
Ku banting tubuhku ke atas ranjang, angan ku menerawang kembali ketika Rizal mengucapkan kata cemburu ketika aku memberengut kesal membahas pertemuan nya dengan seorang wanita di cafe tadi.
'Mungkinkah, aku benar-benar cemburu padanya? tapi apa alasan ku untuk berhak cemburu, sedangkan kami hanyalah sebatas teman?' pikirku bingung, mencari sebuah jawaban yg tersimpan dalam hatiku.
Suara ketuk pintu membuatku mengerjap,"Yu, kamu laper nggak?" tanya Rizal dari luar sana.
"Laper lah kak," jawabku lekas beranjak dan membukakan pintu untuknya. "Mau makan di luar ya?" tanya ku lagi
"Hmm, siap-siap aja dulu, aku tunggu di bawah," ucapnya berbalik memunggungi ku.
Aku hanya menatap nya heran, dan segera berbalik kembali menutup pintu.
Lima belas menit berlalu, aku sudah siap dengan balutan kemeja panjang yg menutupi bagian lengan ku di sertai hot pans pendek yg membalut bagian bawahku. Sangat modis dengan rambut kuncir kuda yg mengikat suraiku hingga ke atas.
Aku berjalan pelan menuruni undakan anak tangga, netra ku mengendar mencari keberadaan Rizal yg ternyata ia sedang merebahkan kepala nya di sandaran sofa.
Sesekali melihat ke arah jam dengan mata jengah seakan lelah.
"Kak," panggilku lirih sembari melambai ke arahnya.
Seketika ia menegakkan tubuhnya dan mengalihkan pandangan nya ke arahku.
Langkah nya berayun pelan semakin mendekati ku, netranya menelisik penampilan Ki dari atas kepala hingga ujung kaki ku.
"Kenapa kak, ada yg salah ya?" tanyaku terbata.
Pria itu menggeleng pelan, ia tersenyum tipis seraya mencuit kilas ujung hidungku. Menggandeng tanganku dan membawaku berjalan beriringan bersama dengan nya.
"Kamu cantik," ucapnya sembari membelai lembut jemari ku. Ake tersipu dan reflek mengalihkan pandangan ku untuk tak lagi menatapnya. Tutur katanya yg lembut dengan gombalan-gombalan receh nya mampu menggetarkan hati dan membuat jantungku kian berpacu karenanya. 'Mungkinkah, aku telah jatuh cinta?'
"Ekhm, kita mau kemana kak?" tanyaku mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
Rizal mengetuk kemudinya pelan,"Gimana kalau kita ke restoran tempat kamu kerja dulu, kita udah lama juga nggak makan di sana kan?"
Ku anggukkan kepalaku, mengiyakan rekomendasi nya untuk menikmati makan siang disana.
Mobil kami melaju pelan di atas jalanan aspal yg lumayan lengang. Hingga tak terasa akhirnya kami pun tiba di sana.
Sebuah plakat besar bernama 'Pondok Makan Pacitan', tercetak dengan besar di bagian depan. Tempat itu telah sepenuhnya berubah seiring waktu yg berlalu.
Rizal menggandeng tangan ku dan membawaku masuk ke dalam. Wajahnya nampak berbinar senang seiring genggamannya yg kian menguat di jemari ku.
Irama jantung ku kian berpacu, berdetak cepat ketika manik hitam itu menatapku penuh keteduhan."Kenapa kak?" tanya ku gugup memberanikan diri menatap kedalam matanya.
Senyumnya kembali terukir, ia hanya menggeleng kan kepalanya perlahan sembari menarik sebuah bangku untuk ku,"Duduklah," titahnya lembut mempersilahkan ku.
"Terimakasih."
Rizal memilih bangku paling ujung, tempat yg sedikit senyap jauh dari bising nya laju kendaraan yg melintas. Pria itu menopangkan dagunya dan memfokuskan pandangannya kepadaku. Saling beradu pandang, dengan pemikiran berbeda yg membesit di pikiran masing-masing.
Cukup lama menunggu , datanglah Rio sambil membawa buku menu.
Dia menatap ku intens , dan aku tersenyum ramah ke padanya.
kami berbincang sebentar, sekedar bertanya kabar dan hal kecil lain. . kami begitu asik mengobrol sampai melupakan seseorang yg sedari tadi cuma menyimak pembicaraan aku dan Rio. . matanya menyiratkan kekesalan padaku . . dia jengah karna terus terusan nggak di anggap. .
