditata rambutnya oleh Reynand.


Mengenakan dress putih bermotif bordir keemasan yang dipadu padankan dengan hills bewarna transparan yang membungkus telapak kakinya, membuat Hanum terlihat anggun, seolah dirinya dipenuhi oleh kharisma.


Wanita itu tersenyum, lalu mendongakkan kepalanya agar bisa bersitatap dengan sosok pria yang sedari tadi berusaha meng-curly rambut panjangnya yang sebentar lagi katanya akan segera selesai.


Pria itu menaikkan sebelah alisnya, "belum selesai, Num! Astaga!" ucapnya seraya menundukkan kembali kepala Hanum.


Wanita itu merengut, pipinya menggembung dengan bibir yang ia manyunkan. Terlihat lucu dan menggemaskan bagi Reynand yang sedari tadi mencuri-curi pandang pemilik dari paras ayu itu melalui pantulan cermin rias.


"Kenapa, hm?" Pria itu menundukkan kepalanya hingga sejajar dengan wanita itu. Membuat Hanum reflek memundurkan kepalanya ke belakang karena terkejut.


Reynand menyunggingkan senyum jumawa, lirikannya yang masih saja nakal itu membuat Hanum seketika menolehkan kepalanya. Ia tak akan tergoda, dan tak akan mau untuk tergoda lagi pada pria yang beberapa waktu ini selalu saja membuat suasana hatinya menghangat.


Berdehem lirih, Hanum mendorong pelan dada Reynand dengan jari telunjuknya. Memaksa pria itu untuk sedikit mundur, dan menjauh dari wajahnya yang hanya menyisakan jarak dua centi saja dari wajah pria itu. Entahlah, rasanya sesak, dan tak nyaman. Seolah ia dihimpit oleh sesuatu yang tak ia inginkan.


Menggaruk tengkuknya yang tak gatal, pria itu tersipu malu setengah kikuk tatkala Hanum meresponnya dengan cara seperti itu.


Padahal, ia sudah membayangkan hal seru apa yang akan terjadi berikutnya. Tapi sayang, hal yang ia bayangkan tidaklah terjadi.


Terkikik seorang diri, sedangkan Hanum memandanginya dengan ekspresi bingung.


"Kamu nggak ketularan aku kan, Rey?" Hanum menelengkan kepalanya, menatap cemas pada pria yang kini sudah berhasil menghentikan tawanya.


Pria itu tersenyum, lalu tiba-tiba mencubit gemas pipi Hanum hingga wanita itu menepuk-nepuk pergelangan tangannya.


"Sakit, Rey! Astaga ...." keluhnya seraya mengusap pelan pipinya yang masih terasa nyeri.


Pria itu berdecih, "halah, gitu aja nangis," cibirnya bercanda.


Wanita itu melengos, hendak beranjak dan menjauh dari pria yang sedari tadi mengusili dirinya. Akan tetapi, baru saja selangkah ia mengayunkan kakinya, jemari pria itu menahan pergelangan tangannya.


Membuat langkahnya terhenti dan kembali menolehkan kepala ke belakang.


"Yaudah, iya! Maaf," ujarnya seraya mengusap lembut pipi chubby milik mantan istrinya itu.


Ia terdiam untuk beberapa saat, sebelum kemudian ia membawa Hanum dalam dekapannya.


Memeluknya dengan kasih, sembari menuturkan kalimat lirih pada telinga wanita itu.


Hening sejenak, tidak ada satu pun di antara mereka yang kembali berbicara.


Hanya saling diam, dan memfokuskan pandangan pada netra yang saling bertatapan.


Ada rona merah yang berpendar di pipi wanita itu, binar matanya yang cerah terlihat bergerak gusar. Ia yakinkan dalam dirinya sendiri, bahwa ia tak akan lagi berdebar untuk sesuatu yang berkaitan dengan kisah masa lalunya.


Ia sudah memendamnya dalam-dalam. Ia juga tak lagi mengharapkan adanya kasih yang akan merebak di antara ia dan juga sang mantan suaminya itu.


Cukup sudah, tak akan ada lagi kisah asmara yang berjudul rujuknya aku dengan mantan suamiku. Itu tak akan mungkin!


"Rey," Hanum memanggil namanya perlahan.


Suaranya mengalun lembut bak senyar yang membelai dengan kelembutan.


Halus dan membuai, namun pria itu sadar, ia tak ingin mendengar kalimat yang hendak terucap dari bibir wanita cantik yang kini memandanginya dengan tatap sayu.


Ia menggeleng, "aku nggak mau dengar apapun, sekarang!" tukasnya seketika membuat Hanum menelan lagi kata-kata yang sudah ada di ujung lidahnya.


"Kamu bisa jawab nanti, karena aku nggak memaksamu untuk memikirkan hal itu sekarang. Nggak perlu mikirin perasaan aku, karena yang terpenting sekarang adalah kesehatan kamu.


Aku bisa nunggu kok, walau sampai kapanpun itu. Dan ... satu hal yang perlu kamu tahu, aku masih sayang sama kamu. Sampai kapanpun hal itu nggak akan pernah berubah."