Maduku

Maduku
part 9



Berbanding terbalik dengan ku , yg hanya berbalut dengan dress panjang dengan sebuah jam tangan yg menjadi satu-satunya perhiasan yg melingkar di pergelangan tangan ku.


Aku berdecih pelan , merutuki nasip sial yg terus membelenggu kehidupan ku.


Jika di bandingkan dengan Cindy , tentu jelas gadis itu menang telak atas segalanya nya.


Apalah dayaku , yg hanya anak orang miskin dengan pendidikan sebatas SMA.


Telingaku serasa memanas ketika mendengar istilah perjodohan ikut terseret dalam jumpa pertama ku dengan mama iren kali ini.


Raka dengan Cindy , mereka berdua sudah di jodohkan sejak waktu yg lama.


Sesak serasa menghimpit rongga nafas ku , aku tak habis pikir ternyata keraguan ku sejak semalam benar-benar terjadi dan membuatku terlihat begitu menyedihkan.


"Haih .." ku Hela nafas ku perlahan , mencoba menguatkan hatiku yg mulai rapuh akan penolakan.


"Maaf tant, saya pamit pulang dulu." izin ku dengan senyum ku yg masih mengembang sempurna di sudut bibir ku.


"Aku anter sayang." ucap Raka menggandeng tanganku.


Perlahan ku tepis jemari itu dari lengan ku ."Nggak usah ka, aku bisa pulang naik taksi kok." tutur ku dengan senyum palsu yg menyamarkan segala kecamuk perih dalam hatiku.


"Tapi sayang.."


"Udah deh ka ! kamu disini aja , biarin temen kamu ini pulang naik taksi! lagian di sini kan masih ada Cindy. Kamu juga harus hargain dia dong !" tegas mama iren dengan tatapan mata tajamnya yg seolah memberi pengusiran tak kasat mata terhadap ku.


Aku mengagguk pelan , kemudian pamit pergi dengan penuh kesopanan.


Langkahku gontai , seiring bulir hangat yg terjun bebas mengalir di pipiku.


Jemariku sibuk memegangi sudut apapun yg berada di jalanan yg kulalui. Sesak ku kian menyiksa , menimbulkan pening yg menyerang isi kepalaku.


Aku terhuyung ke tepian jalan ,hingga suara klakson mobil berbunyi nyaring seiring terhenti nya laju mobil yg nyaris menghantam tubuhku.


"Kamu nggak apa-apa kan?" ucap pria itu terdengar khawatir.


Ku naikkan pandangan ku. "kak rizal.." gumamku lirih memegangi kepalaku yg terasa nyeri.


"Lho,ngapain kamu di sini yu?"


"Ekhm , dari rumah temen kak . Ini baru mau pulang ke mess ."


"Yaudah, aku aja yg anterin kamu pulang."


"He-em , thank kak. Maaf aku sering ngerepotin kakak."


"Aku nggak ngerasa di repotin kok yu , kamu tenang aja."


Sepanjang jalan yg kami lalui, pembahasan kami hanya seputaran kejadian tempo dulu ketika kami sempat menghabiskan waktu berdua dalam penuh keceriaan.


"Kapan kamu ada waktu yu ?" tanya rizal beralih fokus ke arahku.


"Entah , aku juga belum tau sih kak!"


"Ekhm ! gimana kalau lusa aja. Aku jemput kamu pagi dan sebelum jam dua siang aku udah anter kamu balik ke mess lagi. Gimana?"


Sejenak aku terdiam , bukankah ini suatu kebetulan ? Rizal datang seiring luka perih yg di torehkan oleh keluarga raka "Ehm.. boleh deh kak . Ntar jam berapa nya aku kabarin ya!"


Rizal melingkar kan jari nya membentuk huruf O . Membuat ku mengulas senyum tipisku ketika melihat polah tingkah nya yg selalu saja bisa menghibur ku.


•••••••••


Mobil bergerak pelan , dan berhenti tepat di depan pagar mess.


Aku mengucapkan terima kasih pada Rizal atas kebaikan hatinya yg bersedia mengantar ku pulang.


Ku langkahkan kakiku perlahan menyusuri area resto yg telah sepi pengunjung. Dan di dalam sana terlihat Raka sedang bersidakap menunggu kedatangan ku.


"Darimana ?" tanya Raka dengan nada penuh ejekan.


"Dari mana , tentu kamu tau kan?" jawabku meninggi.


"Kak Rizal!"