"ehm . .ehm . . maaf mas. . masih lama nggak pesenan saya. Rizal menyela pembicaraan kami. .
"sebentar pak. . segera saya bawakan ke mari pesanan anda. mohon maaf membuat anda menunggu ( sambil menyodorkan beberapa hidangan pada kami , dan Rio pun pamit ,)
Rio pun berlalu , dan kembali membawa 2 gelas juz yg kami pesan . .
kak Rizal menikmati makanan nya , begitu juga aku. kami nggak berbicara sampai makanan itu habis nggak bersisa.
kak Rizal masih diam. .
"Kak. . (masih diem)
"Ck , apaan sih kamu , kayak anak kecil aja, ( nada kesal )
"Ya Allah kak. . kamu kenapa si? nggak jelas banget tiba tiba ngambek , kayak bocah aja. .
ledek ku.
Seraya kak Rizal langsung melotot ke arahku. saat ini dia terlihat serius , dia nggak lagi bercanda , matanya menunjukkan kemarahan , dan membuat ku sedikit takut ketika melihat nya . Ku tunduk kan kepalaku pelan , "maaf ya kak , aku dah bikin kakak kesel ya hari ini ? maaf ya. . aku tadi kan cuma ngobrol sama temen aja , maaf kalo kakak nggak suka atau nggak nyaman. . . ( suara udah serak , udah pengen nangis )
Kak Rizal menghela nafas panjang.
"Udah kita pulang dulu , kita bahas di rumah . Seraya menarik tanganku untuk masuk kedalam mobil dan kami pun bergegas pulang.
Sampai di rumah aku masih tertunduk lesu.
Sementara kak Rizal masih dengan amarahnya.
"Kak aku minta maaf. Itulah ucapan yg keluar dari mulut ku.
"Sebenernya kamu sama cowok tadi ada hubungan apa ? kok pandangan mu nggak teralihkan sama sekali kalo ada dia ! jangan jangan kamu suka sama dia ? tanya rizal mulai mengintrogasi nya.
"Ehm.. itu , sebenernya dulu aku sempat suka sama dia kak ,tapi itu sebelum aku pacaran dengan Raka. jawabku lirih
Rizal membuang nafas nya kasar. .
"Terus sekarang kamu mau jadian sama dia ? begitu haa !! bentak kak Rizal.
Aku kaget dengar ucapan kak Rizal . Bahkan aku sendiri bpun belum kepikiran untuk kearah sana. Apalagi menjalin hubungan dengan Rio , masih butuh proses panjang lagi.
Aku hanya diam saja, hingga tiba tiba kak Rizal mendorong ku jatuh di sofa.
Nafas nya memburu menerpa pucuk hidung ku, dada nya berdegup kencang hingga telingaku pun dapat mendengar suara debaran dadanya
dia mencium bibir ku. . .
aku kaget setengah mati. . jantung ku berdebar kencang kayak mau lepas. . nggak bisa di ungkapkan dengan kata-kata
"perasaan apa ini ? kenapa aku juga ikut terhanyut dalam lumatan bibir nya yg manis ini ,mataku terpejam . . kami masih dalam mode kecupan manis. . cukup lama kami berciuman . .
dan aku segera mendorong lembut kak Rizal , kami masih Ter engah engah .. nafas kami memburu . .
kak Rizal menyugar rambut nya kasar. .
dia menyengkram pundak ku ,dan menatap ku serius. .
"jangan pernah lagi , , jangan lagi . aku nggak bisa liat kamu Deket sama cowok lain. .
"kenapa kak . . kakak nggak ada alasan buat ngalarang aku . . aku bebas kak. . aku juga single. . nggak apa apa kan kalo aku punya calon pacar . . jawabku nggak kalah kesal
Rizal menatap ku tajam , dan lagi lagi dia mencium bibir ku untuk sesaat , , "jadilah pacarku yu"
"apa. . . apa aku nggak salah denger kak?
"nggak yu, aku suka sama kamu, aku pengen serius sama kamu . . ( di genggam nya tangan ku erat)
"sejak kapan kak. .
"sejak kita pertama ketemu . .aku udah tertarik sama kamu. . dan itu juga alsan ku suruh kamu kerja di sini . . aku pengen terus Deket sama kamu yu . . jelas nya
"aku diam untuk sesaat .
" kasih aku kesempatan yu. . aku bisa bahagiain kamu , aku bisa gantiin posisi Raka di hati kamu yu. . please. .
kami saling memandang , , dahi kami saling ber tautan. . dan tangan Rizal masih menggenggam tangan ku.