
Ketika pagi menjelang , suasana riuh dapur di hari libur sudah menjadi rutinitas di rumah ini.
Rizal dengan lincahnya menggerakkan pisau tajamnya , memotong semua sayur mayur yg hendak ia olah.
Sementara aku, sedang santai memandanginya dari kejauhan sembari memegang sebuah sapu. Membersihkan sela-sela bawah kursi yg mulai berdebu tipis.
Tanganku berayun pelan, menjangkau sudut tersembunyi yg terselip seberkas kotoran di sana.
Fokus ku teralih, ketika wangi sarapan pagi menguar dan menusuk Indra penciuman ku.
"Sarapan sudah siap!" ucap Rizal sembari melepas balutan apron dari tubuhnya.
Ku percepat gerakan jemariku, menyisihkan semua debu dan memasukkan nya ke dalam tempat sampah.
Kami ber dua duduk berhadapan, menikmati sarapan pagi penuh ketenangan.
Di saat suapan terkahir nya berada di ujung bibirnya. Suara ketukan pintu membuat ku kembali menaruh sendok makan yg masih menyisakan sesuap nasi itu ke atas piring.
"Biar aku aja yg buka kak!" ucapku menahan Rizal yg sudah hendak beranjak.
Kubawa langkahku perlahan, kemudian menjangkau gagang pintu."Sia-pa?" ucap ayu mendadak tergagap ketika mendapati seseorang yg tak ingin ia temui sudah berada di hadapannya. Sontak jemarinya bergerak cepat kembali menutup pintu yg telah sepenuhnya terbuka.
Namun sayang, gerakannya kalah cepat dengan lengan Raka yg telah lebih dulu menahan pintu itu untuk tak lagi tertutup.
"Tolong, dengerin aku dulu yu! jangan tutup pintunya." ucap Raka sembari mendorong badan pintu itu agar terbuka sepenuhnya.
"Ngapain lagi kamu kesini? aku sudah bilang kalau kita udah selesai ka! nggak ada yg harus di bahas lagi."
"Kita nggak pernah selesai, karna aku nggak pernah setuju akan hal itu. Aku masih cinta sama kamu, please jangan gini yu!"
"Cinta?" ucapku perlahan.
"Iya, aku masih cinta sama kamu."
"Bukankah kamu sudah di miliki oleh orang lain? lantas apa hak ku dan apa kuasaku untuk tetap bertahan di sisi mu ka?
kau tau, kita sudah selesai," ucapku lirih memandangi nya penuh binar kepiluan.
Raka menghela nafas beratnya dan dengan cepat lengan kokoh itu merengkuh tubuhku.
Membekap ku erat syarat akan ke posesifan.
"Lepasin ka!" ucapku merenggangkan dekapannya.
Namun lengan itu kian mengerat, seolah memenjarakan ku dalam kungkungan tubuhnya. "Bukankah kau ingin sebuah bukti akan perasaan ku?" ucapnya dingin dengan sorot matanya yg berbeda.
Sebuah kecup lembut hadir di bibirku , seiring lumatan kasar yg kian terasa di bibirku.
Kupalingkan wajahku kasar, melepas paksa pagutan yg masih menyatu di bibirku. "Stop ka!" teriakku sembari meronta .
Raka melepaskan dekapannya , tubuhnya beringsut menjauh dari ku. Tatapannya nanar seolah hilang arah."Maaf kan aku , sungguh aku tidak bermaksud untuk , ,"
"Lupakan ! pergilah dari sini dan jangan lagi datang ke hadapan ku !" ucapku dingin tak lagi sudi menatap wajahnya.
"Tapi yu," ucapnya menahan pergelangan tangan ku. Hendak ku renggut paksa pergelangan tangan ku dari cekalan tangannya. Namun sepertinya keadaan sepenuhnya telah berbalik.
Rizal dengan segala perangainya menepis kasar jemari Raka yg masih mencekal di pergelangan tangan ku. "Bisakah anda berniat sopan ketika bertamu di kediaman orang lain?" hardik nya dengan tatapan tajamnya.
