Maduku

Maduku
part 11



Waktu terus berjalan , Begitupula dengan kedekatan ku yg kian terjalin bersama Rizal.


Tiada sekat pemisah di antara kami . Interaksi yg terjalin layaknya seorang teman dan bukanlah sebagai pembantu seorang majikan. Membuat ku kian merasa nyaman ketika mengemban tugas-tugas ku mengurusi kebutuhan rumah.


Seperti hari ini , kami berencana untuk pergi ke salah satu mall guna berbelanja kebutuhan dapur. Mengingat kulkas yg sudah kosong melompong dan stok makanan lain yg juga sudah mulai menipis . Rutinitas ini sering terjadi , dan pria berstatus majikan ku ini tak pernah lelah atau pun bosan ketika mengantarkan ku berburu kebutuhan dapur.


Seperti sebelumnya , bangun pagi telah menjadi rutinitas ku sehari-hari. Jemariku bergerak lincah , menyeduhkan segelas teh susu hangat di temani dua lembar potongan sandwich yg akan ku hidangkan sebagai menu sarapan pagi untuk Rizal.


Tok..tok..tok.. ku ketuk kan jemariku berulang di badan pintu kamar Rizal.


Namun , suasana masih saja hening tanpa adanya sahutan dari dalam ruangan itu.


"Kak , aku masuk ya !" ijin ku yg tak jua mendapatkan sebuah jawaban.


Ku putar kenop pintu perlahan , dan ku bawa diriku menyusuri ruangan bernuansa gelap itu.


Kasur yg tertata rapi , pintu kamar mandi yg terbuka , menandakan tiada si pemilik yg berada di ruangan ini.


Ku endarkan pandangan ku ke sekeliling penjuru. Kemudian terhenti pada area balkon dengan pemandangan yg belum pernah ku lihat sebelumnya.


Kubawa langkahku untuk bersandar pada besi pembatas paling ujung. Mataku mengendar , menyapu segala penjuru yg baru pertama kali ini ku lihat.


Pemandangan indah membentang luas , memanjakan mata siapapun yg melihatnya.


Dari atas sini , ku amati Rizal yg tengah duduk di tepian kolam. Tubuhnya yg basah dengan tetesan air yg masih mengucur dari rambut hitamnya. "Kak..!" pekik ku dari atas sini memanggil namanya.


"Hey , turun sini !" ucapnya melambai ke arahku.


Ku acungkan jempol ku dan segera berlarian turun menghampiri nya. Untuk sejenak netra ku terasa terpikat dengan pemandangan di hadapan mataku.


Lapisan otot perut dengan enam lapis bentuk kotak yg terlihat padat seolah menguji kekuatan kadar iman ku.


Satu cubitan kecil mendarat di pucuk hidung ku. Rizal dengan tatapan mata teduhnya tersenyum tipis melihat ekspresi ku yg sedikit berbelok.


"Nglamun apa?" godanya pura-pura tak tau.


"Apaan sih kak ! enggak lagi nglamun juga ." elak ku menghindari tatapan matanya.


"Bohong dosa loh !" cibir nya menggoda ku.


Kupalingkan wajahku kesal ."Jadi belanja nggak? udah siang ini."


"Jadi." ucapnya sembari mengacak rambut ku pelan.


Aku beringsut menjauhinya , detak jantungku mendadak berpacu ketika sentuhannya mendarat di pipiku. "Eh , ekhm , aku siap-siap dulu kak ." Kaki ku melaju pesat , berlarian menyusuri undakan anak tangga meninggalkan Rizal yg masih memandangi ku dari kejauhan.


••••••••••••


Singkat cerita.


Kami pun berangkat ke sebuah mall yg tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami.


Aku beranjak turun terlebih dahulu , sementara Rizal masih sibuk memarkirkan mobilnya di area parkiran mall.


Kutapak kan kakiku santai , sesekali ku senandung kan lirik kecil guna mengiringi langkah kaki ku.


"Hey.. tunggu yu!" pekik Rizal yg berlarian ke arahku. Nafasnya nampak tak beraturan dan keningnya nampak kuyup oleh bulir keringat.


"Tisu kak !" ucapku sembari menyerahkan benda itu kepadanya.


"Main tinggal aja sih kamu !" Ucapnya sembari menyambar tisu pemberian dari ku.


Jemari nya mengusap lembut noda keringat yg berada di area keningnya , mengelapnya berulang hingga noda itu benar-benar lenyap dari wajah manis itu. Senyumnya kembali terukir . "Makasih ." ucapnya sembari mengusap lembut puncak kepalaku.


Lagi-lagi aku terhenyak , untuk sesaat masih mematung menyaksikan langkahnya yg telah mendahului ku. Pipiku kembali menghangat di ikuti debaran aneh yg kembali hadir mengiringi irama jantungku. "Mungkinkah ini cinta ?"


•••••••••••••


Di dalam stand sayuran. Aku sibuk memilah-milah banyaknya sayur yg akan dikonsumsi selama satu pekan ke depan.


Di depan sana , rizal dengan cekatan memasukkan aneka kebutuhan lain yg sudah ku catat dalam nota kecil . Gerakannya cepat , entah karena telah hafal di luar kepala atau memang ia seorang yg cekatan. Entahlah.


"Udah selesai belum yu?" tanyanya menghampiri ku dengan isi troli yg nyaris penuh.


"Udah kok kak !" jawabku sembari mendorong troli ke meja kasir.


Kami berlalu pergi menyambangi stand yg lain. Perhatian ku sedikit tercuri ketika kami tanpa sengaja melintasi sebuah toko baju dengan keluaran model terbaru.


"Kak , temenin mampir sebentar ya !" pintaku lirih memegangi lengannya.