Sontak netra coklat itu kian menggelap , gerahamnya gemeratak menahan emosinya yg beranjak naik.


"Kanapa? cemburu..?" pancingku kembali tersulut emosi.


Raka menghela nafas nya kasar. Ia mengusap wajahnya lembut , kemudian meraih jemari ku.


"Maafin mamaku sayang , aku juga nggak tahu kalo mama malah jodohin aku sama Cyndi" tuturnya lirih.


"Kayaknya kita harus berhenti di sini deh ka!


dari awal aku udah bilang ke kamu kan, kalau ini terlalu cepat ."


"Tapi sayang, aku serius sama kamu !


aku beneran mau nikahin kamu sayang !"


"Nggak bisa ka ! kamu liat kan tadi ! mama iren aja udah nggak nganggep aku . Gimana mungkin aku bisa nikah sama kamu? kamu mikir nggak sih gimana perasaan aku ..?" ucapku meninggi.


"Sayang.. please dengerin aku okey !


mungkin saat ini mama belum bisa nerima kamu , tapi aku akan coba bujuk mama lagi sayang ! kamu percaya aku kan?"


"Aku selalu percaya sama kamu ka ! tapi untuk saat ini, mending kita break aja dulu ya !


aku mau kita sama sama berfikir lebih dewasa lagi , sebelum mikir ke jenjang pernikahan! ya udah aku masuk dulu ,mau istirahat . aku capek !" ucapku seraya meninggalkan dia yg masih mematung di tempatnya.


" Maafin aku sayang ..!"


•••••••••••


Tiga hari berlalu.


Ayu dan Raka masih enggan untuk bertegur sapa. Keduanya seolah canggung untuk memulai sebuah obrolan ringan seperti yg telah mereka lalui beberapa bulan terakhir ini.


Di sisi lain , Raka masih terus mengupayakan usahanya untuk membujuk sang mama.


Namun usahanya seolah sia-sia , karena sang mama ternyata tetap kokoh dengan pilihannya , yaitu Cyndi.


"Sekarang kamu pilih ka !


kamu mama ijinin menikah dengan perempuan miskin pilihan kamu itu , tapi dengan satu syarat . Kamu tidak akan mendapatkan 1 sen pun harta dari keluarga mama."


"Atau pilihan ke dua ! kamu menikah dengan Cyndi dan semua harta keluarga mama , di bawah kendali tangan kamu?"


"Mama kasih waktu tiga hari untuk berfikir, setelah itu kamu kesini lagi temui mama."


Raka tak bisa memilih ke dua nya . Di satu sisi dia ingin menikahi ayu, tapi di sisi lain dia juga nggak bisa lihat kekasihnya itu menderita.


Setelah lama saling bungkam , ke dua pasangan kekasih itu kembali bertemu.


Raka dengan segala keteguhan hati nya menjelaskan bahwa apa yg ia lakukan saat ini adalah demi kebaikan bersama.


"Sayang ! jujur aku masih sayang banget sama kamu. Dan sampai kapanpun perasaan ini tetaplah akan seperti ini."


"Aku minta maaf , mungkin saat ini takdir belum merestui hubungan kita sayang.."


"Iya ! aku paham , aku ngerti dengan posisi kamu. Jujur , perasaan ini masih tersimpan rapi untuk mengenang mu , mengenang kisah cinta kita. Biarlah waktu berjalan , mengikis segala keraguan akan kekuatan cinta kita.


Tapi percayalah , walau sekuat apapun manusia memberikan sebuah jarak , maka Tuhan hanya perlu menjentikkan jemarinya untuk mengembalikan semua masa indah kita" tutur ku dengan gejolak sendu.


Bulir bening kian menggenang di kelopak mataku , seiring rasa cemas dan takut ku akan sebuah kehilangan yg nyata membentang di hadapan mata.


"Untuk terakhir kalinya sayang, bolehkan aku memeluk mu?" Suaranya begitu berat dan juga terdengar parau. Menyiratkan sembilu perih yg sama seperti yg kurasakan saat ini.


Ku anggukan kepala ku perlahan , mengijinkan nya untuk kembali merengkuh bahu ringkih ku meski untuk sesaat.


Kami berdua larut dalam buai pilu , syarat akan kepedihan yg merenggut paksa dua kisah jalinan asmara yg terjalin begitu sempurna. Sayang seribu sayang , kisah asmara harus kandas seiring tiadanya restu yg berpihak padanya.