"Cih , jangan ikut campur ! ini urusan gue sama ayu, nggak ada hubungannya sama situ!" tunjuk Raka dengan telunjuknya yg mengacung sempurna tepat di wajah Rizal.
Rizal menepis telunjuk Raka dari hadapannya, seringainya kian lebar seiring tutur kata tajam yg kain melemahkan hati Raka. "Harusnya kamu sadar diri , sekarang ayu sudah menjadi milik saya. Kamu hanya sebatas kenangannya di masa lalu. Harusnya kamu pergi jauh-jauh, mengingat kalau tunangan saya ini tak lagi membutuhkan kamu di sampingnya ."
Raka berdecih menahan amarahnya , tatapannya tajam syarat akan peringatan.
Ia berbalik dan meninggalkan rumah ini dengan kecamuk kekecewaan.
Sementara aku masih mematung dengan wajah bodoh ku. Menatap Rizal dengan penuh kebingungan.
Pria itu dengan senang hati membantunya untuk bermain sandiwara di hadapan raka.
"Terimakasih atas bantuannya kak." ucapku lirih sembari menundukkan pandangan ku.
"Nggak apa-apa. Kadang kita harus berbagi peran untuk melengkapi sebuah drama."
Aku hanya tersenyum kecut mendengar penuturan dari nya. Senyum ku terurai tipis dengan anggukan kecil dari kepala ku.
°°°°°°°°°°
Sudah sekitar setengah jam berlalu , Rizal yg semula berniat menghabiskan waktunya di rumah mendadak keluar karena ada suatu hal penting yg harus ia tangani.
Aku hanya bisa tersenyum melihat ia mengendarai mobilnya keluar dari kediaman ini.
Setelah semua tugas ku selesai dan meninggalkan jejak keringat dan juga bau masam di sekujur tubuhku. Aku memilih untuk berendam sekaligus menghilangkan rasa penat yg menghinggapi kedua bahuku.
Sejenak ku pejamkan bola mataku , meresapi wangi khas bunga yg menguar dari dalam air mandi ku.
Kusudahi aktifitas berendam ku , seiring air yg mulai dingin dan tubuhku yg mulai gemetar menahan hawa dingin. Balutan jubah mandi berwarna putih , menyesap setiap tetes air di sekujur tubuhku.
Memberikan sedikit kehangatan ketika benda itu membalut tubuhku dengan sempurna.
•••••••••••••
Di sini , di tepian jalan ramai tempat lalu lalang kendaran beroda dua dan empat.
Aku masih menegakkan tubuhnya menunggu sepinya kendaraan yg melaju.
Langkahku tertuju pada sebuah cafe baru di ujung jalan sana.
Entahlah , mood ku serasa masih belum membaik semenjak tadi pagi ketika kemunculan Raka .
Mataku mengendar ke seluruh penjuru , mencari sudut pandang ternyaman di tengah suasana ramai pengunjung cafe.
Dan ku dapati hadirnya seseorang yg berada di meja paling ujung sedang membelakangi ku. Bahu itu dan juga busana yg di kenakannya , sama persis seperti baju yg Rizal kenakan pagi ini.
Jiwa penasaran ku seolah kian bergolak.
Seiring langkah pelan kakiku yg kian merapat ke arah mereka.
Ku raih sebuah bangku yg berada tepat di belakang meja Rizal , dan ku duduk kan tubuhku di sana. Dengan begitu telingaku dengan leluasa dapat mengulik lebih jelas apa yg sedang mereka perbincangkan.
Baru beberapa detik aku duduk di bangku pilihan ku , namun sepertinya keadaan tak mendukung rencana ku.
Rizal malah beranjak dari duduknya , di ikuti oleh gadis yg ada di hadapannya.
Ke duanya terlihat akrab ketika senyum merekah seolah tak pernah pudar dari bibir duanya.
Aku hanya bisa berdecak menahan kekesalan ku .Mungkinkah ini yg di maksud dengan urusan penting? tanyaku dalam hati.
Kaki ku berjalan cepat mengikuti ke duanya yg masih berada di area parkiran.
Di sudut tersembunyi , aku masih mengamati setiap gerik mereka dari kejauhan.