Mataku berbinar penuh permohonan , berharap ia tak kan menolak permintaan remeh ku.


Anggukan kecil datang dari nya . Ia tersenyum tipis kemudian menarik tangan ku memasuki toko itu.


Seperti saat ini , pria ini masih setia memegangi pergelangan tangan ku seraya memilihkan baju-baju sesuai seperti selera ku.


"Nah ! ini udah ketemu kak !" ucapku menunjukkan salah satu baju yg terpakai di sebuah patung manekin.


Kurang sedikit saja , dan jemari kecil ku ini akan berhasil menjangkau sebuah mini drees yg aku impikan.


Namun sayang , bukannya kalah atau menang , malah drees itu berakhir menjadi bahan rebutan antara aku dengan salah seorang pelanggan wanita yg kisaran usianya tak jauh berbeda dengan ku.


"Maaf mbak , ini saya duluan." ucapnya ketus memegangi sisi drees yg lain.


"Saya duluan mbak !" ucapku meninggi.


Kami masih saling berebut , tak ingin kalah atau mengalah untuk urusan fashion.


Rizal melerai pertikaian kami , menarik ku menjauh dengan kemenangan yg resmi berpihak kepada ku.


Kujulurkan lidah ku penuh ejek pada sosok gadis yg tengah menggerutu kesal di ujung sana. Nampak wajahnya memerah menahan rasa marah akan kekalahan nya dalam persaingan perebutan sebuah drees keluaran terbaru yg menjadi incaran ku.


Kami berbalik memunggungi gadis penuh amarah itu , kemudian mengantri sejenak di antrian meja kasir.


Sayup-sayup ku dengar eluhan seseorang gadis. Gadis itu nampak meracau kesal menceritakan kisahnya kepada seseorang.


Rasa penasaran ku kian tak tertahankan , hingga akhirnya ku tolehkan kepalaku mencari dari mana sumber suara ini berasal.


"Raka !" ucap ku lirih ketika mendapati pria itu sedang bersama dengan gadis yg sempat bersitegang dengan ku tadi.


Segera kupalingkan wajahku , menghindari untuk kembali berjumpa dengan mantan kekasihku . Terhitung sejak satu tahun yg lalu , aku dan dia tak lagi menjalin komunikasi. Tapi entah kenapa , hari ini dunia serasa sempit ketika tuhan kembali mempertemukan kami dalam lingkup ruang yg sama . "Mungkin ini hanyalah sebuah kebetulan belaka?"


Ku remat erat lengan kemeja Rizal. Dadaku kian berdegup cepat seiring pendengaran ku yg menangkap derap langkah kaki bersamaan dengan celotehan perempuan tadi.


Sebuah tangan menyentuh bahuku , hingga beberapa kali namun tak kunjung ku tolehkan kepala ku untuk menghadap ke arah mereka.


"Permisi , mbak !" Suara itu mengalun lembut di telinga ku. Membuat tubuh ku seketika menegang , refleks memalingkan wajah mu menghadap ke belakang.


**


Detik demi detik waktu terasa berjalan lambat. Aku dengan pandangan kosong ku ,dan Raka dengan keterkejutan nya.


Kami saling terdiam , seolah bisu tak mampu mengucap sebuah kata.


"Hay !" ucap ku dengan senyum keterpaksaan yg hadir di wajahku.


"Hay !" satu kata penuh ragu yg terucap dari bibirnya. "Ekhm , aku minta maaf mengenai insiden yg di timbulkan oleh gadis ku .Dia masih terlalu muda dan terbiasa memiliki apa yg ia mau." terangnya lirih


"Oh ! nggak apa-apa , cuma masalah kecil." ucapku sambil lalu.


Kami memutuskan untuk kembali , dan aku bergegas keluar , melangkah cepat mendahului Rizal yg menatapku penuh kebingungan.


Angan-angan ku akan masalalu kembali hadir mengisi setiap celah dan mengendarkan nya ke seluruh isi kepala ku. Membuat nama itu kembali muncul dengan segala kenangan lama yg telah terkubur tapi dalam relung hati.


Air mataku mengucur , menahan sesak akibat hadirnya perih ketika melihat pria itu bersama dengan orang lain. Langkahku kian berpacu , di iringi derap langkah kaki yg mengejar ku dari belakang.


Rizal dan Raka , keduanya seolah berpacu ingin menjangkau ku.


Dan Rizal lah yg pertama meraih bahuku dan memberikan sandaran bagi air mataku.


"Jangan pernah lari . Jadilah kuat ,dan selesaikan semuanya. Aku yakin kamu pasti bisa ." Tutur nya menyemangati ku.


"Terimakasih." ucapku sembari menghapus jejak air mata ku.


Rizal dengan lembut merengkuh bahuku."Kita pulang !"


"He-em !" angguk ku setuju.


Beru selangkah aku mulai menampakkan kaki ku , engah nafas lelah berhenti tepat di hadapan ku.


"Kita perlu bicara yu !" ucap Raka dengan nafas ter engah nya.


Aku tak bergeming dan semakin mempercepat laju kaki ku.


"Pl**ease yu ! kali ini aja." ucapnya penuh permohonan.


Tubuhku Seketika mematung di tempat ."Benarkah ? ini akan jadi yg terakhir ." batinnya dalam hati.


Ku tatap manik coklat Rizal . Pria itu sedari tadi tak pernah melepas kan genggaman nya dari tangan ku. Begitu pula dengan pandangan nya yg masih terkunci ke arahnya.


"Kak ! maaf , boleh kah aku meminta waktu privasi ku sebentar ? ada sesuatu yg harus ku selesaikan dengan nya !


"He-em ! pergilah , dan cepatlah kembali. Aku ada di parkiran mobil jika kau butuh sesuatu."