Sebuah salam kecup manis di hadiah kan gadis itu tepat di pipi Rizal , sebelum akhirnya mereka berdua berpisah dan masuk kedalam kendaraan masing-masing.
Jemariku mengepal , meremat kasar ujung bajuku yg semakin berkerut. Alih-alih melepas kesialan , datang ke cafe ini malah membuat mood ku semakin buruk akibat perjumpaan ku dengan mereka.
Aku memilih untuk kembali pulang. Mood ku sepenuhnya telah berubah menjadi buruk , bahkan kian buruk dari yg tadi pagi. Tiada lagi ingin ku untuk bersantai sembari menyesap dinginnya minuman di dalam cafe.
Saat ini aku hanya ingin pulang , dan melemaskan otot kepala ku yg seolah kian menegang.
••••••••••••
Rumah masih saja sepi , sama seperti ketika aku meninggalkannya sejak setengah jam yg lalu. Belum ada mobil yg terparkir di pelataran rumah itu. Menandakan kalau Rizal masih belum jua sampai di tempat ini. 'Mungkinkah Rizal mampir ke tempat perempuan yg tadi?' pikirku penuh kecurigaan.
Aku masih penasaran dengan siapa Rizal bertemu, ke duanya terlihat sangat akrab bagai teman lama namun dengan rasa yg berbeda. Mungkinkah mereka ,,,
Kulangkah kan kaki ku kesana-kemari, masih di lantai ruang tamu dengan pikiran ku yg menerawang jauh dengan menduga-duga hubungan Rizal dengan wanita tadi.
Kedekatan mereka membuatku sedikit terusik dan tak nyaman. Apalagi ketika melihat wanita itu memberikan kecup nya di pipi manis Rizal. "Haih, mengingat hal itu hanya membuat ku merasa kesal," rutuk ku lirih.
"Ngapain mondar-mandir di situ? nggak ada kerjaan kamu," kejut Rizal yg sudah berdiri di belakang ku.
Pria itu membuatku sedikit terkejut dan reflek menolehkan kepala ku menghadap nya.
"Eh, kakak sudah pulang ya, bukanya tadi lagi ada urusan di cafe," ucapku perlahan sembari memaksakan senyum ku.
Rizal menautkan kedua alisnya, pria itu menatapku penuh selidik,"Kok kamu tau kalau aku di cafe?"
'Deg,' aku seolah tercekat, bingung harus menjawab apa dan menjelaskan nya dari mana.
"Kamu ngikutin aku ya," ledek Rizal dengan wajah menyebalkan.
"Eh, enggak," geleng ku cepat menolak tuduhan tersebut. " Ekhm, jadi gini kak. Sebenarnya aku tadi juga pergi ke cafe, tapi jujur aku nggak tau kalau kakak juga ada jadwal ketemu orang di sana. Awalnya aku mau negur, tapi berhubung kalian ngobrolnya asik aku cuma jadi penyimak aja," ucapku lirih sembari memainkan jemari ku, gugup.
"Lhah, kenapa kamu nggak gabung aja tadi yu?"
"Ya aku nggak enak lah kak, orang kalian asik begitu. Masak iya aku tiba-tiba nimbrung nggak jelas," ucapku memberengut kesal.
Rizal tersenyum lembut ke arahku, senyumnya merekah dengan jemarinya yg juga mengacak rambutku,"Kami hanya sekedar teman masa kuliah kok, kamu jangan cemburu lah," ledek nya mencuit pucuk hidungku.
Aku tersipu mendengarnya, pria ini bisa seketika membuat kesal ku hilang hanya dengan candaan receh yg keluar dari mulutnya. Kudorong tubuhnya pelan, sedikit menjauh dari tubuhku yg terasa terhimpit oleh tubuhnya yg kian condong ke arahku."Jangan gr deh kak, a-aku nggak cemburu tau," elak ku dengan wajah yg sedikit merona.
Rizal terkekeh pelan mendengar nya. Ia melangkah mundur dengan tatap matanya yg masih memandangi ku."Jangan pernah mendustai sebuah rasa, karna hakikat nya sebuah rasa yg terpendam hanya menyiksa diri," ucapnya dengan senyum tipis penuh arti.